Menkes Sebut Kanker Bisa Disembuhkan, Asalkan...
JAKARTA, iNews.id - Kanker tidak lagi harus dipandang sebagai vonis akhir. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan, peluang kesembuhan kanker sangat besar apabila penyakit tersebut terdeteksi sejak dini dan segera ditangani secara medis.
Hal itu disampaikan Menkes saat membuka puncak peringatan Hari Kanker Sedunia di SQuare One Function Cilandak, Jakarta Selatan. Ia menilai, ketakutan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan justru menjadi kendala utama dalam upaya penanganan kanker.
“Kanker bisa disembuhkan, sama seperti penyakit lainnya. Masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan diri. Jika diketahui di stadium satu, kesembuhan sangat mungkin terjadi. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, harapan kesembuhan juga semakin tinggi,” ujar Menkes Budi dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (5/2/2026).
Menkes menekankan, kemajuan teknologi medis saat ini telah membuka peluang besar bagi pasien kanker untuk pulih, asalkan pemeriksaan dilakukan sedini mungkin dan tidak menunggu gejala berat muncul.
Lebih lanjut, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Murti Utami membeberkan fakta bahwa sebagian besar kematian akibat kanker di Indonesia disebabkan keterlambatan penanganan.
“Terdapat sekitar 400 ribu kasus baru setiap tahunnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan tentang masa depan keluarga yang terdampak. Saat ini, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi beban tertinggi,” jelas Ami.
Ia menambahkan, kanker termasuk penyakit katastropik yang membutuhkan biaya perawatan sangat besar. Negara tercatat mengalokasikan anggaran hingga Rp5,9 triliun untuk pembiayaan kanker.
“Beban ini tidak hanya dirasakan oleh negara, tetapi juga berdampak secara ekonomi pada masyarakat,” katanya.
Untuk menekan angka kematian sekaligus pembiayaan, Kementerian Kesehatan menggulirkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara. Melalui program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan skrining terhadap 40 juta perempuan berusia di atas 30 tahun.
Namun, Menkes mengungkapkan tingkat partisipasi masyarakat masih rendah. Dari target tersebut, baru sekitar 4 juta perempuan yang menjalani skrining.
“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera. Mari kita dorong seluruh sasaran untuk datang ke Puskesmas, jangan menunggu sakit,” tegas Menkes.
Di kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi langkah pemerintah yang menyediakan alat skrining hingga ke daerah. Sebagai penyintas kanker, ia menegaskan pentingnya deteksi dini.
“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke Puskesmas terdekat. Jika kanker payudara ditemukan pada tahap awal dan diobati secara medis, Anda pasti akan sehat kembali. Saya adalah buktinya,” kata Linda.










