Mengenal Actemra dan Kevzara, Obat yang Disetujui WHO untuk Pasien Covid-19

Global | inewsid | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 07:51
Mengenal Actemra dan Kevzara, Obat yang Disetujui WHO untuk Pasien Covid-19

JAKARTA, iNews.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (6/7/2021), menambahkan dua obat baru dalam daftar portofolio perang melawan Covid-19, yakni Actemra (tocilizumab) produksi perusahaan farmasi Roche dan Kevzara (sarilumab) hasil kerja sama Sanofi dan Regeneron.

Obat antiradang ini terbukti mampu mengurangi risiko kematian pada pasien Covid-19 parah.

Kedua obat ini sebenarnya sudah digunakan sejak tahun lalu untuk pasien Covid dan kemanjurannya diungkap pada Januari 2021 berdasarkan hasil terapi di Inggris serta beberapa negara lain.

Imperial College London termasuk salah satu lembaga yang menguji dan mengevaluasi obat tersebut, yakni pada pasien dengan kondisi parah.

Hasil analisis saat itu mengungkap Actemra dan Kevzara mampu mengurangi angka kematian sebesar 8,6 persen serta mempercepat waktu penyembuhan pasien Covid sangat kritis.

Disebutkan, obat tersebut relatif mengurangi risiko kematian sebesar 24 persen bila diberikan dalam waktu 24 jam setelah pasien memasuki perawatan intensif. Rata-rata, pasien yang diobati dengan obat ini keluar dari ICU sepekan lebih awal dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan.

Actemra dan Kevzara merupakan antigonis reseptor interleukin-6 (IL-6) dan sering digunakan untuk mengobati kondisi anti-inflamasi, termasuk radang sendi.

IL-6 berperan dalam mendorong respons inflamasi yang aktif di paru-paru pasien Covid-19 dengan kondisi kritis.

Menurut National Rheumatoid Arthritis Society (NRAS) Inggris, sebagaimana obat biologis lainnya, Actemra dan Kevzara bekerja dengan menargetkan sitokin, protein yang bertanggung jawab atas peradangan disebabkan oleh respons sistem kekebalan.

Seorang peneliti studi REMAP-CAP, Anthony Gordon, mengatakan penggunaan IL-6 Actemra pada pasien dengan kondisi ringan tidak menunjukkan hasil menggembirakan.

Percobaan sebelumnya menggunakan antigonis reseptor IL-6 tidak menunjukkan manfaat yang jelas terkait perkembangan penyakit atau kelangsungan hidup pasien Covid-19, namun penelitian tersebut mencakup pasien yang tidak terlalu parah dan pengobatan dimulai pengobatan pada tahap berbeda," ujarnya.

REMAP-CAP merupakan platform uji coba adaptif internasional yang bertujuan menentukan strategi pengobatan efektif bagi pasien pneumonia berat, baik dalam kondisi pandemi maupun nonpandemi.

Studi lain dari pada Kevzara mendapati IL-6 tidak dapat mencegah kematian atau membantu pasien keluar dari ventilasi mekanis.

Sementara itu hasil penelitian terbaru WHO, dilakukan oleh tim khusus yang mengevaluasi terapi penggunaan obat ini, pasien parah dan kritis bisa terhindar dari risiko kematian dan kebutuhan akan penggunaan ventilasi mekanis.

Berdasarkan analisis, risiko kematian pada pasien parah 28 hari yang mendapatkan salah satu obat dari radang sendi dengan kortikosteroid seperti deksametason ini adalah 21 persen, dibandingkan dengan 25 persen mereka yang hanya mendapat perawatan standar.

Selain itu, risiko penggunaan ventilasi mekanis atau kematian adalah 26 persen bagi mereka yang mendapatkan obat-obatan ini, dibandingkan dengan 33 persen terhadap mereka yang mendapatkan perawatan standar.

Artikel Asli