Dubes Belanda Lambert Grijns, Bicara Soal Atasi Stunting Dan Pernikahan Dini

Global | rm.id | Published at Rabu, 01 September 2021 - 07:59
Dubes Belanda Lambert Grijns, Bicara Soal Atasi Stunting Dan Pernikahan Dini

Stuntingatau gagal tumbuh kembang, serta pernikahan usia muda, merupakan salah satu masalah yang masih harus dihadapi Indonesia.

Duta Besar Belanda untuk Republik Indonesia Lambert Grijns pun memberikan sejumlah saran pada Indonesia untuk mengatasi masalah tersebut.

Dia berbicara dalam dalam acara virtual Ambassador Talks with the Embassy of the Kingdom of the Netherlands, Kamis (26/8). Acara ini terkait kerja sama Badan Kependudukan dan Ke luarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan Kedutaan Besar Belanda, untuk mengatasi sejumlah permasalahan dalam bidang kesehatan di Indonesia, seperti perkawinan anak dan stunting .

Berdasarkan data BKKBN, angka stunting di Indonesia menurun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 27,7 persen pada 2019. Namun angka tersebut belum mencapai standar Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), yaitu 20 persen.

Grijns mengatakan, pihaknya sangat mendukung Indonesia untuk dapat mengatasi permasalahan stunting . Ia juga memuji program Pemerintah seperti mengurangi perkawinan anak. Indonesia sudah berada pada track yang benar, kata Lambert.

Dia mengatakan, penuntasan masalah stunting harus optimal, karena merupakan masalah yang kompleks. Karena tidak hanya terkait gizi, tapi juga tempat tinggal dan edukasi.

Ia juga mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang sangat mendukung pemberian ASI kepada bayi, terutama pada 1.000 hari pertama pertumbuhan anak.

"Di Indonesia, saya melihat ASI sangat ditekankan dan saya ingin menekankan betapa pentingnya hal ini, ujar dia.

Selanjutnya, Lambert memberikan saran kepada Pemerintah Indonesia, supaya lebih banyak melakukan sosialisasi, bahwa ibu yang berusia terlalu muda merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan naiknya angka stunting . Kendati demikian, ibu-ibu muda tersebut tetap harus dipastikan mereka siap.

Karena kesehatan ibu dan anak merupakan hal penting. Tantangannya, banyak ibu yang usianya terlalu muda, kata Grijns.

Untuk menghadapi masalah itu, kata dia, Pemerintah perlu memberikan informasi-informasi seputar kehamilan, hubungan seksual, pentingnya jarak keha mil an dan Keluarga Berencana (KB), mulai dari tingkat bawah, yak ni melalui Puskesmas dan bidan.

Dia menambahkan, Pemerintah juga perlu memasukkan informasi-informasi terkait kese hatan reproduksi, melalui media yang ada. Atau dimasukkan ke materi pembelajaran dalam dunia pendidikan.

Di negaranya, materi itu dimasukkan ke dalam sistem pendidikan.Mengenai kesehatan seksual, reproduksi. Ini bagian kurikulum pendidikan kami, katanya.

Selanjutnya, ia menyarankan Pemerintah untuk aktif melakukan kegiatan dengan sejumlah organisasi non pemerintah (NGO) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Tujuannya, untuk menggalakkan edukasi seputar bahaya menikah muda, dan akibat anak lahir stunting .

Pada kesempatan itu, Dubes Indonesia untuk Belanda Mayerfas mengatakan, dia mendukung kerja sama kedua negara dalam menekan angka stunting .

Mayerfas mengatakan, selain memiliki berbagi latar belakang sejarah, Belanda juga merupakan salah satu negara yang terdepan dalam teknologi kesehatan. Pengetahuan atau solusi perawatan kesehatan terpadu ini, memberikan potensi besar untuk mempromosikan kemitraan inovatif di sektor yang diselenggarakan dengan Indonesia. Termasuk intervensi kesehatan yang diperlukan untuk mengatasi stunting , kata dia.

Pada November 2018, lanjut Mayerfas, Indonesia dan Belanda telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk mempromosikan perusahaan kesehatan bilateral. MoU itu dapat dijadikan sebagai wadah untuk membahas stunting dan kesehatan reproduksi.

Melalui mekanisme penggabungan kelompok kerja kesehatan, kedua negara dapat mengelaborasi kepentingan bersama dan potensi kerja sama antara Indonesia dan Belanda, pungkas Mayerfas. [ PYB ]

Artikel Asli