Kapal Tiongkok Berada Dekat Perairan Jepang

koran-jakarta.com | Global | Published at 13/09/2021 05:21
Kapal Tiongkok Berada Dekat Perairan Jepang

TOKYO - Kementerian Pertahanan Jepang pada Minggu (12/9) menyatakan bahwa sebuah kapal selam yang diduga milik Tiongkok telah terlihat berada perairan dekat dengan kepulauan selatan di wilayah Jepang. Laporan itu diperkirakan akan memicu kembali bangkitnya ketegangan di wilayah Pasifik.

"Angkatan Laut Jepang pada Jumat (10/9) pagi mendeteksi adanya kapal selam yang bergerak ke arah barat laut tak jauh dari wilayah perairan teritorial dekat Pulau Amami Oshima, bagian dari wilayah Prefektur Kagoshima," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Jepang. "Sebuah kapal perusak Tiongkok juga terlihat tak jauh dari kapal selam itu," imbuh kementerian itu.

Dalam pengumuman Kementerian Pertahanan Jepang pada Minggu mengatakan bahwa Pasukan Bela Diri Maritim Jepang telah mengidentifikasi kapal-kapal itu berada di zona yang tak berjauhan, yang berada di luar perairan teritorial di mana kapal-kapal diharuskan untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri.

"Namun, Menteri Pertahanan Jepang, Nobuo Kishi, menginstruksikan stafnya untuk mengumpulkan informasi dan menjaga pengawasan dengan meningkatkan kewaspadaan," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Jepang.

"Kapal selam itu terus berada di bawah air, bergerak ke arah barat di laut dekat Pulau Yokoate," kata kementerian itu.

Menahan Diri

Saat ini Jepang dan Tiongkok bersengketa atas kepemilikan kepulauan tak berpenghuni di Laut Tiongkok Timur (LTT) yang oleh Tokyo disebut sebagai Kepulauan Senkaku dan disebut oleh Beijing sebagai Kepulauan Diaoyu.

Selama beberapa tahun terakhir, Tokyo telah mengeluhkan masuknya kapal-kapal Tiongkok ke wilayah perairan teritorialnya dan keberadaan kapal-kapal tersebut dekat pulau-pulau sengketa.

Diplomat senior Tiongkok, Wang Yi, saat kunjungannya ke Vietnam dalam tur perjalanan di wilayah Asia tenggara menyatakan agar AS dan Jepang harus menahan diri untuk melakukan aksi unilateral terkait sengketa di Laut Tiongkok yang bisa memperumit dan meningkatkan konflik sengketa. CNA/I-1

Artikel Asli