AS dan Turki Deg-degan Serem… Kabinet Taliban Diisi Buronan Terorisme

rm.id | Global | Published at 09/09/2021 06:40
AS dan Turki Deg-degan Serem… Kabinet Taliban Diisi Buronan Terorisme

Amerika Serikat (AS) dan Turki was-was dengan nama jajaran pejabat dan anggota kabinet yang ditunjuk Taliban. Sebab, beberapa di antaranya masuk daftar buruan Biro Penyelidikan Federal (FBI) AS terkait aktivitas terorisme.

Setelah menguasai Istana Kepresiden di Kabul 15 Agustus lalu, Taliban kini membentuk pemerintahan baru. Dikutip Associated Press , Rabu (8/9), Taliban mengumumkan susunan anggota kabinetnya, Selasa malam (7/9).

Pemimpin tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada mengatakan, kelompoknya berkomitmen akan menjalankan pemerintahan yang mengikuti aturan internasional. Namun, Afghanistan akan menerapkan syariat Islam sebagai landasan hukum di negara tersebut.

Di antara jajaran pejabat yang ditunjuk, Hasan Akhund dipercaya sebagai Perdana Menteri (PM) Afghanistan. Sebelumnya, dia memang pernah menjabat Menteri Luar Negeri serta Wakil Perdana Menteri ketika Taliban berkuasa. Dia dikenai sanksi PBB atas perannya di pemerintahan saat itu.

Ada lagi Sirajuddin Haqqani. Ia ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri. Namanya masuk dalam daftar kelompok teroris AS. Sirajuddin juga salah satu orang yang paling dicari FBI atas tuduhan keterlibatan dalam serangan bom bunuh diri serta hubungannya dengan Al Qaeda. Bahkan FBI mengadakan sayembara senilai 10 juta dolar AS untuk menangkapnya.

Kementerian Luar Negeri AS menyatakan keprihatinan dengan nama-nama anggota kabinet Taliban. Apalagi, belum ada sosok perempuan di kabinet tersebut. Nama-nama itu ditudingbelum mencerminkan janji Taliban dalam membentuk pemerintahan yang inklusif.

Kami mencatat daftar nama tersebut terkesan eksklusif. Yang menjabat terdiri dari individu yang menjadi anggota Taliban atau rekan dekat mereka dan tak ada perempuan, pernyataan Kementerian Luar Negeri, dikutip Reuters , Selasa (7/9).

Taliban berdalih, mereka menunjuk beberapa anggotanya di posisi strategis untuk sementara. Mereka berjanji akan memberikan posisi yang adil untuk perempuan di kursi menteri danpejabat tinggi. Namun, AS tidak percaya dengan janji manis itu.

 

Kami telah memperjelas harapan bahwa rakyat Afghanistan layak mendapatkan pemerintahan yang inklusif, tegas Akhund yang menjadi PM baru Afghanistan.

Namun, banyak pihak yang skeptis dengan pemerintahan baru Afghanistan. Termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Menurutnya, Turki akan mengikuti dengan cermat perkembangan di Afghanistan.

Seperti yang Anda ketahui sekarang, kabinet sementara telah diumumkan. Kami tak tahu berapa lama kabinet sementara ini akan bertahan. Tugas kami sekarang, mengikuti proses ini dengan hati-hati, ujar Erdogan kepada para wartawan.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu menyerukan agar pihak internasional tak terburu-buru mengakui legitimasi Taliban. Tak perlu buru-buru. Ini saran kami untuk seluruh dunia. Kita harus bertindak bersama dengan komunitas internasional, katanya.

Cavusoglu juga tampak lebih berhati-hati dan belum mengungkapkan sikap Turki terhadap pemerintahan Taliban. Turki, kata dia, saat ini bekerja sama dengan Qatar dan AS untuk menyusun persyaratan operasional bandara Kabul.

Bandara itu akan diprioritaskan untuk bantuan kemanusiaan dan mengevakuasi warga sipil yang ingin keluar dari Afghanistan.

Cavusoglu mengatakan, keamanan masih menjadi masalah utama. Ia menekankan, penerbangan komersial tak bisa dilanjutkan sampai kondisinya cukup aman.

Kemlu AS pun terus menyerukan perjalanan aman bagi warganya yang ingin meninggalkan Afghanistan. [DAY]

Artikel Asli