Kanker Payudara Tertinggi di Inggris dan RI, Ini Penjelasan Dokter
Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis onkologi dari Siloam Hospital, dr. Suyanto, Sp.PD., MRCP Oncology UK, membagikan pengalamannya menangani pasien kanker di Inggris dan Indonesia. Ia menjelaskan, secara umum jenis kanker yang paling banyak ditemukan di Inggris tidak jauh berbeda dengan Indonesia.
Di mana kanker payudara adalah kasus terbanyak yang dialami para pasien kanker di Inggris maupun Indonesia. Sementara itu, kanker usus (colorectal), kanker paru, dan kanker prostat menyusul.
Baca juga: Kemenkes Akan Upgrade Cek Kesehatan Gratis 2026, Kanker Payudara Masuk Prioritas
“Untuk insiden kanker di UK, payudara untuk wanita nomor satu. Top five masih hampir sama seperti Indonesia, payudara, colorectal, paru, dan prostat untuk pria,” ujarnya saat Media Gathering Siloam Hospital pada Kamis (26/2/2026).
Dapatkan Voucher Subscription Vision+ Setiap Pembelian Motorola RAZR 60, Streaming Sepuasnya!
Menurutnya, kanker payudara tetap menjadi jenis kanker paling umum pada perempuan baik di Inggris maupun Indonesia. Sementara kanker kolorektal dan prostat juga masuk dalam kelompok kasus terbanyak.Namun, terdapat faktor gaya hidup yang mempengaruhi perbedaan angka kejadian di masing-masing negara. Di Indonesia, angka kanker paru dinilai cukup tinggi, salah satunya berkaitan dengan kebiasaan merokok orang Indonesia.
“Kontrol lifestyle itu ada yang memang di Indonesia lebih tinggi dari Inggris karena perbedaan kultur atau gaya hidup,” katanya.
Dokter Suyanto menjelaskan bahwa di Inggris, kemungkinan kanker lebih sering ditemukan pada stadium dini daripada di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan sistem kesehatan, kesadaran masyarakat, dan juga akses terhadap pemeriksaan dan teknologi diagnostik yang lebih luas di sana.
Dengan sistem skrining dan akses layanan kesehatan yang baik, pasien di Inggris cenderung memeriksakan diri lebih awal ketika muncul gejala atau bahkan sebelum gejala muncul melalui program deteksi dini. Sementara di Indonesia, masih menghadapi tantangan di mana masyarakat masih kurang kesadaran untuk melakukan pemeriksaan rutin dan juga keterbatasan akses fasilitas kesehatan di beberapa wilayah.
Untuk itu Dokter Suyanto menilai, peningkatan edukasi dan juga deteksi dini menjadi kunci penting untuk menekan angka kematian akibat kanker.










