Taliban Sebut Tugas Perempuan di Afghanistan Melahirkan, Tak Bisa Jadi Menteri

limapagi.id | Global | Published at 13/09/2021 10:30
Taliban Sebut Tugas Perempuan di Afghanistan Melahirkan, Tak Bisa Jadi Menteri

LIMAPAGI - Seorang juru bicara Taliban dalam sebuah wawancara mengatakan, perempuan di Afghanistan tidak bisa menjadi menteri. Pernyataan itu diungkapkan juru bicara Taliban Sayed Zekrullah Hashimi kepada TOLO News.

Perempuan tidak bisa menjadi menteri, seperti Anda meletakkan sesuatu di lehernya yang tidak dapat dibawanya. Perempuan tidak perlu berada di kabinet, mereka harus melahirkan," kata Hashimi kepada TOLO News dilansir dari NDTV , Senin, 13 September 2021.

Hashimi juga menilai, perempuan yang berunjuk rasa di jalan-jalan tidak mewakili suara seluruh perempuan di Afghanistan. Perempuan Afghanistan, kata Hashimi, adalah yang melahirkan rakyat Afghanistan dan mendidik mereka tentang etika Islam.

"Apa yang dilakukan seorang perempuan, dia tidak bisa melakukan pekerjaan pelayanan. Anda meletakkan sesuatu di lehernya yang tidak bisa dia bawa," ujarnya.

Sebelumnya, Taliban mengumumkan kabinet yang semuanya merupakan laki-laki untuk pemerintahan sementara pada Selasa, 7 September 2021.

Sejak pengambilalihan Kabul pada 15 Agustus, kelompok yang dikenal dengan rezimnya yang menindas 20 tahun lalu ini, mencoba menjauhkan diri dari kebijakan lamanya yang mengecualikan perempuan dari pekerjaan dan pendidikan.

Namun, ada ketidaksesuaian antara kata-kata dan tindakannya. Taliban mengatakan, di bawah aturan baru, perempuan dapat bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Perempuan juga dapat belajar di universitas di ruang kelas yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, tetapi mereka harus mengenakan jubah abaya dan niqab yang menutupi sebagian besar wajah.

Artikel Asli