80 Persen Muslim di Australia Pernah Alami Diskriminasi

republika | Global | Published at 20/07/2021 00:04
80 Persen Muslim di Australia Pernah Alami Diskriminasi

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Sekitar 80 persen Muslim di Australia mengaku pernah mengalami diskriminasi. Informasi itu terungkap dari sebuah laporan yang diterbitkan oleh Komisi Hak Asasi Manusia Australia (AHRC) pada Senin (19/7).

Setengah dari 1.000 responden survei mengaku mengalami diskriminasi dari aparat penegak hukum. Sebanyak 48 persen umat Islam di Australia menjadi sasaran diskriminasi di tempat kerja atau saat mencari pekerjaan.

Satu dari empat orang masih takut untuk terbuka jika diri sendiri atau orang yang dikenal mengalami diskriminasi. Pengacara Muslim yang berbasis di Sydney, Zaahir Edries, menyampaikan opininya terkait penyebab peningkatan kondisi tersebut.

Menurut pria yang bermigrasi ke Australia dari Afrika Selatan pada usia lima tahun itu, lonjakan diskriminasi terhadap Muslim Australia meningkat akibat peristiwa 9/11 di Amerika Serikat. Usai insiden tersebut, segalanya berubah cukup signifikan.

Edries merasakan sendiri dari pengalaman pribadinya. Kala itu, dia masuk kategori usia dewasa muda, berjuang keras mendamaikan identitasnya sebagai seorang Muslim dan sosok pengacara.

"Sikap terhadap keyakinan dan identitas saya berubah di ruang publik, sehingga sulit untuk berinteraksi dengan cara yang sama seperti yang saya lakukan sebelumnya," ujarnya, dikutip dari laman Xinhua Net .

Terlepas dari tingginya tingkat Islamofobia yang terungkap dalam survei AHRC, 63 persen responden percaya Australia adalah negara yang ramah Muslim. Sebanyak 74 persen responden mengaku sudah merasa seperti orang Australia.

Komisioner Diskriminasi Ras Australia, Chin Tan, mengatakan sudah waktunya bagi pemerintah federal untuk membentuk kerangka kerja antirasisme. Dia percaya ada kebutuhan kuat untuk memiliki strategi nasional terkoordinasi yang secara aktif melawan rasisme dan diskriminasi di berbagai tingkat.

"Itu membawa saya ke advokasi yang sekarang kami ajukan, komisi tentang penerapan kerangka kerja anti-rasisme nasional," ungkap Tan.

Artikel Asli