Habis-habisan Dicecar Senat, Blinken Mengaku Tidak Tahu Soal Serangan Drone Salah Sasaran yang Tewaskan Pekerja Bantuan Afghanistan

rmol.id | Global | Published at 15/09/2021 08:06
Habis-habisan Dicecar Senat,  Blinken Mengaku Tidak Tahu Soal Serangan Drone Salah Sasaran yang Tewaskan Pekerja Bantuan Afghanistan

RMOL.Kasus serangan pesawat tak berawak yang diduga membunuh seorang pekerja bantuan Kabul berbuntut panjang.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menjadi sasaran empuk Senator Republik Rand Paul saat berusaha mengkonfirmasi kebenaran kabar yang menampar wajah Pentagon tersebut dalam sidang Senat pada Selasa (14/9) waktu setempat.

Ditekan oleh Paul, wakil dari Kentucky tentang apakah serangan 29 Agustus menewaskan seorang pekerja bantuan atau operasi ISIS-K, Blinken bersaksi bahwa pemerintahan Biden sedang meninjau insiden itu, penilaian penuh akan segera dilakukan.

"Jadi, Anda tidak tahu apakah itu pekerja bantuan atau operasi ISIS-K?" tanya Paulus kepada Blinken.

"Saya tidak dapat berbicara tentang itu dan saya tidak dapat berbicara tentang itu dalam situasi ini, dalam hal apa pun," jawab Blinken.

Pertanyaan pun berlanjut dari Paulus.

"Jadi Anda tidak tahu atau tidak mau memberi tahu kami?" tanyanya.

Eh, saya tidak tahu karena kami sedang mengkajinya, kata Blinken.

Paul kemudian menyengat Blinken dengan jelas, mengatakan: "Yah, lihat, Anda akan berpikir Anda akan tahu sebelum Anda membunuh seseorang dengan drone Predator apakah dia seorang pekerja bantuan atau dia seorang ISIS-K."

"Saya tidak tahu apakah itu benar, tetapi saya melihat foto-foto anak-anak cantik yang tewas dalam serangan itu," sambung Paul tentang laporan bahwa tujuh anak dan tiga orang lainnya juga tewas dalam serangan pesawat tak berawak itu.

Paul dengan bgeram mengatakan, jika memang drone itu ternyata salah sasaran, itu berarti mereka telah menciptakan ratusan atau ribuan teroris potensial baru.

Dia juga mengingatkan seharusnya pihak AS melakukan penyelidikan terlebih dahulu sebelum memutuskan sebuah serangan yang akhirnya berakibat fatal dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah.

"Kita tidak bisa melakukan penyelidikan setelah kita membunuh orang. Yang kita lakukan adalah, kita menyelidiki dulu dengan cermat sebelum membunuh orang," tegasnya.

Sebelumnya The New York Times menulis laporan yang mengejutkan yang datang dari hasil investigasi, bahwa serangan drone AS di Kabul pada 29 Agustus lalu, yang semula diklaim Pentagon menewaskan anggota ISIS-K, ternyata korbannya adalah pekerja bantuan Afghanistan yang dipekerjakan oleh sebuah LSM Amerika beserta dua anggota keluarganya dan tujuh orang anak.

Surat kabar itu juga menemukan bahwa bertentangan dengan klaim pemerintah AS, bahwa tidak ada bukti ledakan sekunder yang menunjukkan bahwa mobil itu dicurangi dengan bahan peledak.

Pekerja tersebut, Zemari Ahmadi dari US NGO Nutrition & Education International, telah memuat kontainer berisi air ke dalam mobilnya.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan pada Senin (13/9) bahwa dia tidak dapat mengkonfirmasi siapa yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak, tetapi dia mengkonfirmasi serangan itu dilakukan untuk mencegah serangan yang akan segera terjadi di bandara.

Serangan itu terjadi tiga hari setelah bom bunuh diri ISIS-K di bandara Kabul, yang menewaskan 13 tentara AS dan 169 warga Afghanistan. []

Artikel Asli