Sampah Plastik Ancam Migrasi Spesies di Asia-Pasifik

Global | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 01 September 2021 - 05:22
Sampah Plastik Ancam Migrasi Spesies di Asia-Pasifik

PARIS - Dari lumba-lumba air tawar yang terancam punah karena bahaya ditenggelamkan oleh jaring ikan yang dibuang sembarangan, hingga gajah yang mengais-ngais sampah, spesies hewan yang bermigrasi termasuk di antara yang paling rentan terhadap polusi plastik. Informasi itu tercantum dalam sebuah laporan PBB di kawasan Asia-Pasifik yang dirilis pada Selasa (31/8) seraya menyerukan tindakan yang lebih besar untuk mengurangi limbah.

Partikel plastik telah menyusup bahkan ke wilayah yang paling terpencil dan tampak murni di planet ini, dengan fragmen kecil ditemukan di dalam ikan di ceruk terdalam lautan dan kini bahkan telah mencemari es laut Kutub Utara.

Makalah oleh Konvensi PBB tentang Konservasi Spesies Migrasi Hewan Liar (CMS) berfokus pada dampak plastik pada spesies air tawar di sungai dan pada hewan darat dan burung, yang menurut para peneliti sering diabaikan sebagai korban krisis sampah umat manusia yang meluas.

Dikatakan bahwa karena makhluk-makhluk ini menghadapi lingkungan yang berbeda, termasuk daerah industri dan tercemar, dimana mereka cenderung berisiko lebih tinggi terkena plastik dan kontaminan terkait.

Para peneliti memperkirakan bahwa 80 persen plastik yang berakhir di lautan berasal dari darat dengan sungai dianggap memainkan peran kunci dalam membawa limbah ke laut.

Laporan itu muncul hanya beberapa hari menjelang pertemuan puncak utama Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), yang akan mencakup mosi yang menyerukan diakhirinya polusi plastik laut pada 2030.

"Tindakan untuk mengatasi masalah global ini masih jauh dari apa yang diharapkan," kata Sekretaris Eksekutif CMS, Amy Fraenkel. "Fokusnya sejauh ini pada pembersihan di lautan kita, tetapi itu sudah terlambat dalam prosesnya. Kita perlu fokus pada solusi dan pencegahan polusi plastik di hulu," imbuh dia.

Pentingnya Strategi

Laporan PBB menyoroti dua wilayah yaitu lembah sungai Gangga dan Mekong, yang bersama-sama menyumbang sekitar 200.000 ton polusi plastik ke Samudra Hindia dan Samudra Pasifik setiap tahun.

Laporan itu juga mengatakan bahwa burung laut yang bermigrasi seperti Albatros Kaki Hitam dan Albatros Laysan, mungkin tidak bisa membedakan plastik dari mangsanya saat terbang di atas lautan dan secara tidak sengaja dapat memakan limbah plastik yang mengambang.

"Sementara di daratan, Gajah Asia juga terlihat mengais-ngais di tempat pembuangan sampah di Sri Lanka dan makan plastik di Thailand," imbuh laporan itu.

Laporan ttu juga menekankan bahwa spesies di Asia-Pasifik menghadapi banyak ancaman, termasuk hilangnya habitat, penangkapan ikan yang berlebihan, polusi industri dan perubahan iklim.

Pada akhir laporan itu diserukan pentingnya strategi untuk mencegah plastik dibuang ke lingkungan, mengurangi limbah melalui desain dan daur ulang yang lebih baik. AFP/I-1

Artikel Asli