Menang Pemilu, Bashar Al Assad Jadi Presiden Suriah Ke-4 Kali

Global | inewsid | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 06:54
Menang Pemilu, Bashar Al Assad Jadi Presiden Suriah Ke-4 Kali

KAIRO, iNews.id - Bashar Al Assad (55) kembali terpilih menjadi presiden Suriah untuk masa jabatan ke empat. Dia memperoleh 95,1 persen suara.

Penyataan ini disampaikan Kepala Parlemen, Hammouda Sabbagh, Kamis (27/5/2021). Jumlah pemilih mencapai 78,66 persen atau sekitar 14 juta warga yang turut berpartisipasi.

Pemerintah Assad seperti dikutip dari Reuters mengatakan, pemilihan yang digelar Rabu (26/5/2021) menunjukkan Suriah berfungsi normal. Padahal, negara ini tengah menghadapi konflik yang telah berlangsung selama satu dekade. Ratusan ribu orang tewas dan 11 juta orang terpaksa mengungsi.

Dengan kemenangan tersebut, Assad akan kembali memimpin Suriah untuk tujuh tahun mendatang. Fakta ini memperpanjang sejarah pemerintahan yang dipegang keluarga Assad hingga hampir enam dekade. Ayahnya, Hafez al-Assad, memimpin Suriah selama 30 tahun hingga kematiannya pada tahun 2000.

Suriah dilanda konflik di masa kepemimpinan Assad. Dimulai pada 2011 dengan protes damai sebelum berubah menjadi konflik multi-sisi yang telah memecah belah negara Timur Tengah dan menarik teman dan musuh asing.

"Terima kasih kepada semua warga Suriah atas rasa nasionalisme mereka yang tinggi dan partisipasi mereka yang penting. Untuk masa depan anak-anak Suriah dan kaum mudanya, mari kita mulai besok kampanye kerja untuk membangun harapan dan membangun Suriah," tulis Assad di halaman Facebook.

Assad mencalonkan diri melawan dua kandidat lain yakni mantan wakil menteri kabinet, Abdallah Saloum Abdallah dan Kepala Partai Oposisi, Mahmoud Ahmed Marei.

"Marei mendapat 3,3 persen suara sementara Saloum menerima 1,5 persen," kata Sabbagh.

Tantangan terbesar Assad saat ini yakni pembangunan ekonomi yang sebelumnya merosot. Pengetatan sanksi AS, keruntuhan keuangan negara tetangga Lebanon, pandemi Covid-19 yang menghantam pengiriman uang dari warga Suriah di luar negeri dan ketidakmampuan sekutu Rusia dan Iran untuk memberikan bantuan yang cukup menjadikan pemulihan ekonomi tampak buruk.

Artikel Asli