Taliban Duduki Ibu Kota, Presiden Afghanistan Lari Tinggalkan Kabul

wartaekonomi | Global | Published at 16/08/2021 06:30
Taliban Duduki Ibu Kota, Presiden Afghanistan Lari Tinggalkan Kabul

Agresi militer kelompok Taliban menguasai sepenuhnya Afghanistan berlangsung kian lekas. Pada Minggu (15/8/2021) pasukan Taliban dikabarkan telah memasuki ibu kota negara, Kabul.

President Ashraf Ghani juga dilaporkan telah meninggalkan Afghanistan. "Presiden Afghanistan terdahulu telah meninggalkan negara ini," ujar Kepala Dewan Rekonsiliasi Nasional Abdullah Abdullah, seperti dilansir Al Jazeera , Minggu (15/8/2021) malam.

Ashraf Ghani disebut melarikan diri di tengah upaya negosiasi peralihan kekuasaan secara damai. Ia kabur menyusul telah dikepungnya Kabul oleh pasukan Taliban dari segala arah.

Laman Al Arabiya , mengutip beberapa sumber, melaporkan, tentara Afghanistan dan Taliban terlibat konfrontasi di wilayah Kabul selatan dan utara. Tiga pejabat Afghanistan mengatakan, pasukan Taliban telah berada di distrik Kalakan, Qarabagh, dan Paghman. Sementara, para pekerja di ibu kota Kabul tampak panik melarikan diri dari kantor-kantor pemerintah.

Pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia menyatakan, terus memantau kondisi di Afghanistan agar memastikan keselamatan WNI dan staf KBRI di negara tersebut.

"Kondisi WNI di Afghanistan terus diobservasi dan komunikasi dengan mereka masih terus berlangsung," ujar Juru Bicara Kemenlu RI Teuku Faizasyah kepada Republika , Minggu.

Faiza mengatakan, pihak Kemenlu telah menyiapkan rencana evakuasi WNI yang berada di Afghanistan. Kendati demikian, dia belum memberikan keterangan secara mendetail kapan dan apakah evakuasi WNI dan staf Kedutaan akan secepatnya terlaksana.

"Rencana kontijensi disiapkan semua perwakilan RI di luar negeri berdasarkan peraturan untuk mengantisipasi perkembangan politik yang dramatis atau suatu bencana," ujarnya.

Menurut Faiza, sejauh ini, ada enam WNI di negara tersebut. Sementara, staf KBRI di Kabul berjumlah 18 orang, termasuk Duta Besar RI untuk Kabul Arif Rahman. Dubes RI belum memberikan respons terkini terkait kondisi Kabul dan Afghanistan maupun keadaan WNI ketika diminta komentar Republika .

Pemimpin Taliban yang kini berada di Qatar mengatakan, para anggota kelompok tersebut telah diperintahkan untuk menahan diri dan tak melakukan aksi kekerasan di Ibu Kota. Mereka diminta membuka jalan aman bagi siapa pun yang hendak keluar dari kota tersebut.

"Tidak ada nyawa, harta benda, dan martabat yang akan dirugikan dan nyawa warga Kabul tidak akan terancam," diterangkan pihak Taliban.

Taliban sebelumnya berhasil merebut Kota Jalalabad yang terletak di sebelah timur Afghanistan pada Minggu (15/8/2021). Artinya, sejak memulai agresi pada 1 Mei 2021 lalu, Taliban telah menguasai setidaknya 24 dari 34 ibu kota provinsi.

Kota Jalalabad, pusat (Provinsi) Nangarhar, benar-benar ditaklukkan, kata juru bicara Taliban Zabiullah Mujahed lewat akun Twitter-nya, dikutip laman Anadolu Agency .

Mujahed mengungkapkan, kelompoknya turut berhasil menguasai kantor gubernur, intelijen, polisi, dan fasilitas-fasilitas lain di kota tersebut. Semua alat, perlengakapan, dan sumber daya di provinsi itu juga jatuh ke tangan mujahidin, ucapnya.

Dengan jatuhnya Nangarhar, saat ini, Kabul secara efektif dikepung dari tiga arah oleh Taliban. Pada Jumat (13/8/2021) malam Taliban juga berhasil merebut Mazar-e-Sharif. Itu merupakan gerbang utara Afghanistan menuju Asia Tengah.

Jatuhnya Mazar-e-Sharif memiliki efek signifikan dalam hal kepentingan strategisnya di jantung provinsi utara Afghanistan. Di sana terdapat markas regional tentara dan benteng utama politisi kunci, seperti Abdul Rasheed Dostum, Atta Muhammad Noor, dan Muhammad Muhaqiq.

Pejabat setempat mengatakan, Mazar-e-Sharif yang merupakan ibu kota Provinsi Balkh, sekaligus kota terbesar keempat di Afghanistan sebagian besar jatuh kepada Taliban tanpa adanya perlawanan berarti.

Abas Ebrahimzada, seorang anggota parlemen dari Balkh, mengatakan bahwa tentara nasional adalah yang pertama menyerah dan kemudian mendorong pasukan propemerintah serta milisi lainnya untuk menyerah.

Sementara, Menteri Dalam Negeri Pakistan Sheikh Rashid Ahmed, pada Minggu (15/8/2021) mengungkapkan, Taliban telah melewati perbatasan Torkham. Saat diwawancara saluran televisi lokal, Geo TV, Ahmed menyebut, Pakistan menghentikan sementara lalu lintas antarperbatasan karena hal itu. Torkham mewakili pos terakhir yang masih berada di bawah kendali Pemerintah Afghanistan.

Sementara, seorang warga Mazar-i-Sharif mengatakan, sangat takut ketika banyak anggota Taliban berjalan di kota itu. "Mereka pergi dari pintu ke pintu dan kami di rumah dan sayangnya kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami sangat takut, ujar warga yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Taliban merupakan kelompok yang lahir menyusul perang sipil selepas invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Kelompok yang menerapkan tafsir ekstrem terhadap agama Islam tersebut sempat menguasai Afghanistan hingga dikalahkan pasukan Amerika Serikat pada 2001.

Pasukan AS kala itu menginvasi Afghanistan dan menyerang Taliban dengan dalih kelompok itu melindungi Usamah bin Ladin yang dituduh sebagai otak serangan teror 11 September 2001.

Selama dua dekade keberadaan pasukan AS di Afghanistan, Taliban tak juga berhasil dienyahkan. Pada 2020, AS kemudian melakukan perjanjian damai dengan Taliban dengan syarat penarikan seluruh pasukan NATO dan AS dari Afghanistan.

Saat agenda penarikan pasukan itu dijalankan, Taliban memulai agresi. Tentara Afghanistan yang didanai dan dilatih bertahun-tahun oleh Amerika Serikat, sementara ini, belum bisa membendung pergerakan pasukan Taliban.

Sejauh ini, ribuan pasukan Taliban dan militer Afghanistan telah gugur dalam agresi selama empat bulan belakangan. Sekitar seribu warga sipil juga meninggal dan seperempat juta warga Afghanistan mengungsi.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah mengadakan pembicaraan darurat dengan para pemimpin lokal dan mitra internasional pada Sabtu (14/8/2021).

"Sebagai presiden, fokus saya adalah mencegah ketidakstabilan lebih lanjut, mencegah kekerasan, dan pengungsian rakyat saya," kata Ghani dalam pidato singkat yang disiarkan televisi nasional.

Ghani menambahkan, ia tidak akan menanggapi permintaan Taliban untuk mengundurkan diri. Ghani mengatakan, prioritasnya tetap pada konsolidasi pasukan keamanan dan pertahanan Afghanistan. "Langkah-langkah serius sedang diambil dalam hal ini," kata Ghani.

Artikel Asli