Geram Disebut sebagai Negara Apartheid, Israel Panggil Dubes Prancis

Global | inewsid | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 12:55
Geram Disebut sebagai Negara Apartheid, Israel Panggil Dubes Prancis

YERUSALEM, iNews.id - Kementerian Luar Negeri Israel memanggil duta besar Prancis pada Kamis (27/5/2021) atas Menteri Luar Negeri, Jean-Yves Le Drian. Sebelumnya, Menlu Prancis Le Drian sebut situasi di Israel memiliki benih-benih Apartheid yang awet.

"Menteri Luar Negeri Israel, Gabi Ashkenazi memanggil Duta Besar Prancis, Eric Danon menyusul pernyataan menteri luar negeri Prancis yang mengkritik Israel," tulis harian Israel Maariv seperti dikutip aa.com.tr.

Dalam berita tersebut, Ashkenazi mengatakan pernyataan menteri luar negeri Prancis secara kategoris tidak dapat diterima. Israel mengharapkan pejabat dari negara sahabat untuk tidak mengekspresikan diri mereka dengan cara yang tidak bertanggung jawab yang pada akhirnya akan meningkatkan gerakan anti-Israel.

Pada akhir pekan lalu, Le Drian berkomentar tentang bentrokan baru-baru ini antara Arab-Israel dan Israel di kota-kota Israel.

"Eskalasi seperti itu jelas menunjukkan bahwa jika di masa depan, kita memiliki solusi selain solusi dua negara, juga akan memiliki benih-benih apartheid yang tahan lama,” katanya.

Apartheid memiliki arti politik berdasarkan perbedaan warna kulit.

Sementara pada hari Rabu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengecam komentar Le Drian sebagai klaim kurang ajar dan palsu serta tidak memiliki dasar. Dia mengatakan, semua warga negara di Israel setara di hadapan hukum, terlepas dari etnis mereka.

Sejak 13 April, bentrokan meletus di seluruh wilayah pendudukan karena serangan Israel dan pembatasan terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur, Masjid Al-Aqsa dan keputusan pengadilan Israel untuk mengusir 12 keluarga Palestina dari rumah demi kepentingan pemukim Israel.

Ketegangan berpindah ke Gaza pada 10 Mei, yang mengarah ke konfrontasi militer antara pasukan Israel dan kelompok perlawanan Palestina. Pesawat tempur Israel menyebabkan skala kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah pendudukan.

Gencatan senjata yang ditengahi Mesir mulai berlaku Jumat lalu, mengakhiri 11 hari pertempuran terburuk dalam beberapa tahun.

Pejabat kesehatan Palestina mengatakan, setidaknya 254 warga Palestina tewas, termasuk 66 anak-anak dan 39 perempuan. Semenatara lebih dari 1.900 lainnya terluka dalam serangan Israel di Gaza dan Tepi Barat.

Artikel Asli