Presiden Xi akan Ikuti KTT Perubahan Iklim

Global | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 22 April 2021 - 05:34
Presiden Xi akan Ikuti KTT Perubahan Iklim

BEIJING - Presiden Tiongkok, Xi Jinping, akan mengikuti KTT perubahan iklim virtual pada pekan ini setelah ia mendapat undangan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Informasi ini dikatakan kata Beijing pada Rabu (21/4).

KTT ini digelar setelah AS dan Tiongkok yang merupakan dua negara penghasil polusi terbesar di dunia, berupaya untuk mencari kesamaan kepentingan dalam memerangi perubahan iklim meskipun sedang terjadi ketegangan politik yang lebih luas.

Selain Xi, Presiden Biden turut mengundang 39 pemimpin dunia lainnya termasuk Presiden Russia, Vladimir Putin, pada pertemuan yang dimulai bersamaan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April.

Undangan itu juga dimaksudkan untuk menandai kembalinya Washington DC ke garis depan perang melawan perubahan iklim setelah mantan Presiden Donald Trump mundur dari kampanye melawan perubahan iklim saat masih berkuasa.

KTT virtual ini akan menjadi pertemuan pertama antara kedua pemimpin sejak Biden menjadi presiden. "Presiden Xi akan menyampaikan pidato penting pada pertemuan itu," kata Kemenlu Tiongkok.

Beberapa hari lalu, petinggi utusan iklim AS, John Kerry, berkunjung ke Shanghai dan kunjungan ini merupakan pejabat AS pertama dari pemerintahan Biden yang mengunjungi Tiongkok. Kerry ke Tiongkok untuk membahas isu perubahan iklim yang akan diangkat pada KTT nanti.

Di Shanghai, Kerry dan mitranya dari Tiongkok, Xie Zhenhua, mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk bekerja sama dalam menangani krisis iklim, bahkan ketika ketegangan bilateral di berbagai bidang lain sedang berada puncaknya.

Tidak ada solusi global untuk perubahan iklim yang mungkin terjadi tanpa partisipasi AS dan Tiongkok, karena dua negara perekonomian teratas dunia ini bersama-sama menyumbang hampir setengah dari total emisi gas rumah kaca dunia saat ini.

Balikkan Keadaan

Pada masa kepemimpinannya, Presiden Biden telah menjadikan kebijakan iklim sebagai prioritas utamanya. Hal ini bertolak belakang dengan kebijakan pendahulunya, Donald Trump, yang amat dekat dengan industri bahan bakar fosil.

Presiden Biden telah membawa AS kembali bergabung kembali dengan Kesepakatan Paris 2015 yang berkomitmen untuk mengambil tindakan demi menjaga agar kenaikan suhu tidak lebih dari dua derajat Celcius di atas tingkat praindustri.

Sedangkan Tiongkok, negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, telah berjanji untuk mencapai emisi puncak pada 2030 dan berupaya mencapai netral karbon tiga puluh tahun kemudian.

Sementara itu, Presiden Biden pekan ini diperkirakan akan mengumumkan target baru AS untuk mengurangi emisi karbon dalam KTT di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas suhu yang memecahkan rekor dan bencana alam yang semakin sering terjadi. AFP/I-1

Artikel Asli