Taliban Rebut Makin Banyak Wilayah Pengungsi Afghanistan Bakal Banjiri Indonesia..

rm.id | Global | Published at 16/08/2021 05:20
Taliban Rebut Makin Banyak Wilayah Pengungsi Afghanistan Bakal Banjiri Indonesia..

Indonesia dan China memiliki kepentingan keamanan dan ekonomi dalam perdamaian di Afghanistan. Sebab, stabilitas politik di Asia Selatan tersebut, mempengaruhi keamanan di dalam negerimasing-masing.

Mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk China Sugeng Rahardjo mengungkapkan, membahas perdamaian di Afghanistan merupakan hal yang sangat rumit.

Banyak kepentingan yang terlibat. Baik di dalam negeri Afghanistan. Maupun dari luar, ungkap Sugeng dalam webinar, Perdamaian Afghanistan: Peran & Peluang Indonesia dan Tiongkok , Sabtu (14/8).

Kata dia, pergolakan di Afghanistan tidak berhenti sejak 1970-an. Pada saat itu, Uni Soviet terlibat dalam perang saudara di Afghanistan. Selanjutnya, kehadiran Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di negeri yang dijuluki Graveyard of Empires.

AS masuk ke Afghanistan dengan dalih demi menghabisi Osama bin Laden yang dianggap dalang dalam serangan 11 September 2001. Serangan di AS yang menewaskan hampir 3.000 orang, setelah beberapa pesawat yang dibajak menabrak gedung World Trade Center di New York dan Pentagon di Arlington County, Virginia. Sedangkan pesawat keempat jatuh di suatu lapangan di Pennsylvania.

Osama bin Laden, pemimpin kelompok al-Qaeda, langsung dinyatakan sebagai pihak yang bertanggung jawab. Taliban yang berkuasa di Afghanistan saat itu melindungi Osama bin Laden. Mereka menolak untuk menyerahkan Osama. Maka, sebulan setelah tragedi yang dikenal dengan 9/11 itu, AS melancarkan serangan udara atas Afghanistan untuk menyerang Taliban dan al-Qaeda.

Tapi ternyata Taliban tidak menunjukkan kekalahan sampai saat ini, jelas Sugeng.

Dan sejak AS mengumumkan akan menarik pasukannya dari Afghanistan, Taliban terus memperluas wilayah kontrolnya. Bangkitnya Taliban, bisa berdampak pada perdamaian dan konflik di Afghanistan. Yang akhirnya juga berdampak pada keamanan di kawasan.

Hal itu, lanjut Sugeng, akan mempengaruhi berbagai kepentingan negara besar yang ada di kawasan. Khususnya China dan Rusia. Pasalnya, Taliban memerlukan legitimasi internasional. Sementara China, memiliki kepentingan keamanan dan ekonomi.

Para pemimpin Taliban juga sudah diundang untuk datang ke China serta disambut Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, terang Sugeng.

Dia menilai, kepentingan China terhadap Taliban lebih pada masalah keamanan. Karena dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Uighur selalu dilatih dan dilindungi Taliban. Sehingga bebas bertempur di wilayah Afghanistan. Dan juga beberapa kali melakukan serangan terhadap China.

Terjalinnya hubungan dengan China, Taliban memastikan bahwa kelompok manapun tidak boleh menjadikan Afghanistan sebagai basis perlawanan terhadap China. Sebaliknya, Beijing mendukung kesatuan wilayah Afghanistan. Dan, diharapkan China, seluruh pihak bersatu memajukan Afghanistan.

China berharap seluruh pemulihan kehidupan seluruh warga akan ditentukan Afghanistan sendiri tanpa campur tangan asing, imbuh Sugeng.

Dalam pandangannya, hubungan antara Taliban dengan China merupakan hubungan timbal balik. Menurut China, kelompok ini merupakan kekuatan penting untuk pembangunan politik dan perdamaian di Afghanistan, ujarnya.

Sementara, mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Hamid Awaludin menilai, ada konsekuensi jika Taliban berkuasa di Afghanistan. Salah satunya adalah eksodus pengungsi. Apalagi, Indonesia menampung pengungsi Afghanistan sampai sekarang.

Jadi akan ada eksodus pengungsi besar-besaran. Kendati Taliban menjamin tidak akan ada kekerasan, tapi warga trauma, ujar Hamid.

Mantan Dubes Indonesia untuk Rusia itu menambahkan, pada masa kekuasaan sebelumnya, Taliban mudah digoyang dalam isu ekonomi. Sekarang China bisa jadi back up dalam bidang tersebut. Karena saat ini, China jadi salah satu negara yang kuat dalam bidang ekonomi.

Hamid menambahkan, peluang ekonomi seperti itu juga harus dimanfaatkan Indonesia. Apalagi, menurut Hamid, Taliban memiliki semacam utang budi pada Indonesia. Peluang Indonesia berperan di sana sangatbesar kalau Taliban berkuasa. Mereka bisa mempercayaikita, ucapnya.

Tanpa Perlawanan

Taliban telah mengusai 23 dari 34 Ibu Kota provinsi di Afghanistan. Pusat pemerintahan di kabul diperkirakan akan mudah dijatuhkan.

Pada Minggu (15/8), para milisi Taliban berhasil mengambil alih kendali Jalalabad, kota utama di timur Afghanistan, tanpa perlawanan.

Pada Sabtu pagi waktu setempat (14/8), Taliban menyerbu Jalalabad, ibu kota provinsi Nangarhar, tanpa ada tembakan senjata perlawanan.

Tidak ada bentrokan yang terjadi di Jalalabad karena gubernur telah menyerah kepada Taliban, kata seorang pejabat setempat kepada kantor berita Reuters . [PYB]

Artikel Asli