Heboh, Buku Serukan Kaum Gay Dieksekusi Ditemukan di Sekolah Islam Inggris

sindonews | Global | Published at 22/07/2021 01:35
Heboh, Buku Serukan Kaum Gay Dieksekusi Ditemukan di Sekolah Islam Inggris

DEWSBURY - Sebuah buku yang menyerukan agar kaum gay dieksekusi ditemukan di perpustakaan sebuah sekolah asrama Islam atau semacam pesantren di Inggris.

Temuan ini mengejutkan inspektur Kantor Standar dalam Pendidikan, Layanan dan Keterampilan Anak (Ofsted). Inspektur Ofsted menilai ada kegagalan dalam pemeriksaan pemerintah.

"Peserta tindakan homoseksual harus dibunuh baik mereka menikah atau belum menikah," bunyi penggalan isi buku berjudul "Islam on Homosexuality" seperti dipaparkan inspektur Ofsted.

Buku itu ditemukan perpustakaan di Institute of Islamic Education [Institut Pendidikan Islam] di Dewsbury, West Yorkshire. "Termasuk bagian tentang hukuman individu karena seksualitas dan pandangan mereka yang bertentangan dengan aturan hukum," kata inspektur Ofsted.

Buku itu juga menyatakan; "Para pelaku kejahatan harus dihukum mati."

Kepala sekolah untuk anak laki-laki tersebut mengatakan kepada inspektur bahwa buku itu seharusnya tidak ada di perpustakaan, tetapi pemimpin sekolah lainnya mengatakan itu untuk tujuan "penelitian".

"Sekolah tidak memenuhi persyaratan jadwal untuk Education (Independent School Standards) Regulations 2014, standar minimum nasional untuk sekolah berasrama dan persyaratan terkait yang diperiksa selama inspeksi ini," lanjut inspektur Ofsted dalam laporan mereka.

Nilai gagal berarti sekolah harus melakukan perbaikan sebelum inspeksi penuh berikutnya, yang biasanya berlangsung dalam waktu tiga tahun setelah nilai gagal dikeluarkan.

Laporan Ofsted memicu kritik terhadap sekolah dan buku tersebut, di mana kepala kebijakan dan penelitian National Secular Society, Megan Manson, menyebut situasinya "mengerikan."

"Mengerikan bahwa sebuah buku yang menyerukan agar orang gay dieksekusi dapat ditemukan di perpustakaan sekolah," kata Manson, yang dilansir Mail Online, Rabu (21/7/2021).

"Yang lebih mengganggu adalah beberapa pemimpin sekolah tampaknya membela keputusan sekolah untuk membuat buku ini tersedia untuk anak-anak."

Sekolah itu sebelumnya dikritik pada 2016 setelah penyelidikan menemukan siswa dilarang menonton televisi, membaca koran, atau mendengarkan musik. Sekolah, bagaimanapun, sebelumnya telah menerima nilai "baik" dari Ofsted.

Pihak Institut Pendidikan Islam belum bersedia berkomentar atas masalah tersebut.

Artikel Asli