Loading...
Loading…
Menristek Bambang Jelaskan Alasan Pengembangan Vaksin di Indonesia Butuh Waktu Lama

Menristek Bambang Jelaskan Alasan Pengembangan Vaksin di Indonesia Butuh Waktu Lama

Gaya Hidup | okezone | Selasa, 02 Maret 2021 - 12:34

Terkait pengadaan, pengembangan dan pembuatan vaksin, tidak bisa disangkal bahwa memang Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Sebut saja seperti China, Inggris, dan Amerika.

Pengembangan vaksin Covid-19 memang butuh waktu panjang dan penelitian yang detail mendalam.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan, selama ini latar belakang research dan development (RnD) di Tanah Air masih lemah. Inilah yang jadi salah satu penyebab utama, vaksin di Indonesia bisa lebih lama muncul daripada di negara lain.

Jawabannya, kita lihat latar belakangnya. Kunci negara bisa menguasai vaksin, menghasilkan vaksin dengan cepat itu karena RnD nya kuat. Sudah kuat lalu terintergrasi dengan manufacturingnya, contohnya Sinovac, Pfizer, Jhonson&Jhonson, dan AstraZeneca itu punya sendiri masing-masing RnD nya, papar Menristek Bambang Brodjonegoro, dalam gelaran virtual Inovasi Pulihkan Indonesia, Selasa (2/3/2021).

MenrisTek Bambang menambahkan, dengan sistem penelitian dan pengembangan yang terhubung langsung dengan manufacture tersebut. Menjadikan proses produksi sudah bisa disesuaikan sejak awal, mengikuti kapasitas yang dimiliki pabrik atau manufacture tersebut.

Karena dari awal manufacturing-nya sudah tahu RnD harus diarahkan sesuai kapasitas manufacturing-nya. Kalau terbalik, manufacturing-nya yang di tengah-tengah harus disesuaikan. Ini yang terjadi di Indonesia, hilirnya kita ada Bio Farma nah hulunya kita yang masih harus belajar banyak, tambahnya.

Selain itu, terkait pengadaan dan pengembangan vaksin, Indonesia masih mengalami kendala di bidang pengetahuan dan pengalaman dalam hal peralihan dari laboratorium ke manufacture.

Peralihan dari lab ke manufacturing ini enggak mudah. Ini harus dipelajari dan harus ada pengalamannya, enggak bisa ujug-ujug usai dapat bibit vaksin lalu kirim ke pabrik buat diolah. Ini jadi pekerjaan rumah dan pelajaran berharga buat kita, pungkas Menristek Bambang.

Original Source

Topik Menarik

{