Mengapa Taliban Semakin Bernyali Di Afghanistan?

rmol.id | Global | Published at 20/07/2021 19:12
Mengapa Taliban Semakin Bernyali Di Afghanistan?

RMOL.Idul Adha merupakan salah satu hari raya terbesar yang diperingati oleh jutaan muslim di dunia setiap tahunnya.

Sayangnya, di Afghanistan, perayaan Idul Adha yang seharusnya dipenuhi khidmat kepada Yang Maha Kuasa, justru terganggu oleh serangan bom. Serangan itu terjadi di dekat Istana Kepresidenan Afghanistan di mana Presiden Ashraf Ghani dan sejumlah pejabat tinggi menunaikan ibadah shalat Idul Adha.

Suara serangan bom bahkan terdengar saat siaran langsung shalat Idul Adha tersebut. Dalam cuplikan video berdurasi 31 detik yang dipublikasikan oleh media Afghanistan, TOLO News, terdengar setidaknya ada tiga suara ledakan yang teredengar.

Video itu menampilkan Ghani menunaikan ibadah shalat Idul Adha di belakang imam bersama puluhan jamaah lainnya.

Suara bom pertama terdengar saat imam hendak sujud. Tampak para jamaah terkejut, namun imam tetap melaksanakan sujud dan melanjutkan shalat. Sebagian besar jamaah pun, termasuk Ghani, tetap melanjutkan shalat mereka mengikuti imam.

Selang beberapa detik kemudian, suara bom kedua terdengar saat para jamaah sujud.

Tampak satu orang di tengah-tengah jamaah berdiri saat yang lain sujud. Dia tidak melanjutkan shalat dan tampak kebingungan dengan situasi yang terjadi.

Sementara itu, suara bom ketiga terdengar saat jamaah duduk. Hal itu membuat sejumlah jamaah lainnya semakin takut. Mereka tidak melanjutkan shalat dan keluar dari barisan shalat.

Video tersebut menangkap suara sayup-sayup suara alarm mobil yang berbunyi, tampaknya sebagai dampak dari serangan bom tersebut.

Setelah ledakan itu terjadi, pihak keamanan segera menutup area dan melakukan investigasi.

Pasca shalat Idul Adha, Ghani menyampaikan pidato yang menyalahkan kelompok Taliban atas serangan itu. Kata Ghani, Taliban menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki keinginan untuk menciptakan perdamaian di Afghanistan.

Meski begitu, belum ada pihak manapun, termasuk Taliban, yang mengaku bertanggungjawab atas serangan tersebut.

AS Angkat Kaki, Taliban Semakin Bernyali

Taliban diketahui semakin agresif melancarkan serangan di Afghanistan, terutama sejak Amerika Serikat dan NATO mulai menarik pasukannya dari negara itu secara bertahap pada Mei lalu.

Diketahui bahwa Taliban dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan pada Februari lalu untuk membuka jalan bagi pasukan asing menarik diri dari Afghanistan, melakukan pembebasan tahanan, mengeluarkan para pemimpin Taliban dari daftar hitam teror, dan menarik dukungan internasional untuk membangun kembali negara itu setelah perang berkepanjangan.

Namun, hengkangnya pasukan asing dari Afghanistan justru semakin membuat Taliban meningkatkan tekanan pada pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Ashraf Ghani.

Serangan terbaru ini di Hari Raya Idul Adha ini menjadi semacam sinyal bahwa Afghanistan masih sangat rentan. Pasalnya, Taliban dan pemerintah Afghanistan sebelumnya mengupayakan kesepakatan gencatan senjata selama Idul Adha, namun berakhir gagal.

Taliban Merapat Ke China

Jelang penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, kelompok Taliban tampak semakin merapatkan barisan dengan China.

Awal bulan ini, Taliban bahkan menyebut China sebagai negara "bersahabat" dan menegaskan bahwa mereka menyambut baik investasi China dalam rekonstruksi Afghanistan yang dilanda perang.

Kami menyambut mereka (China). Jika mereka memiliki investasi tentu kami menjamin keamanan mereka. Keamanan mereka sangat penting bagi kami, kata juru bicara Taliban Suhail Shaheen dalam wawancara dengan surat kabar South China Morning Postyang dipublikasikan pada tanggal 12 Juli lalu.

Kami telah ke China berkali-kali dan kami memiliki hubungan baik dengan mereka, ujarnya.

"China adalah negara sahabat yang kami sambut untuk rekonstruksi dan pengembangan Afghanistan," sambung Shaheen.

Lantas, mengapa China memberikan "hati" kepada Taliban?

Barangkali kata kuncinya adalah Uighur. China merasa perlu mendekati Taliban untuk meredam gerakan dari Uighur di willayah Xinjiang.

Bukan tanpa alasan, pasalnya, menurut laporan Wall Street Journalbaru-baru ini, ketika ditanya tentang penahanan massal sesama Muslim di Xinjiang dan pelanggaran hak asasi manusia di sana, seorang pejabat senior Taliban di Doha mengatakan bahwa mereka peduli dengan penindasan Muslim, tetapi mereka tidak bisa ikut campur dalam urusan dalam negeri China.

Sementara itu, seperti dikabarkan Global Timespada 12 Juli lalu, ketika ditanya soal, "Apakah pemerintah Afghanistan yang didominasi Taliban akan bergabung dengan negara-negara Barat dalam mengutuk pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang di PBB?", jurubicara Taliban Suhail Shaheen menegaskan bahwa keputusan apa pun harus dibuat berdasarkan kenyataan di lapangan saat itu.

Tidak sedikit media Barat yang menafsirkan pernyataan ini sebagai sinyal bahwa Taliban sedang "menjilat" China. Wall Street Journal, misalnya, yang menyoroti dukungan masa lalu Taliban untuk Uighur di Xinjiang. Namun kini mereka tampak ingin meredakan kekhawatiran China akan dukungan tersebut.

China Tidak Ceroboh

Meski begitu, China bukan lah negara yang ceroboh. Direktur Pusat Studi Afghanistan di Universitas Lanzhou Zhu Yongbiao mengatakan kepada Global Timesbahwa saat Amerika Serikat angkat kaki dari Afghanistan, ada sejumlah pihak di Afghanistan yang mencoba membesar-besarkan nilai strategis Afghanistan ke China dan mencoba merayu Beijing agar membuat keputusan yang "tidak bijaksana" untuk campur tangan dalam situasi Afganistan.

Untungnya, menurut Zhu, China tidak arogan untuk melakukan hal tersebut.

"Yang diinginkan China adalah mediasi antara pemerintah Afghanistan dan Taliban, dan bekerja sama dengan anggota SCO (Shanghai Cooperation Organization) lainnya untuk mencegah limpahan konflik yang sedang berlangsung atau potensi krisis pengungsi. China tidak tertarik mengirim pasukan untuk campur tangan dalam urusan internal Afghanistan," kata Zhu.

Di sisi lain, Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam sebuah pernyataan yang diuat Global Timestanggal 14 Juli lalu, menegaskan bahwa ada tiga prioritas untuk Afghanistan. Pertama, untuk menghindari meluasnya perang di Afghanistan, terutama perang saudara habis-habisan. Kedua, memulai kembali negosiasi intra-Afghanistan sesegera mungkin dan mewujudkan rekonsiliasi politik. Prioritas ketiga, mencegah pasukan teroris menguasai Afghanistan. []

Artikel Asli