Iran Produksi Logam Uranium yang Diperkaya 20 Persen, Bisa untuk Senjata Nuklir

Global | inewsid | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 09:27
Iran Produksi Logam Uranium yang Diperkaya 20 Persen, Bisa untuk Senjata Nuklir

WINA, iNews.id - Iran memulai produksi logam uranium yang diperkaya, langkah yang bisa membantu negara itu mengembangkan senjata nuklir.

Iran sudah memproduksi sejumlah kecil logam uranium tahun ini namun belum diperkaya. Langkah itu merupakan pelanggaran kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015, berisi larangan semua pekerjaan terkait logam uranium karena bisa digunakan untuk membuat inti bom nuklir.

Iran membantah akan membuat senjata nuklir, namun mengembangkannya untuk bahan bakar reaktor riset.

Keputusan Iran itu dikecam Amerika Serikat (AS) dan Eropa karena semakin membuat rumit masalah serta berpotensi merusak rencana untuk kembali ke JCPOA. AS keluar dari JCPOA di bawah pemerintahan Donald Trump pada 2018, sejak itu Iran mulai melanggar poin-poin kesepakatan yang juga diteken China, Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman itu. Eropa saat ini mengupayakan agar AS dan Iran mau kembali ke JCPOA.

"Hari ini Iran memberi tahu bahwa UO2 (uranium oksida) yang telah diperkaya hingga 20 persen U-235 akan dikirim ke laboratorium R&D di Fasiltias Produksi Bahan Bakar di Esfahan, di mana akan diubah menjadi UF4 (uranium tetrafluorida) dan kemudian ke logam uranium yang diperkaya hingga 20 persen U-235, sebelum menggunakannya untuk membuat bahan bakar," bunyi pernyataan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), seperti dilaporkan kembali Reuters, Rabu (7/7/2021).

Inggris, Prancis, dan Jerman dalam pernyataan bersama sangat prihatin mengenai keputusan Iran.

"Iran tidak memiliki kepentingan sipil yang kredibel untuk R&D dan memproduksi logam uranium, yang merupakan langkah kunci dalam pengembangan senjata nuklir," bunyi pernyataan bersama yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Inggris.

"Dengan langkah-langkah terbaru, Iran mengancam hasil pembicaraan Wina yang berjalan sukses meskipun kemajuan dicapai dalam negosiasi enam putaran," kata mereka, seraya mendesak Iran untuk kembali ke pembicaraan di Wina, Austria.

Pertemuan berlangsung pada Juni setelah sempat ditunda dari rencana sebelumnya, April.Belum ada waktu pasti soal rencana pertemuan berikutnya.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan, pemerintahannya tidak menetapkan batas waktu untuk pembicaraan. Dia menegaskan, seiring berjalannya waktu, apa yang dilakukan Iran terhadap nuklirnya akan memengaruhi sikap AS untuk kembali ke JCPOA.

Artikel Asli