Operasi Bypass Jantung Kini Lebih Cepat Pulih, Pasien Sembuh dalam 1 Bulan

Operasi Bypass Jantung Kini Lebih Cepat Pulih, Pasien Sembuh dalam 1 Bulan

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 5 Februari 2026 - 07:20
share

Jantung koroner merupakan penyakit yang terjadi ketika pembuluh darah yang memasok jantung menyempit atau tersumbat dan masih menjadi satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Biasanya pasien cenderung takut untuk dilakukan bypass jantung dan memilih hanya dipasang ring jantung.

Selain rasa takut, biasanya pengidap jantung koroner khawatir soal masa pemulihan yang cenderung lama sehingga memilih untuk menunda operasi jantung. Banyak pasien khawatir tidak bisa kembali bekerja atau beraktivitas normal dalam waktu lama setelah menjalani bypass jantung.

Dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular, dr. Wirya Ayu Graha menjelaskan bahwa perbedaan metode operasi berdampak signifikan terhadap kecepatan pemulihan pasien. Pada operasi jantung konvensional, pasien biasanya baru bisa pulang setelah 7 hingga 10 hari dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali beraktivitas normal.

Baca Juga : Hati-Hati! Cuaca Dingin Suhu Bisa Picu Serangan Jantung

“Kalau konvensional, empat bulan baru bisa bawa mobil, enam bulan baru aktivitas benar-benar kembali,” jelas dr. Wirya saat konferensi pers 100 Lives, One Breakthrough Cardiac Surgery Journey RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Rabu (4/2/2026).Sementara teknologi bedah jantung dengan nama Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery (MICRO), bisa memberikan waktu pemulihan yang lebih singkat. Pasien bisa pulang pada hari keempat atau kelima setelah operasi, bahkan sudah bisa beraktivitas normal dalam waktu 2 minggu hingga 1 bulan.

“Dua minggu sudah bisa menyetir, satu bulan sudah bisa bekerja kembali,” katanya.

Baca Juga : Bukan Cuma Olahraga, Ini 4 Cara Menjaga Kesehatan Jantung yang Wajib Dilakukan

Menurutnya, percepatan pemulihan ini juga bisa mengubah kekhawatiran atau ketakutan pasien agar tak mengira bedah jantung seseram yang dibayangkan. Teknik pendekatan ini pun sudah dilakukan pada 100 pasien di Indonesia.

Selain itu dr. Wirya menyebut perubahan pendekatan bedah jantung ini juga berdampak pada meningkatnya jumlah pasien yang bersedia menjalani operasi. Jika sebulan biasanya hanya dua hingga tiga pasien, kini jumlah tersebut meningkat signifikan.“Dulu sebulan mungkin cuma dua atau tiga pasien. Sekarang jumlahnya meningkat cukup signifikan,” katanya.

Pasien yang sebelumnya takut kini lebih berani mengambil keputusan setelah mengetahui bahwa pemulihan bisa berlangsung lebih cepat. Namun para dokter bedah jantung juga menegaskan bahwa tindakan bypass tetap hanya dilakukan pada pasien yang memang sudah membutuhkan operasi.

Dengan semakin berkembangnya teknik bedah jantung, para tenaga medis berharap masyarakat tidak lagi menunda pemeriksaan dan pengobatan.

Topik Menarik