Circular Food Garden Ajarkan Ketahanan Pangan dan Lingkungan di SD Mojokerto

Circular Food Garden Ajarkan Ketahanan Pangan dan Lingkungan di SD Mojokerto

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 4 Februari 2026 - 17:30
share

Pendidikan lingkungan dan ketahanan pangan kerap dibicarakan sebagai agenda masa depan. Namun di ruang kelas, praktik pembelajaran masih sering terputus dari realitas sehari-hari anak.

Isu lingkungan diajarkan sebagai konsep, sementara anak tidak diajak memahami dari mana makanan berasal, bagaimana limbah dikelola, dan bagaimana alam bekerja sebagai satu sistem.

Berangkat dari tantangan tersebut, Green Living Support (GLS) bersama komunitas Lets Grow menginisiasi program Circular Food Garden di SD Negeri Kuripansari, Kabupaten Mojokerto.

Baca juga: Pendaftaran OSN 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal Lengkap Jenjang SD, SMP, dan SMA

Program ini mulai dijalankan pada Oktober 2025 dengan dukungan Direct Aid Program (DAP) dari Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, dan hingga kini masih terus berjalan sebagai bagian dari upaya membangun sekolah berbasis prinsip sirkular.Konsep sekolah sirkular yang diterapkan menghubungkan kebun, kandang ayam, kolam ikan, dan dapur sekolah sebagai satu ekosistem pembelajaran. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar menanam atau memelihara ternak, tetapi diajak memahami hubungan antara pangan, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

Founder GLS, Onish Akhsani, menilai bahwa pendidikan lingkungan akan kehilangan makna jika tidak dihubungkan dengan pengalaman langsung anak.

“Kami ingin anak-anak terhubung langsung dengan tanah dan sumber makanan mereka. Cinta lingkungan tumbuh dari pengalaman nyata. Sekolah bisa menjadi ruang hidup berkelanjutan, bukan sekadar ruang kelas,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Dalam perjalanannya, program ini memberikan dampak nyata sekaligus pelajaran penting. Pihak SD Negeri Kuripansari menilai Circular Food Garden telah menjadi media belajar yang efektif bagi siswa dalam memahami kepedulian lingkungan dan ketahanan pangan. Anak-anak terlibat langsung dalam kegiatan berkebun, merawat ayam, hingga memanfaatkan hasil kebun dan ternak untuk konsumsi bersama.

Namun demikian, evaluasi lapangan menunjukkan bahwa keberlanjutan program membutuhkan penguatan di berbagai aspek. Salah satunya adalah pemahaman siswa terhadap konsep circular food system secara menyeluruh. Sebagian siswa masih memaknai kegiatan sebatas menanam dan merawat ayam, tanpa memahami siklus pengolahan limbah organik hingga pemanfaatan kembali hasilnya sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan.Dari sisi teknis, pengelolaan kebun relatif sudah berjalan konsisten, sementara perawatan ayam masih memerlukan peningkatan kapasitas. Hal ini wajar mengingat siswa dan guru baru pertama kali belajar memelihara ayam petelur jenis Elba. Penguatan pengetahuan dan pendampingan lanjutan dibutuhkan agar pengalaman belajar ini tidak berhenti pada praktik dasar, sekaligus mencegah risiko kematian ternak akibat penyakit.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kebutuhan pakan ternak yang berkualitas agar produksi telur optimal. Ketergantungan pada sisa makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terbukti belum cukup mendukung produktivitas ayam. Karena itu, diperlukan dukungan anggaran untuk pakan tambahan, serta penambahan ayam yang sehat dan produktif agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas oleh seluruh siswa.

Sementara itu, pengembangan perikanan sekolah menunjukkan hasil awal yang positif. Meski masih terbatas, hasil panen ikan telah dapat dinikmati siswa. Ke depan, sekolah berharap dapat mengembangkan unit perikanan dalam skala yang lebih besar agar menjadi bagian integral dari sistem pangan sekolah.

Dari sisi pembelajaran, sekolah juga menilai pentingnya peningkatan dokumentasi kegiatan serta penguatan integrasi program dengan mata pelajaran. Dokumentasi yang baik akan membantu proses refleksi dan evaluasi, sementara integrasi kurikulum akan membuat pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna.

Vice Director GLS, Rumayya, melihat proses ini sebagai bagian dari dinamika wajar program berbasis komunitas.“Dengan dukungan yang tepat, masyarakat memiliki kapasitas besar untuk membangun solusi lingkungan dan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Konsulat Jenderal Australia di Surabaya. Konsul Jenderal Australia, Glen Askew, menyampaikan harapannya agar program seperti Circular Food Garden dapat terus berkembang dan menjadi contoh bagi sekolah lain.

“Saya berharap program ini dapat terus memberikan manfaat dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain dalam mendorong ketahanan pangan di lingkungan pendidikan,” katanya.

Topik Menarik