Lewat BRI, China Berpotensi Kuasai Dua Selat Strategis Indonesia

Global | rmol.id | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 09:45
Lewat BRI, China Berpotensi Kuasai Dua Selat Strategis Indonesia

RMOL.Kekhawatiran terkait skenario loan-to-ownyang dilakukan China dalam proyek Belt and Road Initiatives (BRI) telah banyak disuarakan.

Lewat skenario tersebut, China meminjamkan ratusan miliar dolar ke negara-negara agar mereka dapat membangun infrastruktur, mulai dari jalan raya, kereta api, hingga pelabuhan.

Dengan pinjaman yang fantastis dan strategi yang direncanakan sedemikian rupa, negara-negara peminjam kerap kewalahan membayar utang mereka. Alhasil, opsi untuk "menyerahkan" aset strategis ke China terpaksa dilakukan.

Hal ini memicu keprihatinan dari ekonom senior Dr. Rizal Ramli dalam tulisan opininya yang bertajuk "The Risks of Favoring China"yang dipublikasi The Diplomatpada Selasa (6/7).

Ia menyoroti dua proyek pelabuhan di Medan dan Bitung yang menjadi bagian kerjasama BRI dengan China.

Dilihat dari skalanya, dua proyek tersebut jauh lebih besar daripada yang dibenarkan secara komersial. Begitu dibangun dan dioperasikan, maka orang-orang akan memahami bahwa keduanya akan menambah daftar proyek yang gagal.

"Pelabuhan Medan, jika jatuh di bawah kendali China, akan memberi Beijing kontrol untuk mengendalikan lalu lintas melalui Selat Malaka," ujar mantan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman itu.

Kemungkinan yang sama juga terjadi jika China mengambil alih pelabuhan Bitung karena artinya Beijing dapat menguasai Selat Lombok, yang melalui Lombok-Makaasar-Manado.

Jika dua selat itu dikombinasikan, maka pada dasarnya China akan menguasai pintu gerbang antara Samudra Hindia dan Asia Timur.

"Satu atau bahkan dua pelabuhan lagi disewakan ke China selama beberapa dekade mendatang. Kerugiannya bukan hanya milik Indonesia, tapi juga seluruh Indo-Pasifik," pungkasnya. []

Artikel Asli