Fokus Kebijakan Luar Negeri AS Pasca-Afganistan pada Asia Tenggara?

Global | dw.com | Published at Rabu, 01 September 2021 - 14:45
Fokus Kebijakan Luar Negeri AS Pasca-Afganistan pada Asia Tenggara?

Krisis penarikan pasukan AS dari Afganistan selama dua minggu belakangan membuat kebijakan luar negerinya mendapat kritikan keras dan juga menimbulkan pertanyaan tentang proyeksi kekuasaan AS di masa mendatang.

Di Asia Tenggara, AS telah mulai menopang sekutu berhadapan dengan Cina. Minggu lalu, Wakil Presiden Kamala Harris mengakhiri kunjungan selama seminggu dari Singapura dan Vietnam yang ia tegaskan sebagai komitmen Washington pada Asia Tenggara.

Namun perjalanan Harris di tengah kegagalan terbesar kebijakan luar negeri AS dalam beberapa dekade.

Beberapa pemerintah Asia Tenggara dipaksa untuk segera mengevakuasi warganya dari Afganistan buntut dari kebijakan Washington, dan adanya kecemasan gerakan Islam radikal di Afganistan yang bisa memperparah ancaman serangan teroris di Asia Tenggara.

Mengawasi kebijakan AS

Saat rapat dengan Harris pada 23 Agustus, Perdana Menteri Singapura Lee Hsein Loong mengatakan bahwa hal yang mempengaruhi persepsi dan komitmen AS terhadap negara tersebut akan menjadi sikap AS ke depannya.

Namun dengan adanya bangkitnya ekonomi Asia Tenggara, dan sikap tegas Cina, Asia Tenggara menjadi sebuah kawasan penting bagi Washington, yang juga disebut sebagai poros kebijakan Asia oleh pemerintahan Obama tahun 2011.

Asia Tenggara selalu mengkhawatirkan adanya penempatan kekuatan AS di kawasan tersebut, namun saya tidak merasa kalau Afganistan meningkatkan kekhawatiran mereka, sebut Bonnie Glaser, Direktur Program Asia dari German Marshall Fund of the United States.

AS merupakan mitra perekonomian dan keamanan utama bagi kebanyakan negara di Asia Tenggara, dan bersekutu dengan Thailand dan Filipina, serta kerja sama pertahanan dengan Singapura dan Vietnam, salah satu rekan utama mereka di Asia saat ini.

AS memutuskan untuk mendukung Vietnam, Malaysia dan Indonesia dalam persengketaan wilayah Laut Cina Selatan dengan Cina.

Namun dalam beberapa minggu belakangan, penarikan pasukan yang cepat dari Afganistan menjadi pertimbangan bagi beberapa negara terkait sikap Washington jika terjadi konflik perang dengan Cina.

Asia Tenggara bukan Afganistan

Namun, sebagian besar pemerintah di Asia Tenggara mewaspadai ketertarikan AS di kawasan tersebut jauh berbeda dengan apa yang ingin dicapainya di kawasan lain.

Ketika invasi AS ke negara seperti Afganistan untuk menangkal teroris dan pembangunan, sementara di Asia, kepentingan AS tertuju pada peningkatan hubungan dengan negara yang sudah berhubungan dekat dan stabil.

Lebih lanjut, tugas AS di Afganistan bertujuan untuk mengamankan negara dan membantu kelompok lemah dan miskin.

Sementara Asia Tenggara merupakan kawasan bagi negara yang perkembangan ekonominya melesat di cepat di dunia, yang menguntungkan AS. Blok Asia Tenggara merupakan mitra perdagangan keempat terbesar bagi Amerika, menurut data pemerintah AS.

Asia Tenggara jadi perhatian AS?

Beberapa analis Asia Tenggara tengah mengamati AS dalam penarikan pasukannya dari Afganistan yang mungkin dapat membuat AS mengintervensi lebih lanjut kawasan penting lainnya.

Ketika pemerintahan Biden dimulai, mereka menyatakan bahwa berencana untuk mengalibrasi ulang hubungan dengan Asia Tengah dan Timur Tengah hingga Indo-Pasifik, ungkap Chong Ja Ian, profesor ilmu politik National University of Singapore.
Penarikan dari Afganistan merupakan bagian dari rencananya, kecuali pelaksanaannya yang buruk, tambahnya kepada DW.

Yang terpenting bagi pemerintah di Asia Tenggara ada seberapa cepatnya AS bertindak dalam membuktikan ucapannya mengenai status Indo-Pasifik yang dianggapnya menjadi pusat kebijakan luar negeri Amerika, jelas Chong.

Kalau saja penarikan dari Afganistan lebih efektif dan memperkuat kalibrasi ulang AS dengan Asia Tenggara, mungkin AS dapat mempertahankan kehadirannya dan memperluas opsinya, dan membatasi (pengaruh Cina) dalam bertindak, di kawasan tersebut, tambahnya.

Banyak pemerintah Asia yang kebingungan dengan pemerintahan Trump sebelumnya, terlebih saat dia menghina kawasan Asia dengan tidak mengirimkan pejabat senior pada pertemuan ASEAN tahun 2019.

Pada bulan-bulan pertama pemerintahan Biden, AS mendapat komplain bahwa AS tidak tertarik dengan kawasan tersebut, kemungkinan inilah alasan kunjungan Wakil Presiden Harris pada akhir Agustus lalu.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk menjelaskan pesan pemerintahan Biden-Harris pada dunia: Amerika bangkit kembali, dalam sebuah pernyataan dari kantor Wakil Presiden Harris sebelum kunjungannya ke Vietnam dan Singapura.

Kerja sama kami dengan Singapura, di Asia Tenggara, dan seluruh Indo-Pasifik merupakan prioritas utama bagi AS, sebut Harris saat berada di negara bagian.

Serupa dengan kunjungan Harris, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin juga telah mengunjungi Singapura, Filipina dan Vietnam pada July lalu. Pada Mei, Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman mengunjungi Indonesia, Thailand dan Kamboja. Dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga telah hadir dalam pertemuan para Menteri blok ASEAN.

Penarikan dari Afganistan membuktikan dengan jelas pada Asia tentang ketidakpastian komitmen AS. Kata Yun Sun, Wakil Direktur Program Asia Stimson Center di Washington. Namun Asia tenggara yakin bahwa AS tidak akan bisa menarik diri dari Asia Tenggara, jelasnya pada DW.

AS galang sekutu lawan Cina

Ada sebuah fakta bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan penting dari pertikaian AS dan Cina.Dari sudut pandang AS, sangat tidak realistis untuk pergi dari Asia Tenggara, secara geografis, ekonomi, sejarah, dan hubungan sosial, yang saat ini ditambah dengan kompetisi bersama Cina, jelas Sun. Dalam kerangka tersebut, Asia Tenggara berdampingan dalam kompetisi itu, tambahnya.

Hal tersebut bisa disikapi dengan dua cara bagi para pemerintah di Asia Tenggara. Karena Asia Tenggara merupakan wilayah integral dalam persaingan Washington dan Beijing, terutama dalam isu sengketa wilayah di Laut Cina Selatan dan konflik di Sungai Mekong, pemerintah Asia Tenggara dapat menjaga hubungan dengan Washington.

Asia Tenggara ingin AS dan Cina bersaing untuk mendapatkan perhatian mereka, namun negara-negara di kawasan tersebut tidak ingin dipaksa memilih (antara keduanya), jelas Sun.

Namun, karena beberapa negara cemas jika AS hanya fokus dengan mereka karena Cina, Kekuasaan AS juga bisa berkurang jika Washington mengubah persepsi tentang Cina sebagai lawan utama, tambah analis.

(mh/hp)

Artikel Asli