Loading...
Loading…
Mengulik Buku Phang Yao Po, Benarkah Leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Cina?

Mengulik Buku Phang Yao Po, Benarkah Leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Cina?

Powered by BuddyKu
Gaya Hidup | Apahabar | Rabu, 27 Juli 2022 - 23:37

apahabar.com, BANJARMASIN Topik mengenai asal-usul dan zuriah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kelampayan semakin menarik diperbincangkan.

Terutama setelah seorang warga keturunan Cina di Banjarmasin, Sarwadharma, menyerahkan buku yang memuat tulisan tentang silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Buku itu diserahkan kepada Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Islam (Pusjibang-PI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari, Rabu (27/7).

Dalam buku bersampul cokelat itu, dijelaskan bahwa leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari berasal dari negeri Cina.

Buku tersebut diketahui ditulis adik dari kakek Sarwadharma bernama Phang Yao Po yang meninggal pertengahan 1953.

Kakek saya bernama Phang Yao Cong. Beliau memiliki adik Phang Yao Po yang kemudian menulis buku tersebut, jelas Sarwadharma.

Saya memandatkan buku tersebut kepada Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari hanya untuk diteliti. Saya tak memiliki maksud lain, imbuhnya.

Setelah Phang Yao Po meninggal dunia, buku tersebut disimpan oleh sang atau bibi Sarwadharma yang menetap di kawasan RK Ilir Banjarmasin.

Kemudian medio 1973, kebakaran hebat terjadi di kawasan RK Ilir Banjarmasin. Bangunan rumah dan semua harta benda milik bibi Sarwadharma pun menjadi arang.

Hanya kotak yang berisi buku itu tidak terbakar. Sebaliknya lemari berisi uang yang berada di samping kotak buku, malah habis terbakar, cerita Sarwadharma.

Singkat cerita buku itu diwariskan kepada Sarwadharma yang merupakan keturunan paling tua. Mengingat historis dan kisah yang terkandung, Sarwadharma menganggap buku tersebut sangat berharga, sehingga harus disimpan di brankas bank.

Awalnya saya tak berniat mengekspos buku tersebut. Namun belakangan saya berpikir mungkin bermanfaat. Bisa saja ini merupakan catatan sejarah yang bisa dipelajari, terutama untuk membina kerukunan, tutur Sarwadharma.

Dalam buku berejaan lawas itu, dikisahkan bahwa leluhur Sarwadharma diundang ke Kerajaan Banjar untuk membuat ukiran istana.

Belakangan leluhur Sarwadharma menikah dengan warga lokal dan memiliki dua anak. Salah seorang dari anak itu kemudian melahirkan lagi dua anak.

Salah seorang dari anak itu kemudian melahirkan Phang Ban Po dan Phang Ban Tian atau Panglima Minting, jelas Sarwadharma.

Phang Ban Po merupakan leluhur Sarwadharma. Sementara Panglima Minting menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Abdullah yang merupakan ayah dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Adapun catatan sejarah umum, leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari berasal dari Arab atau Yaman. Silsilah ini merujuk Kitab Syajaratul Irsyadiah karangan Syekh Abdurrahmad Siddiq Al-Banjari yang diterbitkan 1953.

Kedua pendapat diperkirakan seumur. Namun naskah dalam buku dari Sarwadharma memang pendapat yang unik dan berbeda, sahut Fathullah Munadi, salah seorang peneliti Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari.

Pendapat Syekh Muhammad Arsyad memiliki keturunan dari Cina diyakini akan semakin kiat, apabila Phang Yao Po merujuk literasi lain yang lebih tua.

Ini yang belum diketahui. Di sisi lain, Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari mengutip pendapat dari Syekh Abdullah Khatib, beber Fathullah.

Terlepas dari pendapat yang berbeda, buku dari Sarwadharma membuat bahan kajian Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari bertambah lengkap.

Langkah selanjutnya adalah meneliti fisik atai filologi, baru kemudian mempelajari teks atau tekstologi, jelas Fathullah.

Sementara Ketua DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalsel, Winardi Sethiono, berharap pengkajian buku tersebut sedikit memperjelas silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Mudah-mudahan hasil kajian yang dilakukan bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak, tandas Winardi.

Sarwadharma menyerahkan buku yang memuat tulisan tentang silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari kepada Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari. Foto: apahabar.com/Riyad Dafhi

Original Source

Topik Menarik

{
{
{