Hanneke Schuitemaker, Peneliti HIV yang Kembangkan Vaksin Covid-19 J&J

katadata.co.id | Global | Published at 22/07/2021 14:15
Hanneke Schuitemaker, Peneliti HIV yang Kembangkan Vaksin Covid-19 J&J

Vaksin virus corona merek Johnson & Johnson (J&J) hanya memerlukan satu dosis vaksin untuk melawan Covid-19. Hal ini berbeda denganmerekAstraZeneca, Sinovac, Pfizer, atau Moderna yang butuh dua dosis.

Pembuatan vaksin ini berdasarkan teknik yang J&Jlakukan untuk melawan virus Ebola. Mirip pula dengan vaksin Covid-19 merek AstraZeneca, yaitu metode vektor viral atau viral vector .

Bedanya adalah, vaksin J&J memakai protein spike dari virus corona. Sedangkan AstraZeneca memakai adenovirus simpanse. Sebagai informasi, spike merupakan bagian luar virus corona, yang bentuknya seperti duri. Protein inilah yang menjadi pintu masuk virus ke sel tubuh manusia.

Vaksin yang dikembangkan perusahaan bioteknologiJanssen Vaccines asal Belanda, anak usaha Johnson & Johnson, Amerika Serikat, ini sudah mulai digunakan di berbagai negara. Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS sudah memberikan izin pemakaian darurat pada 27 Februari llau. Uni Eropatelahmemesan 400 juta dosis.

Melansir dari Reuters , perusahaan menargetkan produksinya dapat mencapai 500 juta hingga 600 juta dosis pada tahun ini. Namun, Johnson & Johnson sedang mengalami masalah kontaminasi pada pabriknya di Baltimore dan belum tahu kapan dapat berproduksi kembali.

Perusahaan tidak dapat menyebut angka targetnya untuk tahun depan. Terlalu dini untuk memberikan informasi spesifik tentang prosepek 2022, mengingat ketidakpastian tetang perlunya booster dan varian baru, kata Chief Financial Officer J&J Joseph Wolk kepada CNBC , Rabu (21/7).

Untuk efektitas vaksin J&J, melansir dari situs FDA, mencapai 67% mencegah penyakit Covid-19 skala sedang hingga parah atau kritis setelah 14 hari menerima vaksin. Angkanya turun menjadi 66% untuk penyakit sedang hingga parah atau kritis usai 28 hari setelah vaksinasi.

Kesuksesan vaksin ini tidak luput dari orang di balik pengembangannya. Nama yang sering muncul adalah Hanneke Schuitemaker, seorang virologis asal Belanda.

Perempuan berusia 57 tahun ini menjabat sebagai Global Head of Viral Vaccine Discovery and Translational Medicine di Johnson & Johnsons Janssen Vaccine & Prevention. Ia juga seorang profesor virologis di Universitas Amsterdam.

Schuitemaker sudah malang melintang di dunia vaksin. Ia turut serta dalam pengembangan vaksin flu universal, HIV, vaksin respiratory syncytial virus (RSV), dan yang terbaru vaksin Covid-19.

 
Ilustrasi vaksin Covid-19.(ANTARA FOTO/REUTERS/Carl Court/Pool /hp/cf)

Profil Hanneke Schuitemaker

Schuitemaker lahir pada 1964 di Belanda. Melansir dari berbagai media, ibunya adalah seorang akuntan dan ayahnya bekerja sebagai seorang insinyur. Dia menyelesaikan pendidikan doktor dan meraih gelar PhD Bidang patogen AIDS dari Universitas Amsterdam.

Kariernya bermula pada penelitian human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome alias HIV/AIDS pada 1989. Virus yang menyerang kekebalan tubuh ini muncul pada 1980an dan sangat mematikan ketika itu.

Schuitemaker menghabiskan 19 tahun penelitiannya tentang virus HIV di Sanquin, sebuah organisasi untuk suplai darah di Negeri Kincir Angin. Ia lalu bergabung dengan Pusat Medis Akademik di Amsterdam pada 2008. Dari sini, ia berpindah ke Crucell, sebuah perusahaan bioteknologi, sebelum akhirnyadiakuisisi oleh J&J.

Ibu tiga anak ini kemudian ditunjuk sebagai kepala pengembangan vektor viral vaksin. Schuitemaker mengerjakan vaksin flu universal. Kemudian dia kembali mengerjakan vaksin untuk HIV-1.

Pada 2018 vaksin pengembangannya menunjukan kemajuan dalam menangkal HIV pada manusia. Vaksin ini diharapkan dapat mulai digunakan tahun ini.

Kisah Pengembangan Vaksin J&J

Pada awal Februari 2020, sebagai kepala pengembangan vaksin J&J, Schuitemaker menghadiri pertemuan yang diadakan Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO. Pertemuan ini membahas tentang Covid-19.

Schuitemaker ketika itu mendengarkan penjelasan dari delegasi Tiongkok. Ia merasa apa yang didengarnya merupakan persoalan serius. Covid-19 atau SARS-CoV-19 sangat berbahaya bagi manusia.

Setelah kembali dari pertemuan itu, saya langsung memberitahu tim untuk bergerak cepat. Semua ini akan menjadi besar, katanya dalam wawancara dengan FiercePharma pada 26 Oktober 2020.

Enam minggu setelah itu, Schuitemaker sudah menyiapkan kandidat untuk vaksin. Pada September 2020, vaksinnya mulai memasuki fase uji coba tahap ketiga ke 44 ribu orang di AS, Afrika Selatan, dan Brasil.

Uji coba ini sempat tertunda karena terjadi kasus pembekuan darah pada salah satu partisipan. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Pengujian J&J kemudian berlanjut, dinyatakan aman, diproduksi, dan tersedia saat ini.

Apa Itu Vaksin Vektor Viral?

Vaksin ini menggunakan vektor viral untuk mengirimkan materi genetik dan membuat kode antigen yang diinginkan ke dalam sel inang penerima. Cara kerjanya, virus yang meniru genetika Covid-19 dimasukkan ke dalam tubuh tetapi tidak berbahaya untuk manusia.

Setelah itu, vaksin akan memancing imunitas tubuh beraksi untuk mengalahkannya. Akhirnya, tubuh akan mempelajari cara untuk melakukan hal serupa pada Covid-19.

Para ilmuwan sudah memakai metode vektor viral sejak 1970. Selain untuk vaksin, cara ini juga digunakan untuk penelitian terapi gen, pengobatan kanker, dan riset molekuler biologi.

Vaksin vektor viral sudah berhasil mengatasi penyakit Ebola yang mewabah di Afrika. Metode serupa juga sedang dikembangkan untuk virus Zika, flu, dan HIV.

Penyumbang bahan: Dhia Al Fajr (magang)

Artikel Asli