Tragedi G30S Masih Abu-Abu
JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Diskusi sejarah di bawah naungan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) mengangkat tema mengenai peristiwa seputar G30S serta mengungkapkan beberapa fakta yang belum banyak diketahui. Forum ini digelar secara daring dan dihadiri oleh para pemerhati maupun pengajar sejarah.
Pembicara pertama dibawakan oleh Asnan selaku perwakilan dari Museum Sandi Yogyakarta memaparkan mengenai persandian dalam G30S. Beliau menjelaskan bahwa terdapat kode-kode samar yang digunakan dalam peristiwa G30S.
Persandian ini digunakan oleh para kurir rahasia untuk menyampaikan pesan tanpa melakukan interpretasi atas informasi yang dikirim. Adanya persandian ini menjaga informasi tetap utuh, tidak ditambah, dikurangi, diubah maupun dihapus.
Asnan menambahkan, salah satu contoh pemakaian sandi pada peristiwa G30S adalah ketika para pasukan Djawatan Sandi yang bergerak sejak 30 September 1965 memiliki persandian dengan mengenakan tiga pita yang digunakan pada waktu tertentu. Pita merah untuk malam hari, pita kuning untuk siang hari dan pita hijau untuk sore hari.
Sukitman sebagai saksi mata peristiwa tersebut memberi keterangan bahwa pada 2 Oktober 1965 pukul 15.00 WIB, pasukan datang dengan memakai pita berwarna putih. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pasukan tersebut bukan dari Djawatan Sandi, melainkan para pasukan Tjakrabirawa yang sedang melakukan pencarian terhadap pasukan dan kendaraan yang digunakan pada peristiwa G30S.
Hal lain yang diungkap Asnan adalah mengenai pohon pisang sebagai penanda pada sumur tua di Lubang Buaya. Faktanya, hal tersebut dibantah dan berbeda dengan yang disajikan di film G30S.
Pembicara kedua dibawakan oleh Risang Tunggul Manik selaku pengajar dan pemerhati sejarah yang memaparkan mengenai hubungan Soekarno-Soeharto, menjelang, saat dan pasca-G30S. Nyatanya, posisi Soeharto hanya sebagai cadangan, bukan tokoh yang penting dan jarang berinteraksi dengan presiden.
Risang memaparkan fakta bahwa Soekarno lebih memilih Ahmad Yani untuk menjabat sebagai KSAD menggantikan Nasution, dibandingkan Soeharto. Hal tersebut dikarenakan posisinya yang sempat jatuh karena tersangkut peristiwa Barter Semarang yang dianggap sebagai salah satu kejahatan penyelundupan.
Beliau juga menyebutkan bahwa Soeharto tidak terlalu dikenal dengan pendapat politiknya. Salah satu aksinya dalam melakukan publikasi terhadap pengangkatan mayat tujuh perwira tinggi angkatan darat sebagai korban G30S merupakan pendramatisiran dan secara tidak langsung mengangkat nama Soeharto dan dikenal sebagai tokoh yang menumpas G30S di mata rakyat.
Literasi kesejarahan pasca-orde baru semakin berkembang pesat. Banyaknya interpretasi terhadap berbagai fakta sejarah membuat masyarakat sulit menemukan kebenarannya. Maka, diperlukan diskusi sejarah semacam ini untuk bertukar opini dan ilmu.
Penulis: Gladys CD
Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Malang










