Dampak dari Kudeta di Myanmar, 6 Bulan Lagi 3,4 Juta Warga Diprediksi Kelaparan

Global | harianhaluan | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 12:02
Dampak dari Kudeta di Myanmar, 6 Bulan Lagi 3,4 Juta Warga Diprediksi Kelaparan

HARIANHALUAN.COM - Warga Myanmar dilaporkan mulai tidak mampu membeli bahan makanan karena harganya yang mahal dan tidak adanya lapangan pekerjaan. Ini merupakan dampak dari kudeta militer yang berujung pada konflik.

Mengutip laporan AFP, mata pencarian telah hilang setelah pemogokan dan penutupan pabrik. Mereka yang cukup beruntung memiliki tabungan bank menghadapi antrian sepanjang hari untuk menarik uang tunai mereka.

Bertualang di depan umum untuk mencari nafkah juga menjadi bahaya tersendiri. Apalagi junta kerap tak pandang bulu.

Dalam data AAPP, sebuah organisasiu pemantau tahanan politik, 800 warga sipil tewas karena aksi keras junta. Demo damai warga sejak 1 Februari kerap dibalas dengan tindakan tegas yang mematikan.

"Kami harus memberi makan anak-anak kami agar mereka tidak kelaparan," kata Aye Mar, seorang warga Yangon, dikutip dari AFP, Jumat (28/5/2021).

Wanita berusia 33 tahun itu tidak bekerja. Sementara suaminya mengambil pekerjaan serabutan.

Seorang penjual makanan di aplikasi Wah Wah juga mengatakan kenaikan harga sejak kudeta membuat pelanggan tidak bisa lagi membeli barangnya. Padahal lauk yang ia jual hanya semangkuk ikan kering.

"Saya tidak bisa menjualnya karena pelanggan tidak mampu membelinya ... bahkan jika saya menjualnya dengan harga 500 kyat (Rp 5.000) per mangkuk," katanya

Mengutip Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) semakin banyak orang miskin kehilangan pekerjaan di negara itu. Respons bersama diperlukan untuk meringatkan penderitaan.

"Respons bersama diperlukan sekarang untuk meringankan penderitaan segera, dan untuk mencegah kemerosotan yang mengkhawatirkan dalam keamanan pangan," kata Direktur WFP untuk negara itu Stephen Anderson.

WFP mencatat harga beras dan minyak goreng telah naik masing-masing sebesar 5% dan 18% sejak akhir Februari. Rata-rata keluarga di ibukota komersial Yangon sudah tak makan makan, mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, dan mulai berutang.

Ancaman kelaparan ini juga menyebar ke wilayah pedesaan di luar Yangon. Di dekat perbatasan China di negara bagian Kachin, beras hampir 50% lebih mahal.

Selain itu biaya pengangkutan produk dari pertanian ke kota-kota juga melonjak setelah kenaikan harga bahan bakar 30% sejak kudeta. WFP memperkirakan bahwa dalam enam bulan ke depan, sebanyak 3,4 juta lebih orang akan kelaparan di Myanmar.

"Semakin banyak orang miskin kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membeli makanan," katanya lagi.

Respons bersama diperlukan sekarang untuk meringankan penderitaan segera, dan untuk mencegah kemerosotan yang mengkhawatirkan dalam keamanan pangan. (*)

Artikel Asli