Airpods dan Earbuds Bluetooth Bisa Picu Kanker? Ini Penjelasan Ahli Saraf
JAKARTA - Beredar isu soal penggunaan AirPods atau earbud bluetooth bisa menyebabkan kanker otak. Hal ini sempat menjadi perbincangan di media sosial.
Namun ternyata isu tersebut tidak didukung bukti ilmiah yang kuat. Informasinya simpang siur hanya dari klaim yang viral dan keliru.
Dr. Jay Jagannathan, seorang ahli bedah saraf bersertifikat yang fokus pada kasus otak dan tulang belakang menjawab soal hubungan antara AirPods dan kanker otak. Dalam sebuah unggahan di Instagram pada 4 Januari, ia menjelaskan bagaimana sinyal Bluetooth bekerja dan apa risikonya secara nyata.
AirPods dan earbud tanpa kabel lainnya menggunakan sinyal radio frekuensi (RF) non-ionisasi. Sinyal ini berbeda dengan radiasi ionisasi seperti sinar X yang memang berpotensi merusak DNA sel.
Dr Jagannathan menekankan bahwa sinyal RF dari Bluetooth jauh lebih lemah daripada dari ponsel, diperkirakan 10 sampai 400 kali lebih rendah. Sehingga eksposurnya jauh lebih kecil dibanding penggunaan telepon genggam biasa.
Karena itu, jika memang ada efek biologis yang kuat dari radio frekuensi, ilmuwan seharusnya sudah menemukannya dari studi tentang ponsel jauh sebelum munculnya AirPods. Dr. Jagannathan, dalam hindustantime, Rabu (7/1/2026) menyatakan bahwa bukti yang ada tidak menunjukkan hubungan langsung antara eksposur RF dari perangkat ini dan kanker otak pada manusia.
Sebelumnya sempat dilakukan penelitian terhadap hewan ketika tikus diekspos dengan tingkat RF yang sangat tinggi. Namun Dr. Jagannathan menjelaskan bahwa hasil penelitian hewan belum tentu berlaku pada manusia, karena kondisi paparan dan dosis dalam eksperimen itu tidak seperti penggunaan nyata sehari-hari.
Selain itu pola yang muncul dalam uji coba tersebut juga tidak konsisten antar kelompok hewan. Artinya temuan itu tidak dapat dianggap sebagai bukti kuat bahwa RF bisa menyebabkan kanker.










