Tekan Risiko Kematian Pasien Covid-19, WHO Rekomendasikan Obat Radang Sendi Actemra Dan Kevzara

Global | rm.id | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 09:59
Tekan Risiko Kematian Pasien Covid-19, WHO Rekomendasikan Obat Radang Sendi Actemra Dan Kevzara

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan obat arthritis atau radang sendi Actemra produksi Roche, dan Kevzara dari Sanofi yang mengandung kortikosteroid, setelah terbukti mampu mengurangi kematian pada 11 ribu pasien.

Dalam evaluasi terapi perawatan pasien Covid-19 bergejala berat dan kritis menggunakan antagonis interleukin-6, yang menghalangi peradangan, kelompok studi WHO membuktikan terapi tersebut mampu mengurangi risiko kematian dan penggunaan ventilator.

Risiko kematian dalam 28 hari terhadap pasien yang mendapatkan salah satu obat radang sendi dengan kortikosteroid seperti dexamethasone, mencapai 21 persen.

Sedangkan yang mendapat perawatan standar, ada di angka 25 persen. Dari 100 pasien yang diterapi, 4 orang lebih diyakini mampu bertahan hidup.

Sementara risiko menggunakan ventilator atau kematian pada pasien yang mendapatkan obat-obatan dan kortikosteroid, ada di angka 26 persen. Tujuhpersen lebih rendah, dibanding mereka yang hanya mendapatkan perawatan standar, yang hanya 3 persen).

Dalam kondisi ini, dari setiap 100 pasien, WHO meyakini lebih dari 7 orang diyakini mampu bertahan hidup tanpa ventilator.

"Kami telah memperbarui arahan terapi klini, untuk mendapatkan gambaran perkembangan akhir," ujar Pejabat Darurat Kesehatan WHO, Janet Diaz seperti dikutip Reuters, Rabu (7/7).

Penelitian ini melibatkan 10.930 pasien, dengan rincian 6.449 orang mendapatkan salah satu terapi dan 4.481 mendapat perawatan standar atau plasebo.

Hasil penelitian yang merupakan kerja sama dengan King's College London, University of Bristol, University College London dan Guy's and St Thomas' NHS Foundation Trust ini, diterbitkan di Journal of American Medical Association, Selasa (6/7).

Pekan lalu, BPOM Amerika Serikat (FDA) menerbitkan izin penggunaan darurat untuk Actemra untuk pengobatan Covid-19.

Setelahnya, penjualan Actemra naik sepertiga, hingga mencapai 3 miliar dolar AS pada tahun 2020. Sementara Kevzara, dilaporkan naik 30 persen.

Pengujian Actemra dan Kevzara untuk pasien Covid-19 tergolong trial and error , karena masih ditemukan kegagalan ketika obat-obatan dicoba pada kelompok pasien yang berbeda.

WHO menyerukan masyarakat dunia untuk meningkatkan akses obat-obatan semacam itu. Terutama, di negara-negara berpenghasilan rendah yang kini menghadapi lonjakan kasus dan penyebaran varian baru Covid-19, serta pasokan vaksin yang tidak memadai.

"Mereka adalah orang-orang yang perlu dijangkau oleh obat-obatan semacam itu," tuturDiaz. [HES]

Artikel Asli