Pesan Minuman Manis di Thailand Kini Otomatis Less Sugar, Jadi Tren di Asia Tenggara?
JAKARTA - Selain terkenal dengan tempat wisata dan budayanya, Thailand juga dikenal dengan kulinernya yang khas. Salah satunya adalah Thai tea khas Thailand yang biasanya menjadi incaran para pelancong yang berlibur ke Negeri Gajah Putih tersebut.
Namun jangan kaget jika sekarang rasa manis pada kopi atau Thai tea di Thailand berkurang. Pasalnya, pemerintah Thailand resmi mengubah standar kadar gula dalam minuman kemasan dan gerai populer.
Kini, kadar manis normal atau “normal sweet” berarti 50 persen lebih sedikit gula dibanding sebelumnya. Kebijakan ini mulai diberlakukan sebagai bagian dari kampanye nasional untuk menekan konsumsi gula berlebih.
Diketahui, selama ini minuman manis di Thailand memang dikenal cukup intens. Baik itu iced coffee, Thai milk tea, hingga minuman cokelat dingin.
Namun dengan aturan baru, kadar gula dalam satu gelas standar kini dipangkas setengahnya. Sebagai gambaran, minuman kopi es ukuran sekitar 473 ml yang sebelumnya mengandung lebih dari tujuh sendok teh gula, kini hanya sekitar tiga hingga empat sendok teh.
Artinya, wisatawan tidak perlu lagi memilih opsi "less sugar" untuk mendapatkan minuman yang lebih sehat dari biasanya. Namun, pelanggan tetap bisa meminta tingkat kemanisan lama jika menginginkannya.
Dikutip Rabu (25/2/2026), thethaiger Tren ini tidak hanya mengurangi kalori, tetapi juga berdampak positif, seperti energi harian yang lebih stabil, berkurangnya risiko obesitas dan diabetes, kesehatan metabolisme yang lebih baik, hingga kulit yang lebih terjaga.
Menariknya, menurut otoritas kesehatan setempat, lidah manusia hanya membutuhkan sekitar dua minggu untuk beradaptasi dengan tingkat kemanisan baru.
Langkah Thailand ini juga bisa menjadi sinyal perubahan gaya hidup di Asia Tenggara. Di tengah tren minuman kekinian yang cenderung mengandung banyak gula, kesadaran akan gula tersembunyi semakin meningkat.
Tren ini bukan semata-mata menghapus minuman manis dari keseharian, tetapi menggeser standar secara perlahan. Strategi ini dinilai lebih realistis karena tidak memaksakan perubahan drastis, melainkan membentuk kebiasaan baru secara bertahap.










