Loading...
Loading…
Dukung LGBTQI+? Eitss, Unilever Punya Alasannya, lho!

Dukung LGBTQI+? Eitss, Unilever Punya Alasannya, lho!

Gaya Hidup | herstory | Jumat, 17 Juli 2020 - 18:53

Kamu sudah tahu kalau Unilever Global secara terang-terangan mendukung aktivisme LGBTQI+ dalam rangka perayaan Pride Month, bulan spesial bagi komunitas LGBTQI+? Unggahan Unilever Global membuat orang yang gak setuju dengan hal ini menolak keras.

Unilever adalah perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG), yang mana merupakan perusahaan yang memproduksi kebutuhan hidup individu sehari-hari.

Tapi, benar enggak, sih, Unilever benar-benar peduli terhadap kelompok LGBTQI+?

Unilever punya berbagai tema aktivisme dalam branding merek dagangnya, bukan cuma isu LGBTQI+ sebenarnya. Sejak 2006, perusahaan multinasional itu sudah menggagas strategi merek yang terintegrasi dengan isu-isu sosial. Anggarannya pun nggak main-main.

Dilansir dari beberapa sumber, salah satu merek dagang teh Unilever, yaitu Lipton, kemudian memakai skema sebuah badan sertifikasi di isu lingkungan dan kesejahteraan sosial bernama Rainforest Alliance (RA). Lipton menjadi salah satu produk unggulan Unilever dalam pengarusutamaan sustainable sourcing karena Lipton merupakan merek yang memiliki profil paling tinggi dan nilai kapitalisasi saham hampir tiga kali lipat dari para pesaingnya.

Nah, sertifikasi ini bertujuan untuk mengontrol keadilan dalam rantai nilai produksi, sehingga berdampak bagi kesejahteraan hidup petani. Kenyataannya, nggak semudah itu menciptakan keadilan. Tapi bermodalkan logo kodok Rainforest Alliance, Unilever tetap handal membuat iklan-iklan bernuansa aktivisme dalam branding produknya. Mereka bahkan juga mewacanakan aktivisme feminis mengenai standar kecantikan lewat iklan produk merek Dove, lho!

Aktivisme yang dilakukan oleh perusahaan memang telah menjadi tren sejak satu dekade terakhir dan semakin gencar ketika MDGs diupgrade menjadi SDGs dengan tambahan poin prinsip bisnis yang beretika sosial. Sebagian kalangan menilainya sebagai capaian positif, sebagian lagi menilainya justru semakin menghilangkan peran perusahaan besar yang berkontribusi dalam masalah ketimpangan dan kemiskinan global. Makanya, prasangka tentang Unilever benar-benar berpihak pada aktivisme LGBTQI+, bisa saja gak sepenuhnya benar.

Jadi, sudah paham belum, nih, bagaimana pola perusahaan besar mensiasati marketingnya yang salah satunya dengan isu sosial? Yuk, lebih banyak mencari tahu!

Original Source

Topik Menarik