Singapura Ingin `Hidup dengan COVID-19`, tapi Kasus Infeksi Bermunculan

sindonews | Global | Published at 22/07/2021 00:01
Singapura Ingin `Hidup dengan COVID-19`, tapi Kasus Infeksi Bermunculan

SINGAPURA - Singapura telah menyatakan akan "hidup dengan COVID-19". Namun, negara meningkatkan pembatasan hanya beberapa hari setelah melonggarkannya karena kasus infeksi virus corona bermunculan.

Lonjakan kasus infeksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 di negara itu telah meningkat dari delapan menjadi hampir 200 dalam sepuluh hari. Lonjakan kasus infeksi ini telah mengguncang pemerintah yang baru pada hari Senin mengizinkan kelompok orang yang lebih besar untuk berkumpul bersama.

Menteri Keuangan Lawrence Wong mengatakan, "Situasi telah berubah tajam menjadi lebih buruk". Sementara, Menteri Perdagangan Gan Kim Young menambahkan penerapan pembatasan "terasa seperti kemunduran besar" bagi negara kota tersebut.

Pada hari Selasa (20/7/2021), tercatat ada 182 kasus infeksi lokal baru setelah wabah di pasar ikan.

Namun demikian, pemerintah masih bermaksud untuk secara signifikan menghapus langkah-langkah social distancing dalam beberapa bulan mendatang.

"Hidup dengan COVID-19"

Pada bulan Juni, negara Asia Tenggara yang berpenduduk hampir 6 juta jiwa itu meluncurkan strategi yang akan menjadi "normal baru" untuk "hidup dengan COVID-19".

"Kita tidak dapat memberantasnya, tetapi kita dapat mengubah pandemi menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengancam, seperti influenza atau cacar air, dan melanjutkan hidup kita," tulis menteri Wong dan Gan dan Menteri Kesehatan Ong Ye Kung dalam tajuk rencana di Straits Times .

Para menteri mengatakan COVID-19 bisa "dijinakkan" jika tidak bisa ditaklukkan.

Tonggak penting adalah Hari Nasional Singapura pada 9 Agustus ketika diharapkan dua pertiga dari semua penduduk akan divaksinasi sepenuhnya.

Pada tanggal setelah itu akan ada perubahan langkah dalam cara negara menangani virus.

Pada dasarnya, tingkat sirkulasi virus akan ditoleransi karena perlindungan yang ditawarkan oleh vaksin.

Pertemuan besar akan diizinkan dan perbatasan internasional akan terus dibuka kembali.

Perubahan besar adalah tidak lagi melaporkan jumlah kasus infeksi COVID-19 harian.

"Sebaliknya kita akan fokus pada hasil: berapa banyak yang jatuh sakit parah, berapa banyak di unit perawatan intensif, berapa banyak yang perlu diintubasi untuk oksigen, dan sebagainya," kata trio politisi yang membentuk gugus tugas COVID-19 multi kementerian.

Rencana tersebut dianggap sebagai salah satu yang paling komprehensif yang diproduksi oleh suatu negara tentang cara mengelola virus corona pasca-vaksinasi.

Tapi itu tidak seekstrem Inggris yang telah menghapus sebagian besar langkah-langkah social distancing sama sekali dengan harapan bahwa vaksinasi akan menyebabkan kematiana COVID-19 dan rawat inap yang jauh lebih sedikit bahkan ketika jumlah kasus melonjak.

Kepercayaan diri telah meningkat di Singapura sebelum rencana "hidup dengan COVID-19" dimulai dengan hanya 20 kasus per hari selama sembilan bulan terakhir.

Sedemikian rupa sehingga dua minggu lalu pemerintah mengumumkan pengurangan pembatasan.

Mulai Senin pekan ini, penduduk setempat yang benar-benar divaksin telah diizinkan untuk makan bersama di restoran dalam kelompok yang terdiri dari lima orang atau lebihnaik dari dua sebelumnya.

Ini adalah relaksasi yang tidak berlangsung lama.

Mulai Kamis (22/7/2021), tidak ada yang diizinkan makan di dalam restoran dengan satu-satunya pilihan takeaway dan delivery , sementara pertemuan sosial berubah dari lima menjadi dua orang.

Kegiatan kontak dekat seperti sauna dan salon kuku akan ditutup dan tidak boleh menyanyi dan bahkan memainkan alat musik tiup karena memerlukan pengeluaran udara.

"Situasi COVID telah berubah tajam menjadi lebih buruk," kata Wong dalam sebuah posting Facebook pada hari Selasa mengumumkan pembatasan baru.

"Lintasan infeksi saat ini berarti bahwa kasus kemungkinan akan meningkat tajam dan lebih banyak orang berpotensi tertular virus."

Wong mengatakan pengurangan aktivitas akan memberi penyedia layanan kesehatan lebih banyak waktu untuk menyuntik warga Singapura yang berusia lanjut dan rentan.

Hampir segera setelah Singapura mengumumkan pembatalan beberapa pembatasan, kasus virus mulai meningkat.

Antara 13 Juli dan 14 Juli, infeksi naik dari 26 menjadi 60 kasus. Rata-rata bergulir tujuh hari sekarang pada 99 kasus.

Sebagian besar kasus tersebut terkait dengan Pelabuhan Perikanan Jurong, pasar makanan laut yang besar dan sibuk. Sekarang telah ditutup.

Pihak berwenang berspekulasi virus itu mungkin telah diangkut ke Singapura dengan kapal penangkap ikan dari Indonesia, tepat di atas Selat Malaka, di mana telah terjadi wabah di seluruh negeri.

Sejumlah kasus juga telah ditelusuri kembali ke ruang karaoke.

"Saya tahu pengumuman hari ini terasa seperti kemunduran besar bagi banyak orang," imbuh Gan, menurut sebuah laporan di Straits Times .

"Begitu kami memperlambat cluster baru dan mencapai tingkat vaksinasi yang lebih tinggi, kami akan dapat melanjutkan perjalanan pembukaan kembali kami."

Dan itu adalah pesan kunci dari trio menteri. Bahwa sementara ini adalah gundukan di jalan, Singapura masih berniat untuk mengubah taktik dalam mengelola COVID-19.

"Ketika kami menguraikan rencana kami untuk hidup dengan COVID-19, kami juga menekankan bahwa kami perlu meningkatkan vaksinasi kami secara signifikan, dan sementara itu kami masih perlu mengendalikan infeksi untuk melindungi yang tidak divaksinasi," kata Gan.

Pemerintah telah menandai bahwa akan nyaman dengan hingga 200 kasus sehari di bawah rencana tersebut.

Data yang keluar dari Inggris dan Israel, dua negara yang paling banyak divaksinasi di dunia, telah menunjukkan bahwa meskipun kasus masih dapat meningkat, kematian adalah sepersepuluh dari sebelum vaksinasi.

"Kami sangat dekat, beberapa minggu lagi, ke tahap di mana kami memiliki dua pertiga atau lebih dari populasi kami yang divaksinasi sepenuhnya," kata Ong.

"Kemudian kita akan dapat lebih tegas beralih ke postur tahan COVID-19."

"Sekarang bukan waktunya untuk mempertaruhkan semuanya. Jadi kita perlu menggigit peluru ini, melakukan aktivitas sosial, dan menggunakan waktu ini untuk mendorong upaya vaksinasi," imbuh dia.

Artikel Asli