Loading...
Loading…
Kisah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, dari Menduduki Kekuasaan hingga Kabur ke Uni Emirat

Kisah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, dari Menduduki Kekuasaan hingga Kabur ke Uni Emirat

Global | inewsid | Kamis, 19 Agustus 2021 - 14:54

KABUL, iNews.id - Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dipastikan berada di Uni Emirat Arab (UEA), menyudahi spekulasi soal keberadaannya di saat negara membutuhkan sosok pemimpin di tengah gejolak. Setelah UEA mengonfirmasi keberadaannya, Ghani muncul dalam rekaman video untuk menjawab semua pertanyaan soal keputusannya ke luar negeri.

Dia meninggalkan Afghanistan pada Minggu (15/8/2021) saat Taliban memasuki Kabul. Pejabat di Kementerian Dalam Negeri Afghanistan saat itu sempat mengonfirmasi Ghani terbang ke Tajikistan untuk alasan keamanan.

"Saya harus keluar dari Afghanistan untuk mencegah pertumpahan darah dan kehancuran di Kabul," kata Ghani, dalam rekaman video.

Dia melanjutkan, kepergiannya hanya membawa barang-barang seadanya. Fokusnya saat itu adalah keamanan karena Taliban sudah berada di Kabul. Seorang pejabat keamanan memperingatkannya saat itu jangan sampai nasibnya sama dengan presiden sebelumnya, Mohammad Najibullah, yang dieksekusi Taliban pada 1996.

"Mereka masuk dari kamar ke kamar untuk mencari saya. keinginan mereka adalah, apa pun yang terjadi 25 tahun lalu akan terulang kembali. Presiden Afghanistan sekali lagi akan digantung di depan mata publik dan sejarah memalukan seperti itu akan terulang kembali," tuturnya, seperti dilaporkan kembali Bloomberg, Kamis (19/8/2021).

Sebelum menjadi presiden pada 2014, Ghani menghabiskan sebagian besar hidupnya mempelajari bagaimana mendorong pertumbuhan di negara-negara miskin. Dia juga ikut menulis buku \'Fixing Failed States: A Framework for Rebuilding a Fractured World\'.

Pemegang gelar doktor Universitas Columbia, Amerika Serikat, itu juga mengajar di beberapa kampus elite Negeri Paman Sam sebelum bertugas di Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Lebih lanjut dalam video itu dia membantah tuduhan Kedutaan Besar Rusia di Kabul yang menyebutnya kabur dengan membawa uang tunai seisi helikopter. Dia menuju bandara di Kabul dengan empat mobil berisi uang tunai yang kemudian dipindahkan ke helikopter.

Tuduhan saya membawa lari uang itu sepenuhnya tidak berdasar, itu semua adalah kebohongan, tuturnya.

Menghabiskan banyak waktu di luar negeri lalu terjun ke pemerintahan justru menjadi bumerang baginya. Ghani memang orang Pashtun, etnis mayoritas di Afghaistan, namun tetap dipandang sebagai orang luar yang tidak bisa menyatukan faksi-faksi berbeda. Oleh karena itu dia semakin terisolasi dari waktu ke waktu.

Usai invasi AS pada 2001, dia kembali ke Afghanistan untuk pertama kali atau setelah lebih dari 25 tahun. Setelah itu dia menjabat menteri keuangan selama 2 tahun di bawah kepemimpinan Presiden Hamid Karzai.

Kariernya di masa awal moncer bukan karena dukungan dari dalam tapi dari luar negeri, menjadi orang kepercayaan lembaga-lembaga donor internasional. Di samping itu dia terus menulis opini di surat kabar serta berbicara di konferensi. Bahkan, puncaknya dia disebut-sebut sebagai calon Sekretaris Jenderal PBB.

Setelah itu dia sempat mencalonkan diri sebagai presiden pada 2009, namun gagal menang. Ghani lalu bergabung dengan beberapa politisi kenamaan Afghanistan, termasuk panglima perang Abdul Rashid Dostum, dan memenangkan jabatan presiden 5 tahun kemudian.

Ada beberapa pernyataannya yang menjadi blunder semasa menjabat presiden. Salah satunya dia mengatakan pasukan keamanan Afghanistan akan mengalahkan Taliban sehingga pasukan koalisi yang dipimpin AS bisa meninggalkan negaranya pada 2021.

Analisis bahwa pasukan koalisi keluar tahun ini memang tepat, tapi alasannya bukan karena Taliban berhasil dikalahkan, justru sebaliknya.

Selain itu, pada awal Agustus saat Taliban mulai merebut kota demi kota, Ghani mengatakan tak ingin bernasib sama dengan mantan Raja Amanullah Khan yang turun takhta lalu melarikan diri ke India pada 1929.

"Saya tidak akan lari. Saya tidak akan mencari tempat aman dan saya akan mengabdi untuk rakyat," ujarnya, di sebuah acara di Kabul.

Namun ketika Taliban masuk Kabul, Ghani kabur yang mengundang kecaman dari dalam maupun luar negeri. Dia pun semakin terisolasi.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump membuka dialog dengan Taliban dalam upaya mengakhiri perang sehingga bisa menarik pasukannya dari Afghanistan. Ironisnya, Trump tak melibatkan Ghani dalam pembicaraan itu.

Trump ingin menarik pasukannya dari Afghanistan dengan imbalan jaminan keamanan untuk Afghanistan dari Taliban. Lalu pemerintahan Joe Biden melanjutkan dengan benar-benar menarik sepenuhnya pasukan AS, paling lambat pada 31 Agustus.

Keputusan Biden justru membuka jalan bagi Taliban untuk merebut satu per satu kota penting sejak Mei atau saat penarikan pasukan AS dimulai. Puncaknya Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus dan merebut pemerintahan.

Ghani menolak seruan mundur namun dia sepakat dibentuknya pemerintah transisi sebelum Taliban mengambil alih sepenuhnya.

Original Source

Topik Menarik