Sarat Makna yang Hangat dan Kelam, Ini Koleksi 10 Lukisan Vincent Van Gogh Paling Populer!
Terpantau langsung sold out, siapa yang masih belum kebagian Super Early Birds Tickets untuk Grand Experience Van Gogh Alive Jakarta mendatang?
Tak disangka, antusias warga dalam menyambut karya-karya Van Gogh pada tanggal 7 Juli sampai 9 Oktober 2023 di Mall Taman Anggrek, besar juga, ya! Tenang saja, penjualan tiket dengan harga normal masih akan dibuka, kok.
Nah, sambil menunggu open for sale, kamu bisa mengenal apa saja koleksi dan karya populer Vincent Van Gogh berikut ini. Yuk, simak!
The Potato Eaters, 1885

Vincent Van Gogh membuat lukisan ini dengan tujuan untuk menggambarkan keluarga petani desa dalam suasana alami mereka, yakni saat sedang makan. Ia sempat berencana untuk memamerkan lukisan ini di The Salon ( official art exhibition milik French Academy of Fine Arts Paris), namun mereka menolaknya.
Hingga kini, lukisan tersebut justru dianggap oleh dunia seni sebagai salah satu mahakarya Van Gogh yang paling dihormati.
Sunflowers, 1888
[stb_galitem img_id="https://images.soco.id/247-still-life-with-two-sunflowers.jpg.jpeg,https://images.soco.id/614-Sunflowers_Vincent_Willem_van_Gogh_128-945x1182.jpg.jpeg" />
Sunflowers merupakan nama seri lukisan dari Still Life with Two Sunflowers yang dilukis oleh Van Gogh. Seri pertamanya, Sunflowers, ia lukis di Paris pada tahun 1887. Sementara seri kedua, ia lukis pada tahun 1888 saat tinggal di Arles, Provence.
Van Gogh sendiri melukis seri kedua dari Sunflowers untuk menyambut temannya yang sesama seniman, Paul Gauguin, dan memajangnya di kamar tidur tamu. Sangat khas, dalam lukisan-lukisan ini Van Gogh menggunakan warna-warna cerah yang indah dan cat tebal untuk menambah dimensi dan tekstur.
Cafe Terrace at Night, 1888

Cafe Terrace at Night jadi salah satu lukisan pertama yang dibuat Van Gogh saat datang ke Arles. Kini, namanya sendiri berganti menjadi Cafe Van Gogh . Fun fact, ia menunggu di luar ruangan saat malam hari untuk bisa melukis pemandangan ini. Menariknya, ia tidak melukis pemandangan seperti yang ia amati, melainkan menggunakan warna dan sapuan kuas untuk mengekspresikan emosinya.
Saking kuatnya karakter lukisan Van Gogh, para sejarawan bisa langsung tahu bahwa lukisan ini adalah karyanya, meski ia tak pernah menandatangani lukisan Cafe Terrace at Night ini .
The Bedroom, 1888

Hadir dalam tiga versi, lukisan The Bedroom untuk menggambarkan kamar tidur sederhana Van Gogh di Yellow House di Arles. Tiga versi yang berbeda dapat dibedakan satu sama lain dengan gambar di dinding sebelah kanan.
Uniknya, Van Gogh dengan sengaja tidak menerapkan "aturan perspektif" pada pemandangan ini. Ia ingin memberikan tampilan rata pada lukisan agar menyerupai cetakan Jepang.
Starry Night, 1889

Siapa yang tidak tahu dengan mahakarya lukisan Starry Night satu ini? Saking populernya, lukisan ini sudah dicetak ke berbagai bentuk medium, mulai dari alas piring, kartu, kalender, poster, teka-teki jigsaw , dan lainnya.
Ahli ITB Buka-bukaan soal Interaksi Atmosfer-Geospasial di Balik Banjir Bandang dan Longsor Sumatera
Sedikit perkenalan, lukisan ikonis ini dibuat ketika Van Gogh sedang berada di rumah sakit jiwa di Saint-Rmy-de-Provence. Saat itu ia melihat pemandangan dari jendela kamar tidurnya.
Meski kondisinya buruk, kebebasan Van Gogh justru lebih baik daripada kebanyakan pasien lainnya. Ia membuat lukisan ini setelah mengalami gangguan mental yang parah dan merasa tertekan, bahkan ingin bunuh diri. Pusaran di langit mencerminkan pergolakan emosinya. Ia juga menggunakan warna yang lebih gelap untuk mengekspresikan suasana hatinya yang sedang gelap.
--------------------------------------- SPLIT PAGE ---------------------------------------
Irises, 1889

Ketika Van Gogh tinggal di rumah sakit jiwa tersebut, ia diizinkan untuk menghabiskan waktu di taman. Di sana ia banyak melukis taman rumah sakit, termasuk lukisan Irises ini. Ia pun mengirimkan lukisan ini ke saudaranya, Theo, untuk dikirim ke pameran tahunan Socit des Artistes Indpendants pada September 1889.
Wheatfields With Crows, 1890

Pada masa-masa terakhir di hidupnya, Van Gogh melukis ladang gandum Auvers-sur-Oise. Tak hanya satu, ada beberapa versi berbeda dari ladang gandum tersebut, namun versi inilah yang menjadi paling dramatis.
Yup, Wheatfields With Crows memunculkan berbagai interpretasi. Apakah burung gagak merupakan simbol kematian atau justru kebebasan? Dari segi teknik, lukisan ini seolah dilukis dengan sapuan kuas yang intens dan tergesa-gesa. Apakah Van Gogh sengaja menunjukkan bahwa waktunya hampir habis?
Selain itu, ia juga menggambarkan langit yang bergejolak seperti sedang mengekspresikan kecemasan dan keputusasaan. Begitu pula dengan siluet jalan yang tidak jelas arahnya, seakan melambangkan perasaan Van Gogh yang sedang tersesat di dunia ini. 17 hari setelah menyelesaikan Wheatfields With Crows , Vincent Gogh pun menembak dirinya sendiri di dada, di ladang gandum yang sama.
Portrait of Dr. Gachet, 1890

Sedikit mundur ke belakang ketika Van Gogh sempat meninggalkan rumah sakit jiwa pindah ke Auvers-sur-Oise. Theo akhirnya mengarahkan Van Gogh agar tinggal di rumah seorang dokter dan ahli homeopati, Dr. Paul Gachet.
Van Gogh pun membuat tiga potret Dr. Gachet, sebuah sketsa (Mei 1890) dan dua lukisan (Juni 1890). Satu salinan ia berikan kepada Dr. Gachet sebagai hadiah. Salah satu potret paling terkenalnya adalah sebuah lukisan yang menampilkan gambar dokter sedang duduk di meja dan menyandarkan kepalanya di tangan kanan.
Wajah Dr. Gachet menggambarkan seorang pria yang patah hati. Pada saat itu, Van Gogh sempat mengira Dr. Gatchet sama gilanya dengannya. Hal itu dituangkan dalam sebuah surat kepada Theo yang bertuliskan, "Ia tampaknya menderita sama seriusnya dengan saya".
Almond Blossom, 1890

Van Gogh melukis Almond Blosson ketika mendengar kabar bahwa saudaranya, Theo dan sang istri, memiliki seorang buah hati. Theo bahkan memberi nama anaknya sama dengan Vincent Van Gogh.
Dalam surat yang ditulis, Theo menyampaikan bahwa ia menamai anaknya sama dengan Van Gogh, agar sang putra bisa memiliki tekad dan keberanian seperti pamannya.
Mendengar hal itu, Van Gogh melukis Almond Blossons untuk Theo. Lukisan tersebut mewakili semua hal yang baik, seperti keindahan, pembaharuan, optimisme, dan harapan.
At Eternitys Gate, 1890

Van Gogh membuat lukisan ini saat ia sedang dalam proses pemulihan dari gangguan mental selama berada di rumah sakit jiwa di Saint-Rmy de Provence. Berdasarkan pada litograf sebelumnya yang ia buat, lukisan ini menggambarkan seorang pensiunan atau veteran perang yang sedang bersedih.
Meski begitu, beberapa orang memiliki perspektif tersendiri pada lukisan ini. Mereka menganggap lukisan ini merupakan cerminan dari keadaan emosi sang seniman.
Menariknya, lukisan ini diberi nama At Eternitys Gate untuk menunjukkan bahwa selama periode depresi dan kekacauan batinnya yang sulit, Van Gogh masih berpegang teguh pada keyakinannya akan Tuhan dan keabadian.
***
So, siapa nih yang udah enggak sabar menantikan Grand Experience Van Gogh Alive di Jakarta?










