Mantan Presiden Afghanistan Minta Maaf Usai Melarikan Diri, Bantah Bawa Kabur Uang Sebesar Rp2,4 Triliun

okezone | Global | Published at 09/09/2021 12:50
Mantan Presiden Afghanistan Minta Maaf Usai Melarikan Diri, Bantah Bawa Kabur Uang Sebesar Rp2,4 Triliun

KABUL - Mantan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani meminta maaf kepada rakyat Afghanistan setelah melarikan diri untuk berlindung di Uni Emirat Arab (UEA).

"Meninggalkan Kabul adalah keputusan tersulit dalam hidup saya," terangnya.

Dia mengaku menyesal tidak dapat mengakhiri masalah di negaranya dengan cara yang berbeda.

Dia mengatakan dia tidak bermaksud untuk meninggalkan rakyatnya tetapi "itu adalah satu-satunya cara".

Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan di Twitter pada Rabu (8/9), Ghani mengatakan dia tidak punya pilihan selain meninggalkan negara itu untuk menghindari kekerasan yang meluas.

"Saya pergi atas desakan keamanan istana, yang menyarankan saya untuk tetap mengambil risiko memicu pertempuran jalanan yang sama yang dialami kota selama perang saudara tahun 1990-an," tulisnya.

Dia menambahkan jika dia melakukannya untuk menyelamatkan Kabul dan enam juta warganya.

Dia mengatakan dia telah mengabdikan 20 tahun untuk membantu Afghanistan menjadi "negara yang demokratis, makmur dan berdaulat".

Ghani juga membantah tuduhan "tidak berdasar" bahwa dia telah melakukan perjalanan ke UEA dengan membawa uang tunai sekitar USD169 juta (Rp2,4 triliun).

Dia bahkan mengatakan dirinya bahkan tidak diizinkan melepas sandal dan memakai sepatu nya.

Ghani tiba-tiba meninggalkan Afghanistan saat gerilyawan Taliban menguasai negara itu pada 15 Agustus lalu.

Mantan presiden berusia 72 tahun, yang telah menghadapi kritik keras dari politisi Afghanistan lainnya karena meninggalkan negara itu, mengatakan dia akan berbicara tentang peristiwa menjelang kepergian dirinya dalam waktu dekat.

Sebelumnya, melalui siaran langsung di Facebook pada 18 Agustus lalu, Ghani mengatakan dia "dipaksa" meninggalkan Afghanistan oleh tim keamanannya karena "ada kemungkinan jika dirinya akan ditangkap dan dibunuh".

Dia mengatakan bahwa ketika Taliban memasuki istana presiden di Kabul, mereka mulai mencari dirinya dari kamar ke kamar.

Awal pekan ini Taliban, yang menguasai Afghanistan dalam serangan besar-besaran lebih dari tiga minggu lalu, mengumumkan pembentukan pemerintah sementara yang semuanya laki-laki untuk memerintah negara itu.

Pada Rabu (8/9), puluhan wanita berkumpul di Kabul dan provinsi Badakhshan di Afghanistan timur laut memprotes kabinet baru, dengan mengatakan mereka tidak akan menerima pemerintahan tanpa menteri wanita.

Artikel Asli