Mochtar Pabottingi Meninggal Dunia, Putra Asal Bulukumba yang Terkenal Sebagai Penulis, Peneliti hingga Pengamat Politik

Mochtar Pabottingi Meninggal Dunia, Putra Asal Bulukumba yang Terkenal Sebagai Penulis, Peneliti hingga Pengamat Politik

Gaya Hidup | BuddyKu | Minggu, 4 Juni 2023 - 13:36
share

FAJAR.CO.ID ,JAKARTA Kabar duka datang. Mochtar Pabotinggi meninggal dunia hari ini, Minggu, 4 Juni 2023.

Hal itu dikonfirmasi penulis Hasymi Ibrahim. Ia menyampaikan ungakapan dika melalui unggahan Facebooknya.

Selamat Jalan Pak Mochtar Pabotinghi, guru yang terus menjaga kejernihan, integritas, kehormatan, hingga akhir hayat. Semoga memperoleh tempat yang layak di sisiNya, ungkapnya dikutip fajar.co.id .

Informasi yang dihimpun, pria kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan ini meninggal tepat pada pukul 00:30 setelah mengalami serangan jantung dan koma.

Ia memang sejak April 2023 menjalani perawatan di Rumah Sakit EMC, Pulo Mas, Jakarta Timur. Sang istri, Nahdia Julihar, mengatakan Mochtar terkena serangan jantung pada Sabtu pagi, 22 April 2023, atau bertepatan dengan Idul Fitri 1444 H.

Nahdia menyatakan bahwa Mochtar langsung mengalami koma saat itu. Pria berusia 77 tahun itu pun harus menjalani operasi pembuatan lubang pada dinding anterior trakea untuk mengatasi sumbatan jalan napas atau traceostomy.

Mochtar merupakan penulis sastra kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatam, 17 Juli 1945. Namun, dia juga dikenal senbagai peneliti utama bidang perkembangan politik nasional di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Mochtar Pabottingi menempuh pendidikan di jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada 1973. Dia melanjutkan studi di Universitas Massachusets Amerika Serikat dan lulus M.A pada 1984. Tidak berhenti di ditu, Michtar Pabottingi meneruskan pendidikan ke Universitas Hawaii Amerika Serikat dan mendapat gelar Ph.D pada 1989.

Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjadi redaktur di Harian Mercu Suar dan Harian Kami, Ketua Seni Budaya Muslim Indonesia di Ujungpandang, penggiat Teater Gadjah Mada, redaktur Majalah Titian, hingga menjadi peneliti di LIPI Jakarta.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah Burung-burung Cakrawala. Di buku ini ia menceritakan kampung halamannya di Desa Barebba, Bulukumba.

Di sini tergambar jelas bagaimana kampung halamannya yang indah dan asri, juga rumah panggung tempatnya lahir menjadi saksi proses pembelajaran yang tak pernah usai ia lakukan.

(Arya/Fajar)

Topik Menarik