Khotbah Jumat Terakhir Bulan Syawal : Menghadapi Bulan Haram

Khotbah Jumat Terakhir Bulan Syawal : Menghadapi Bulan Haram

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 10 April 2026 - 05:15
share

Hari ini kita berada di Hari Jumat terakhir bulan Syawal 1447 Hijriyah bertepatan dengan 10 April 2026.Berikut materi khotbah Jumat ini bertema Menghadapi Bulan Haram, yang disampaikan oleh Ustaz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Khotbah Jumat pertama:

Setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, terbentang di hadapan kita bulan-bulan yang sangat mulia—bulan-bulan yang disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ…

“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

Allah melarang perbuatan zalim terhadap diri sendiri di bulan-bulan haram. Padahal, berbuat zalim tetap haram meskipun di luar bulan-bulan tersebut. Ini menunjukkan bahwa perbuatan zalim terhadap diri sendiri memiliki nilai dosa yang sangat berat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, kita memiliki kewajiban untuk mempersiapkan diri menghadapi tiga bulan ke depan. Sebab, bulan-bulan ini adalah bulan yang mulia. Perbuatan zalim seperti berbuat dosa, maksiat, atau melakukan sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah—ternyata dosanya dilipatgandakan dan menjadi lebih besar di sisi-Nya.

Jangan sampai pada bulan-bulan ini kita justru merugi karena lebih banyak melakukan dosa daripada amal ketaatan dan kebaikan.

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin, marilah kita berusaha di tiga bulan ini untuk berazam, bertekad bulat, dan berniat kuat memanfaatkan hari-hari untuk beramal shalih serta meninggalkan perbuatan maksiat.

Sesungguhnya Allah mensyariatkan semua ini demi kebaikan kita. Bukan karena Allah membutuhkan amalan kita. Allah tidak membutuhkan amal shalih kita sedikit pun. Kitalah yang membutuhkan amal tersebut demi kebaikan dan keberuntungan di dunia dan akhirat.Maka mintalah kepada Allah agar Dia menolong kita selama tiga bulan ini untuk memperbanyak ketaatan. Sebab, jika bukan karena pertolongan-Nya, mustahil kita mampu menjalankan ibadah dengan benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fātiḥah [1]: 5)

Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, karena ibadah itu berat, memerlukan bantuan dari Allah. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu melaksanakan ketaatan sebagaimana mestinya.Berapa banyak orang yang shalat namun tidak dibantu oleh Allah untuk khusyuk. Berapa banyak yang berpuasa namun tidak mendapatkan taufik untuk meninggalkan hal-hal yang sia-sia. Berapa banyak yang tidak dibantu oleh Allah untuk berzikir, sehingga hatinya lebih suka mengingat dunia, tenggelam dalam syahwat, dan berat untuk mengingat Allah.

Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa kepada Mu‘adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau bersabda: “Wahai Mu‘adz, sesungguhnya aku mencintaimu. Maka janganlah engkau tinggalkan doa ini setiap selesai salat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.'” (HR. Abu Dawud)

Sungguh, ini adalah doa yang sangat kita butuhkan, wahai kaum Muslimin. Doa yang amat penting untuk kita ucapkan setiap selesai shalat. Tanpa bantuan Allah, mustahil kita bisa mensyukuri nikmat-Nya yang begitu banyak.

Khotbah Jumat Kedua: Menghadapi Bulan Haram

Sesungguhnya orang-orang musyrik Quraisy dahulu—meskipun mereka menyekutukan Allah—masih sangat menghormati bulan-bulan haram.Disebutkan bahwa orang-orang Arab datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, bulan ini adalah bulan haram. Kami tidak bisa mendatangi engkau kecuali pada bulan-bulan haram.” Mereka berkata, “Fa innā kuffāru Muḍar—kami tinggal di antara wilayah engkau dengan wilayah kaum Muḍar.”

Siapakah kaum Muḍar itu? Mereka adalah kaum yang dikenal sangat bengis dan kejam. Setiap kali ada orang yang melewati wilayah mereka, akan mereka bunuh dan rampas hartanya. Namun, ketika datang bulan-bulan haram, mereka tidak berani melakukannya. Mereka sangat menghormati tiga bulan haram.

Lalu bagaimana dengan kita yang beriman? Kita seharusnya jauh lebih layak daripada mereka untuk mengagungkan bulan-bulan haram ini. Kita lebih pantas memuliakannya dengan sebenar-benar pemuliaan, yaitu dengan memperbanyak ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menjauhi kemaksiatan.

Wallahu A'lam

Topik Menarik