Gangguan Mental Hantui Warga Terdampak Perang AS-Israel Vs Iran, Ini Penyebabnya!
JAKARTA, iNews.id – Eskalasi perang AS-Israel vs Iran di kawasan Timur Tengah bukan hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa. Konflik bersenjata tersebut juga memicu risiko tinggi gangguan kesehatan mental bagi masyarakat yang hidup di wilayah terdampak.
Mantan Direktur Penyakit Menular Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan situasi perang membuat masyarakat harus hidup dalam tekanan psikologis yang berat setiap hari.
Menurutnya, warga yang berada di area konflik terus menghadapi rasa takut akibat ancaman serangan, suara ledakan, hingga ketidakpastian kondisi keamanan di sekitar mereka.
"Dampak perang salah satunya adalah krisis kesehatan mental. Masyarakat di daerah konflik tentu amat tertekan, mengalami trauma kejiwaan dan juga ketakutan dengan suara bom atau serangan udara yang ada," kata Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Tekanan mental tersebut semakin meningkat ketika warga harus menghadapi kehilangan anggota keluarga atau orang terdekat akibat perang. Banyak keluarga yang harus merasakan duka karena kerabat mereka meninggal dunia ataupun terpisah saat proses evakuasi berlangsung.
Selain kehilangan orang tercinta, masyarakat di wilayah konflik juga kerap kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan. Serangan militer dapat menghancurkan rumah, tempat kerja, hingga fasilitas umum di kota tempat mereka tinggal.
Kondisi tersebut memicu trauma mendalam yang berpotensi berkembang menjadi berbagai gangguan mental, mulai dari stres berat, kecemasan, hingga trauma berkepanjangan.
Tidak hanya itu, banyak warga yang terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman. Namun, kehidupan di pengungsian dengan fasilitas terbatas, kepadatan tinggi, serta ketidakpastian masa depan juga memperparah tekanan psikologis para korban konflik.
Di tengah kondisi tersebut, sistem layanan kesehatan di wilayah perang juga kerap terdampak. Rumah sakit bisa rusak akibat serangan, tenaga medis terbatas, dan fasilitas kesehatan tidak mampu melayani seluruh kebutuhan masyarakat.
Prof Yoga menilai kondisi ini menunjukkan bahwa konflik bersenjata membawa dampak luas terhadap kesehatan masyarakat, termasuk kesehatan mental.
Dia menegaskan, perdamaian menjadi solusi paling penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas akibat perang.
"Seperti yang disampaikan Direktur Jenderal WHO, the best medicine is peace. Obat terbaik adalah perdamaian," ujarnya.










