Risiko Penyakit Kronis Bisa Dideteksi dari DNA, Ini Penjelasannya
JAKARTA - Kemajuan teknologi di bidang genetika telah membuka jalan bagi berbagai inovasi di dunia kesehatan. Salah satu terobosan paling penting adalah sekuensing genomik, sebuah metode yang memungkinkan ilmuwan membaca dan memahami seluruh informasi genetik makhluk hidup. Teknologi ini menjadi fondasi dalam pengembangan pengobatan presisi, deteksi penyakit, hingga riset biologi modern.
Sekuensing genomik adalah proses menentukan urutan lengkap DNA dalam suatu genom. Dengan sekuensing genomik, para ilmuwan dapat “membaca” susunan huruf-huruf ini untuk mengetahui bagaimana gen bekerja, mutasi yang terjadi, hingga potensi risiko penyakit yang mungkin dimiliki seseorang.
dr. Vincentius Simeon Weo Budhyanto, Ketua Yayasan Satriabudi Dharma Setia, mengungkap teknologi ini lebih dari sekadar screening kesehatan karena proses yang lebih detail, termasuk mendeteksi risiko kanker dari DNA.
“DNA itu seperti buku yang tebal banget yang itu diturunkan dari orang tua ke anak. Ini lebih dari sekadar screening karena kalau screening itu enggak baca full. Nah yang kita kerjakan di sini adalah kita baca full,” ungkap dr. Vincentius dalam acara Peluncuran Next Generation Sequencing (NGS).
dr. Vincentius menjabarkan alat NGS ini akan lebih detail membaca DNA manusia dan mengurutkannya untuk mengetahui risiko suatu penyakit. Teknologi ini akan membaca DNA mana yang paling memungkinkan untuk membawa risiko kanker seperti kanker payudara hingga kanker paru.
“Dengan teknologi yang ada ini, kita 91 persen sudah bisa baca isinya. Jadi ketika kita kumpulin buku (DNA) ini dalam satu populasi. Nah itu kan kita bisa lihat pohon pergerakan, berapa orang dari populasi tersebut yang nanti misalnya mengembangkan kanker payudara, kanker paru,” tambah dr. Vincentius.
Melalui genome sequencing ini, para ilmuwan dapat memahami risiko penyakit seseorang bahkan sebelum gejala muncul. Dengan begitu, mendeteksi penyakit dari DNA ini dapat menjadi langkah preventif untuk menangani masalah gangguan dan komplikasi penyakit kronis.
Jason Kang, Ph.D., General Manager Asia di Ultima Genomics, mengungkap saat ini puluhan alat sekuensing telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan didukung Kementerian Kesehatan RI. Ditargetkan sedikitnya 200 ribu genom masyarakat Indonesia dapat berhasil disekuensing.
“Dengan sistem UG200 terbaru yang memiliki skalabilitas tinggi dan biaya sekuensing yang lebih rendah, kami membuka peluang yang sebelumnya tidak terjangkau,” ujarnya.









