Kekerasan Seksual Jadi Senjata di Perang Tigray

Global | republika | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 16:39
Kekerasan Seksual Jadi Senjata di Perang Tigray

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -- Organisasi kemanusiaan Amnesty International melaporkan pasukan Ethiopia dan Eritrea memperkosa ratusan perempuan dewasa dan muda di Tigray. Sementara, pihak berwenang Ethiopia mengaku telah memvonis tiga tentara yang terlibat dalam kejahatan tersebut dan mendakwa 25 lainnya.

"Jelas pemerkosaan dan kekerasan seksual digunakan sebagai senjata perang untuk menimbulkan kerusakan fisik dan psikis jangka panjang pada perempuan dewasa dan muda di Tigray," kata Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard seperti dikutip Deutsche Welle, Rabu (11/9).

"Skala dan keparahan kekerasan seksual yang dilakukan sangat mengejutkan, sama seperti kejahatanperang dan mungkin kejahatan terhadap kemanusiaan," tambahnya.

Amnesty mengatakan temuan mereka berdasarkan wawancara dari bulan Maret hingga Juni dengan 63 penyintas kekerasan seksual di Tigray. Beberapa penyintas mengatakan mereka dilecehkan secara seksual oleh sejumlah pria yang menyekap mereka beberapa minggu.

Beberapa korban lainnya mengatakan mereka diperkosa di depan anggota keluarga mereka sendiri. Amnesty mengatakan beberapa responden yang diwawancara melaporkan cedera akibat pemerkosaan pada organ reproduktif mereka 'tak tersembuhnya dan bertahan lama'.

"Mereka memperkosa kami dan membuat kami lapar, terlalu banyak yang memperkosa kami bergiliran," kata salah satu korban yang berusia 21 tahun dan mengaku disekap selama 40 hari.

"Mereka membawa sekitar 30 orang perempuan, mereka memperkosa kami semua," katanya.

Dalam laporannya Amnesty mengatakan fasilitas kesehatan di Tigray mencatat pada bulan April 2021 saja terjadi 1.288 kasus kekerasan seksual. Tapi kasus yang tidak dilaporkan lebih banyak lagi.

Pada November 2020 lalu, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed meluncurkan operasi militer ke People's Liberation Front (TPLF) yang berkuasa di Tigray. Sejak awal Eritrea membantu pemerintah Abiy dalam perang itu.

Artikel Asli