Diponegoro Menolak Permintaan Ratu Kidul

Diponegoro Menolak Permintaan Ratu Kidul

Gaya Hidup | BuddyKu | Jum'at, 22 September 2023 - 10:33
share

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM- Pembaca yang budiman, dalam kisah terdahulu dipaparkan tentang kesukaan Diponegoro dalam sejarah Jawa. Diponegoro bercerita tentang makam ibu dari Raja Majapahit terakhir Brawijaya V yang ada di Desa Bonang, Kecamatan Binangun, Kabupaten Rembang. Daerah itu Diponegoro menyebutnya Karang Kemuning. Prabu Brawijaya V adalah ayah dari Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak.

Diponegoro ketika bercakap-cakap dengan Letnan Knoerle juga menceritakan tentang Kerajaan Pejajaran dengan Kerajaan Majapahit. Walaupun Diponegoro tidak menceritakan tentang peristiwa Bubat tetapi arah pembicaraan menuju peristiwa kelam di Alun-Alun Bubat yang memakan banyak korban di pihak Pejajaran.

Para pengantar putri Pejajaran Dyah Pitaloka harus meregang nyawa karena dibantai Gajah Mada dan pasukannya. Sebagai putri yang tidak terima orang-orang Pejajaran dibantai orang-orang Majapahit, maka Putri Dyah Pitaloka dan dayang-dayangnya bunuh diri belapati .

Peritiwa kelam di Alun-alun Utara Kerajaan Majaphit inilah yang memicu sentimen sejarah antara Jawa dengan Sunda sehingga tidak mengherankan jika di Jawa barat tidak ada nama Jalan Gajah Mada maupun Jalan hayam Wuruk, begitu sebaliknya di Jawa juga tidak ada nama Jalan Siliwangi atau Jalan Pejajaran.

Untuk itulah sejak tahun 2017 raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X mencoba mereduksi sentimen sejarah itu dengan menamakan jalan di Ringroad (jalan lingkar) Yogyakarta yang semula bernama Jalan SWK (Sub Wehrkreise) menjadi Jalan Pejajaran, Jalan Siliwangi, Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Brawijaya.

Tujuan dari penamaan jalan itu adalah menyambung kembali tali yang terputus agar konflik Jawa-Sunda tidak menjadi legacy dendam yang berkepanjangan dan saling memaafkan untuk persatuan dan kersatuan bangsa (kisah tersebut bisa dibaca DI SINI ).

Hari itu masih Selasa tanggal 25 Mei 1830. Dalam percakapan antara Letnan Knoerle dengan Diponegoro dilanjutkan dengan topik yang berbeda. Kali ini Diponegoro bercerita dengan sangat semangat tentang sejarah Ratu Kidul.

Memang dalam ingatan kolektif orang-orang Jawa, sangat familier dengan Ratu Kidul. Ratu Kidul adalah penguasa dunia roh Pantai Selatan (Samudera Hindia) yang perkasa dan cantik. Ratu Kidul sangat ditakuti oleh orang-orang Jawa karena menurut kepercayaan dari dulu hingga sekarang telah menelan banyak korban jiwa di daerah pesisir selatan Jawa.

Menurut tradisi Jawa, dahulu Ratu Kidul adalah seorang putri cantik yang terkena kusta dan diasingkan ke koloni penderita kusta di Gunung Kidul. Versi lain mengatakan Ratu Kidul adalah putri Pejajaran yang bernama Dewi Retno Suwido anak perempuan Prabu Mundingsari (bertakhta sekitar 1521-1530) yang merupakan keturunan raja Sigaluh.

Putri ini kemudian diasingkan ke Pantai Selatan dari keraton ayahnya karena menolak menikah. Diponegoro sendiri meyakini bahwa Ratu Kidul adalah awalnya seorang putri Pejajaran yang dibuang dari keraton ayahandanya.

Putri itu kemudian bunuh diri dengan cara melompat ke tebing yang sangat curam di Pantai Selatan. Oleh kekuasaan Tuhan, akhirnya putri itu menjadi Ratu Pantai Selatan.

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan dia mendampingi raja pertama Mataram Islam, Panembahan Senapati. Pernikahan itu kemudian dilanjutkan generasi Senapati berikutnya hingga kepada raja di Kesunanan maupun di Kesultanan. Balasan dari Ratu Kidul kepada kedua kerajaan itu adalah sebagai penjamin keselamatan kerajaannya.

Menurut keterangan Sultan Hamengku Buwono IX di buku Takhta untuk Rakyat (2011), Ratu Kidul mempunyai kekuatan gaib untuk nampak muda jika saat bulan muda (tanggal 1 hingga 15) , tetapi akan tampak tua apabila bulan tua (tanggal 16 hingga 31) begitu seterusnya.

Diponegoro sendiri dalam Babad Diponegoro versi Manado mengungkapkan bahwa saat dia berziarah ke Parangtritis dan Mancingan pada tahun 1805 menerima penampakan Ratu Kidul tetapi saat itu tidak ada komunikasi karena Ratu Kidul tidak mau mengganggu Diponegoro yang sedang meditasi.

Dalam babad itu, Diponegoro bercerita, dia melakukan tapa brata (meditasi panjang selama 2 minggu) di Gua Langse dan menghadap ke Pantai Selatan. Lalu dia didatangi Ratu Kidul yang kehadirannya ditandai dengan semburat cahaya. Namun Diponegoro sangat khusuk dalam semedinya sehingga Ratu Kidul sadar bahwa Diponegoro tidak mempan digoda.

Untuk itulah Ratu Kidul berjanji jika pada saat waktunya telah tiba, dia datang lagi kepadanya. Benar saja, 20 tahun kemudian ketika Perang Jawa sedang sengit-sengitnya dan Diponegoro sedang berkemah di dekat Sungai Kamal, sebuah cabang Sungai Progo di daerah Kulonprogo pada 20/21 Juli 1826 Diponegoro didatangi Ratu Kidul kembali.

Dalam komunikasi dengan Diponegoro, Ratu Kidul menawarkan bantuan untuk menghabisi tentara Belanda, dengan syarat Sang Pangeran memohon kepada Allah Swt agar Ratu Kidul kembali menjadi manusia biasa dan dengan demikian dapat membebaskan dirinya dari nasib. Dalam babad itu Diponegoro menjawab Aku tidak meminta bantuanmu melawan sesamaku (manusia) karena dalam agama, pertolongan hanya dari Allah Swt.

Ketika Diponegoro selesai mengucapkan kalimat itu, Ratu Kidul kemudian menghilang.

Bagaimana kisah-kisah berikutnya saat Sang Pangeran di Kapal Pollux? Ikuti terus artikel ini yang tentunya ditemukan kisah-kisah menarik lainnya. Tunggu episode berikutnya, ya!

Penulis: Lilik SuharmajiFounder PUSAM (Pusat Studi Mataram) tinggal di Yogyakarta.

Bacaan Rujukan Carey, Peter. 2022. Percakapan Dengan Diponegoro. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Lilik Suharmaji. 2021. Suksesi Takhta Mataram Antara Perang Dan Damai 1586-1755. Yogyakarta: LKiS.

Topik Menarik