Di Balik Misteri Pamali, Pesan Leluhur yang Terlupakan
JAKARTA, iNews.id - Banyak dari kita tumbuh dengan kalimat sederhana yang sering disebut oleh orang tua seperti “Jangan begitu, pamali.” Kalimat tersebut sering diucapkan tanpa adanya penjelasan yang pasti mengapa.
Larangan-larangan seperti ini kerap memunculkan banyak sekali pertanyaan. Apalagi saat mencoba mencari jawaban akan larangan tersebut. Padahal, dalam kehidupan masyarakat Indonesia, pamali bukan sekadar mitos yang digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak.
Dalam episode Kata Mereka kali ini, Bang Robby membahas mengenai pamali yang sering menjadi perbincangan orang tua sejak dahulu. Pamali merupakan bentuk larangan adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Istilah pamali sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti tabu atau suatu larangan. Meskipun sangat erat kaitannya dengan budaya adat Sunda, konsep amali sendiri banyak juga ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dengan beberapa istilah yang berbeda-beda.
Pamali sendiri kerap digunakan oleh orang tua sebagai sebuah cara mudah dan sederhana untuk dapat memberikan pembelajaran dan mengatur perilaku anak-anaknya. Larangan-larangan tersebutlah yang secara halus tertanam dan menumbuhkan nilai-nilai seperti sopan santun, kehati-hatian dan juga sikap saling menghormati orang dan juga lingkungan sekitar di dalam diri anak-anak.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pamali dapat diartikan sebagai suatu pantangan yang didasarkan pada adat atau kebiasaan. Pamali lahir dari berbagai pengalaman hidup masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Sebenarnya ada banyak pamali yang memiliki penjelasan rasional dibaliknya. Misalnya larangan duduk di depan pintu yang sering dikaitkan dengan mitos “susah jodoh”. Secara logika, duduk di depan pintu tentu dapat menghalangi orang yang ingin keluar atau masuk rumah sehingga dianggap kurang sopan.
Melalui pembahasan mengenai pamali, Bang Robby ingin mengingatkan bahwa pamali tidak selalu berkaitan dengan hal mistis. Dalam banyak kasus, pamali justru menjadi satu cara bagi para orang tua untuk dapat menyampaikan pesan dan juga larangan kepada anak-anaknya dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Selain itu, pamali juga menjadi bagian dari budaya dan identitas masyarakat daerah. Larangan-larangan tersebut diwariskan secara lisan sebagai bentuk kearifan lokal yang dijaga oleh para leluhur. Di beberapa daerah bahkan terdapat pamali yang masih dijalankan hingga saat ini. Contohnya, larangan menikah dengan satu marga dalam budaya Batak, atau larangan menolak makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah di sebagian wilayah Kalimantan.
“Pamali itu bukan selalu tentang kutukan atau hal gaib, tapi tentang cara orang tua dulu menjaga kita,” ujar Robby Purba.
Baginya, pamali dapat dipahami sebagai warisan nilai dari masa lalu yang masih relevan untuk direnungkan oleh generasi sekarang. Saksikan kisah lengkapnya hanya di channel YouTube @robbypurbaofficial.










