Pertempuran Kerajaan Mataram dan Wilayah Kekuasaannya Akibat Wanita Cantik

Pertempuran Kerajaan Mataram dan Wilayah Kekuasaannya Akibat Wanita Cantik

Gaya Hidup | BuddyKu | Jum'at, 23 Desember 2022 - 06:54
share

JAKARTA - Kerajaan Mataram Islam dikisahkan melakukan penyerbuan ke Pati, wilayah yang berada dikuasainya. Penyerbuan ini tak lepas dari pembangkangan Pati ke Mataram. Pati kala itu dipimpin oleh Adipati Pragola yang bernama asli Wasis Jayakusuma, adalah saudara ipar dari Panembahan Senapati yang bertahta di Kerajaan Mataram Islam.

Ketika menjadi sebagai adipati penguasa Pati, Pragola mengabdi dengan pada Mataram. Konon keduanya memiliki hubungan yang sangat erat, tetapi hubungan itu menjadi retak sesudah Panembahan Senapati jatuh hati dan menikahi Retna Dumilah, putri Rangga Jumena dari Madiun.

Dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Kekuasaan Raja - Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta dan Wanita", dari Sri Wintala Achmad, hal ini membuat Retna Dumilah akhirnya diposisikan sebagai permaisuri usai bersedia menikahi Panembahan Senapati.

Hal itu membuat Adipati Pragola memastikan Wastikajawi bisa tergusur kedudukannya, karena merasa kecewa. Akibat kekecewaan itu Adipati Pragola kemudian mencanangkan pemberontakan.

Melalui seorang utusan bernama Patradita, Pragola menyampaikan permohonan pada Panembahan Senapati untuk meminta wilayah - wilayah di sebelah utara Gunung Kendeng. Permohonan Adipati Pragola pun dikabulkan oleh Panembahan Senapati. Hal ini membuat sejumlah wilayah di utara Gunung Kendeng, seperti Warung Blora, Grobogan, dan Jipang, menjadi kekuasaan Pati.

Belum puas dengan permohonan pertama, Adipati Pragola pun kembali mengutus Patradita untuk meminta tombak dan batangnya pada Panembahan Senapati. Alasannya karena wilayah bang wetan menyerbu Pati, tapi Panembahan Senapati menyadari itu merupakan penentangan secara halus dari Pragola. Ia pun akhirnya memberikan tombak tanpa batangnya kepada Patradita.

Selepas Patradita, Adipati Demak yang bernama Mas Sori menghadap ke Panembahan Senapati. Ia melaporkan sejumlah wilayah seperti Warung, Blora, Grobogan, dan Jipang, telah tunduk pada Pati. Di sisi lain, Adipati Pragola I yang kian mendapat angin telah menyatakan membangkang terhadap Mataram.

Melihat hal tersebut, Panembahan Senapati memerintahkan pasukan Mataram untuk menghadapi pasukan Pati. Sementara pasukan Pati sendiri dipimpin Adipati Pragola dan melibatkan para tamtama, seperti Mangunjaya, Arya Sindurraja, Rajamanggala, Sawunggaling, Tohpati, Binorong, dan Surengpati. Selanjutnya juga ada Pecatanda, Kanduruhan, dan Wilatikta bergerak menuju Mataram.

Mendengar Adipati Pragola beserta pasukannya datang ke Mataram, Mataram pun bersiap. Panembahan Senapati memutuskan Adipati Anom Mataram atau Raden Mas Jolang sebagai panglima perang.

Selanjutnya, pasukan Mataram di bawah komando Adipati Anom Mataram pun berangkat menghadapi pasukan Pati. Mereka membangun kemah dan kekuatan di Prambanan. Pertarungan pasukan Mataram dan Pati pun tak dapat dihindari.

Pertarungan sengit tersaji antara Adipati Anom Mataram dengan Adipati Pragola I. Namun karena kesaktiannya, Adipati Anom Mataram pun dipukul mundur dari Palagan oleh Adipati Pragola. Pasukan Adipati Anom Mataram sempat kalah dan dibuat kocar-kacir.

Namun Panembahan Senapati telah menyiapkan skenario kedua, ia yang turun langsung ke medan perang bersama Adipati Mondaraka akhirnya berhasil membuat pasukan Pati kalang kabut, dan banyak yang terluka serta tewas.

Sekalipun telah menang, Panembahan Senapati terus memburu Adipati Pragola dan pasukannya. Di Sungai Sampang, konon banyak prajurit Pati menjadi tumbal dan mayatnya mengapung di permukaan air.

Sementara, Adipati Pragola seperti hilang ditelan bumi. Sesudah berhasil menghancurkan pasukan musuh, Panembahan Senapati pulang ke Mataram dengan kemenangan.

Topik Menarik