Inflasi Jerman Melonjak ke Level Tertinggi dalam 25 Tahun

Global | dw.com | Published at Rabu, 01 September 2021 - 08:32
Inflasi Jerman Melonjak ke Level Tertinggi dalam 25 Tahun

Inflasi Jerman terus meningkat pada bulan Agustus. Kantor Statistik Federal Jerman mengumumkan pada Senin (30/08) bahwa inflasi naik 3,9% dari tahun ke tahun, menurut perhitungan awal.

Angka ini merupakan inflasi tertinggi yang tercatat di Jerman dalam lebih dari 25 tahun. Inflasi tahunan terakhir kali yang lebih tinggi dari angka ini pernah terjadi pada Desember 1993, yaitu 4,3%.

Inflasi di negara dengan ekonomi terbesar Eropa ini telah meningkat selama berbulan-bulan, karena didorong oleh kenaikan harga energi dan pangan, serta penarikan pengurangan sementara pajak pertambahan nilai (PPN) yang bertujuan untuk mengurangi dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19 tahun lalu dengan mendorong konsumsi domestik.

Penurunan PPN tersebut berlaku mulai 1 Juli hingga 31 Desember 2020.

Para ekonom memperkirakan inflasi akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Beberapa ekonom memproyeksikan tingkat inflasi setinggi 5%, tetapi mereka melihatnya sebagai fenomena sementara.

"Kenaikan saat ini kemungkinan berlangsung sementara," ujar Christine Volk, kepala ekonom di pemberi pinjaman publik KfW, kepada kantor berita AFP.

Volk mengatakan pengembalian inflasi di bawah target Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 2% kemungkinan besar terjadi, tetapi memperingatkan bahwa kekurangan komponen utama seperti chip komputer dapat berdampak pada keuangan konsumen, karena perusahaan cenderung meneruskannya dengan biaya yang lebih tinggi, setidaknya sebagian."

Akankah hanya bersifat sementara?

Inflasi yang lebih tinggi, yang berarti kenaikan harga di seluruh perekonomian, akan melemahkan daya beli konsumen. Dengan kata lain, uang di sakumu hanya mampu membeli lebih sedikit.

Dalam kasus hiperinflasi, harga naik 50% atau lebih per bulan. Pada 1920-an, hiperinflasi ekstrem di Jerman menghancurkan ekonomi dan memicu ketidakstabilan politik.

Namun, para gubernur bank sentral mengatakan kenaikan harga saat ini adalah dampak sementara dari gangguan ekonomi yang disebabkan oleh krisis kesehatan global akibat pandemi virus corona.

Rantai pasokan terganggu oleh permintaan awal yang menimbulkan kewalahan dan membuat harga menjadi tidak stabil.

Mereka berpendapat bahwa faktor-faktor yang mendorong kenaikan harga akan hilang begitu ekonomi global kembali normal, bisnis yang dilanda pandemi kembali ke kapasitas penuh dan masalah rantai pasokan diselesaikan. Meskipun beberapa pihak lainnya skeptis.

Mereka memperingatkan bahwa inflasi yang tinggi mungkin bertahan lebih lama dari yang diperkirakan para bank sentral saat ini.

Apakah inflasi berakibat baik atau buruk?

Banyak ekonom yang mendukung target inflasi rendah hingga sedang, yakni sekitar 2% per tahun. Ketika inflasi menembus angka itu, beberapa pihak diuntungkan sementara yang lain dirugikan.

Brigitte Granville, seorang profesor ekonomi di Queen Mary University, London, mengatakan kepada DW pada bulan Juli bahwa inflasi biasanya dianggap sebagai masalah ketika melewati 5%.

Jika inflasi menyebabkan suatu mata uang menurun, maka hal itu dapat menguntungkan eksportir dengan membuat barang-barang mereka lebih terjangkau jika dihargai dalam mata uang lain.

Inflasi juga dapat meningkatkan margin keuntungan dan mengurangi utang secara riil, serta dapat menguntungkan peminjam karena nilai utang mereka yang disesuaikan dengan inflasi menyusut.

Namun, inflasi yang lebih tinggi cenderung merugikan penabung karena mengikis daya beli uang yang mereka simpan. Orang yang memegang aset dalam mata uang, seperti uang tunai atau obligasi, mungkin juga tidak menyukai inflasi, karena mengikis nilai sebenarnya dari kepemilikan mereka. (pkp/ha)

Artikel Asli