IHFFM 2026 Digelar di Melbourne, Film Horor Indonesia Go Internasional

IHFFM 2026 Digelar di Melbourne, Film Horor Indonesia Go Internasional

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 18 September 2026 - 08:02
share

Kiprah film horor Indonesia kini makin unjuk gigi di panggung internasional. Bukan lagi sekadar konsumsi bioskop lokal, kekayaan mitologi dan sinematografi horor Tanah Air bersiap menyapa publik Australia lewat ajang Indonesian Horror Film Festival Melbourne (IHFFM) 2026.

Festival yang menjadi wadah selebrasi sekaligus ruang ekspansi bagi industri kreatif ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Tak tanggung-tanggung, ajang ini mengambil tempat di The Capitol Theatre, sebuah tempat pertunjukan bergengsi dan bersejarah yang terletak tepat di jantung kota Melbourne.

Event Director IHFFM 2026, Sulistyawan Wibisono, mengungkapkan alasan pemilihan Melbourne sebagai tuan rumah. Selain memiliki komunitas Warga Negara Indonesia (WNI) yang cukup besar, Melbourne dikenal sebagai pusat seni dan industri teater yang sangat beragam.

"Melbourne kota ini sebenarnya nggak jauh dari Indonesia. Kalau naik pesawat direct itu kira-kira 6-7 jam kalau dari Jakarta. Tetapi secara kultur mereka lebih ke seperti Eropa, kebetulan juga Melbourne itu kalau kota, dibanding dengan kota-kota Australia lainnya, Melbourne ini termasuk yang paling diverse, kemudian yang paling istilahnya itu dari sisi cultural-nya itu lumayan kompleks dan pusat industri teater dan seni pertunjukan, salah satunya film," kata Sulistyawan Wibisono dalam konferensi pers di Mayapada Tower 1 Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga : Film Harusnya Horror Dibajak, Reza Arap Ancam Tempuh Jalur HukumSulistyawan menjelaskan keberhasilan IHFFM 2026 mengamankan venue ikonik di kawasan Swanston Street tersebut. Gedung yang berhadapan langsung dengan Melbourne Town Hall ini menawarkan koridor khusus untuk menyambut para bintang tamu di karpet merah.

"Ini adalah tempat The Capitol Theatre yang akan kita gunakan untuk penyelenggaraan Film Horor Festival Indonesia nantinya di Kota Melbourne. Ini sangat bersejarah. Nantinya salah satu acaranya itu adalah Meet and Greet atau Red Carpet. Nah ini Swanston Street, ini pusat Kota Melbourne. Gedung ini persis di depan Melbourne Town Hall, jadi memang benar-benar di jantung kota," jelas dia.

Lebih lanjut, Sulistyawan menuturkan bahwa potensi pasar untuk film horor Indonesia di Australia tidak hanya datang dari komunitas diaspora, tetapi juga dari pecinta film horor lokal yang sudah memiliki pasarnya tersendiri.

"Khusus untuk film horor, kita menyadarinya tidak hanya masyarakat Indonesia tapi juga pecinta horor Australia. Mereka punya komunitasnya sendiri, market, niche market-nya ada tersendiri yang sudah kita detect. Dan di antara mereka sudah banyak yang menyatakan untuk ingin menonton gaya horornya Indonesia itu seperti apa," tambah Sulistyawan.

Baca Juga : Dibintangi Titi Kamal hingga Andri Mashadi, Film Perumahan Laddaland Siap Hadirkan Horor PsikologisSebagai wadah pertukaran budaya, film-film yang dikurasi untuk IHFFM 2026 secara khusus menampilkan narasi mitologi serta kebudayaan lokal Indonesia. Sederet judul seperti Malam 3 Yasinan, Kuyang, Sukma, Ritual Gaib, hingga film aksi fenomenal The Raid siap diputar sepanjang hari.

Festival Kurator IHFFM 2026, Intan Kieflie, membeberkan bahwa strategi penyusunan lineup film disesuaikan dengan kebiasaan dan gaya hidup publik Melbourne agar seluruh tayangan mendapat apresiasi maksimal. Seperti Film Malam 3 Yasinan dipilih sebagai pembuka festival. Film yang dibintangi Hamish Daud dan Salshabilla Adriani ini dinilai cocok menjadi magnet awal bagi penonton diaspora maupun penonton lokal.

"Lineup itu udah kita atur sedemikian rupa, kenapa opening adalah Malam 3 Yasinan? Malam 3 Yasinan kita ada Hamish, kita ada Shella, dan kita akan ada opening dan opening itu akan mengundang beberapa pejabat lokal dan pejabat Indonesia juga," tutur Intan Kieflie.

Memasuki tengah hari, giliran film Kuyang yang diplot untuk memperkenalkan mitos lokal secara lebih kental. Sementara itu, Sukma yang diproduseri dan disutradarai oleh Baim Wong dipasang pada sesi setelah makan siang untuk memperlihatkan kualitas produksi film horor Indonesia yang berkelas.

"Kuyang itu ibaratnya 'Okay, ini udah mitos Indonesia, culture-nya kuat' dan kita bisa bridge orang, itu kita putarnya jam 12.00 siang. Sukma adalah presentasi kebanggaan kita sebenarnya, karena value-nya itu sangat internasional. Makanya kita taruh itu setelah makan siang, jadi orang yang nonton Sukma tahu dan bisa bangga, 'Okay, Indonesian horror ternyata begitu. It's have a value, ini benar-benar well executed'," ungkap dia.Langkah strategis juga diterapkan pada pemutaran Ritual Gaib, yang mana penayangannya di IHFFM 2026 sekaligus menjadi ajang gala premiere sebelum tayang secara reguler di bioskop Australia. Sebagai penutup di penghujung malam, pemutaran film The Raid disiapkan khusus bagi para pencinta laga dan penikmat bioskop malam. Sesi ini juga dirangkaikan dengan agenda eksklusif meet and greet bersama aktor laga Yayan Ruhian yang memerankan karakter ikoniknya.

Penyelenggaraan festival independen ini turut mendapat apresiasi hangat dari Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) sekaligus pakar hubungan internasional, Dino Patti Djalal. Menurutnya, inisiatif diaspora di Australia ini merupakan langkah nyata dalam mempromosikan ekonomi kreatif Indonesia.

“Saya menyatakan terima kasih dan apresiasi kepada diaspora kita di Melbourne, Australia, karena telah berinisiatif untuk menyelenggarakan Indonesian Horror Film Festival ini. Dan ini suatu hal yang saya kira patut kita apresiasi karena diaspora secara independen mempunyai inisiatif untuk mempromosikan ekonomi kreatif Indonesia, khususnya film-film dan khususnya juga film horor kita,” papar Dino.

Dino juga menyoroti keaktifan komunitas diaspora Indonesia di Australia yang dinamis di berbagai sektor, serta peran penting mereka sebagai garda terdepan promosi budaya Tanah Air di mancanegara.

“Kita harapkan makin banyak lagi inisiatif-inisiatif dari diaspora untuk mempromosikan budaya dan film Indonesia. Saya sendiri juga pernah menjadi Duta Besar di Amerika Serikat, dulu diaspora umumnya menjadi hub dan promotor bagi budaya kita secara independen. Apakah mereka digandeng pemerintah atau tidak digandeng pemerintah, mereka selalu dengan semangat mempromosikan budaya Indonesia,” pungkas dia.

Dengan hadirnya deretan aktor papan atas seperti Yayan Ruhian, Baim Wong, Hamish Daud, hingga Salshabilla Adriani, serta dukungan dari media internasional seperti Variety, IHFFM 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pemutaran film semata. Festival ini menjadi langkah awal yang solid dalam membuka jalur distribusi reguler dan memperluas jangkauan sinema Indonesia di kancah internasional.

Topik Menarik