India Dituduh Pakai Spyware Pegasus Israel ke Pengkritik Pemerintah

koran-jakarta.com | Global | Published at 23/07/2021 00:09
India Dituduh Pakai Spyware Pegasus Israel ke Pengkritik Pemerintah

PARIS - Pemerintah India dihadapkan dengan skandal software peretas atau spyware Pegasus yang mengejutkan seluruh dunia. Investigasi kolaboratif oleh organisasi nirlaba yang berbasis di Prancis, Forbidden Stories, dan organisasi HAM Amnesty International menemukan bahwa spyware Pegasus digunakan untuk mengawasi target potensial.

Lebih dari 300 nomor telepon India termasuk di antara hampir 50.000 yang ditargetkan di seluruh dunia. Nomor-nomor itu kemungkinan dianggap menarik bagi klien dari pembuat spyware yakni NSO Group yang berbasis di Israel.

Basis data yang bocor dibagikan dengan Le Monde , The Guardian , Washington Post , Die Zeit , Suddeutsche Zeitung dan 10 organisasi berita global lainnya sebagai bagian dari penyelidikan yang dikenal sebagai Proyek Pegasus.

Mayoritas nomor-nomor yang diidentifikasi dalam daftar secara geografis terkonsentrasi di 10 negara: India, Azerbaijan, Bahrain, Hungaria, Kazakhstan, Meksiko, Maroko, Rwanda, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

"Di India, nomor-nomor yang masuk dalam daftar adalah milik politisi, puluhan jurnalis, aktivis, pengusaha, hakim Mahkamah Agung dan bahkan dua menteri dalam pemerintahan Narendra Modi," lapor situs berita The Wire yang terlibatkan rmasuk dalam penyelidikan global.

Sejauh ini, analisis forensik yang dilakukan pada 22 ponsel pintar di India yang nomornya termasuk dalam daftar, menunjukkan bahwa setidaknya ada 10 yang ditargetkan dengan spyware Pegasus, dan tujuh di antaranya berhasil diretas

Segera setelah laporan itu terungkap, parlemen India dilanda kekacauan. Partai-partai oposisi menuntut dibentuknya penyelidikan independen.

Pemerintah bersikap defensif, menyebutnya sebagai "ekspedisi memancing," dan menolak untuk mengadakan penyelidikan independen setelah mengklaim bahwa mereka tidak terlibat dalam pengintaian.

Menteri Dalam Negeri Amit Shah merilis sebuah pernyataan yang menyerang Kongres dan berbagai organisasi internasional, menyebut mereka "penghalang" dan "pengganggu" yang bertujuan mempermalukan India di panggung dunia . DW/I-1

Artikel Asli