Loading...
Loading…
HB X Minta Warga Jogja Tak Terprovokasi

HB X Minta Warga Jogja Tak Terprovokasi

Powered by BuddyKu
Gaya Hidup | RadarJogja | Rabu, 27 Juli 2022 - 07:39

RADAR JOGJA Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X angkat bicara soal bentrok suporter Persis Solo dengan warga di beberapa titik wilayah DIJ, Senin lalu (26/7). Masyarakat Jogja pun diminta tidak terprovokasi atas insiden ini dan menunjukkan perabadan yang baik.

HB X mengatakan, sejauh ini hubungan masyarakat Jogja dan Solo tidak ada permasalahan apa pun. Tindakan yang dilakukan suporter dari Solo itu dipertanyakan, mengapa harus memakai kekerasan di beberapa titik wilayah Jogjakarta.

Memangnya ada persoalan apa antara Jogja dengan Solo? Kita nggak ada persoalan apa pun. Saya selalu ingatkan, jangan melakukan kekerasan sifatnya fisik, kata Gubernur HB X saat ditanya wartawan di Kompleks Kepatihan, Jogja, kemarin (26/7).

Bapak lima puteri yang juga raja Keraton Jogja ini meminta masyarakat Jogjakarta tak terprovokasi dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Baik di dunia nyata maupun dunia maya atau sosial media. Kita perlu membangun peradaban yang santun. Bisa menghargai orang lain, kenapa selalu kekerasan yang terjadi, ujarnya.

HB X sangat menyayangkan peristiwa kekerasan yang kembali terjadi di wilayahnya itu. Sebab, belum lama ini kerusuhan atau perkelahian juga terjadi antarkelompok di Babarsari, Sleman. Dan, kekerasan fisik yang selalu terjadi.
Kita baru diingatkan perkelahian kemarin (di Babarsari, Red). Sekarang terjadi perkelahian yang lain juga. Kenapa yang selalu terjadi kekerasan fisik, alasannya apa?, tandasnya mempertanyakan.

Meski tidak mengetahui persis persoalan yang terjadi, HB X meminta pengendalian diri perlu dilakukan, baik suporter sepak bola maupun masyarakat Jogja dengan tidak turut melontarkan kalimat saling bernada ejekan dan provokasi di media sosial. Dengan begitu, kekerasan bisa dihindarkan.
Kita tidak perlu menuangkan kalimat-kalimat yang tidak pantas di media sosial, karena hanya akan menimbulkan emosi dan tidak ada hal bermanfaat. Kenapa nggak memilih kalimat-kalimat yang membangun rasa persaudaraan, kan gitu, jelasnya.

Dengan peristiwa itu tidak menguntungkan semua pihak. Ia meminta masyarakat secara umum, sebagai warga Jogja, harus memiliki karakter yang ramah dan selalu menjaga etika maupun sopan santun dalam menyikapi hal. Mengapa harus bangun rasa kebencian di media sosial. Kan hanya menimbulkan kekerasan secara fisik, tambahnya.

Sementara itu, Penjabat Wali Kota Jogja Sumadi mengimbau masyarakat khusus suporter sepak bola di Jogja agar tidak terprovokasi dengan peristiwa itu. Jadi teman-teman kami yang ada di Brajamusti khususnya, untuk tidak menanggapi itu. Karena kalau nanti kita menanggapi, ada hal-hal yang mungkin tidak baik, kita jadi orang yang tidak berbudaya, katanya.

Sumadi menjelaskan tidak perlu antarsupoter itu dipertemukan. Biarlah masalah tersebut sudah ditangani pihak kepolisian. Saya kira nggak usahlah sampai begitu, teman-teman dari kepolisian sudah menangani itu. Kok dari Solo mau ke Magelang masuk Kota Jogja, itu kan ada hal-hal yang mungkin diprovokasi, tandas Sumadi.

Polisi Diminta Lindungi Kendaraan AD dan AB

Jogja Police Watch (JPW) menyesalkan terjadinya kericuhan suporter sepak bola Persis Solo dengan warga Jogjakarta. Sebab, insiden bentrokan fisik ini menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat.

Aktivis JPW Baharuddin Kamba mengungkapkan, bentrokan itu terjadi di tengah-tengah padatnya aktivitas masyarakat. Ternasuk menjemput anak sekolah dibayangi rasa waswas. Sebab, ketika kejadian, situasinya masih dalam jam belajar anak sekolah.

Sungguh peristiwa yang tak patut untuk ditiru, karena merugikan banyak pihak, ungkap Kamba kemarin (26/7). Dikatakan, ricuh suporter bola kerap terjadi. Dia meminta polisi agar tidak lengah.

JPW pun mempertanyakan kinerja Polda DIJ. Mestinya tidak lengah dengan pengamanan dan pengawalan terhadap para suporter dari Solo. Kenapa suporter Persis Solo dengan jumlah besar itu bisa masuk ke titik-titik wilayah Kota Jogja, termasuk kawasan Tugu Jogja, yang merupakan simbol masyarakat Jogjakarta, katanya.

Menurut Kamba, hal ini harus dievaluasi secara total dan tuntas oleh pihak kepolisian agar insiden serupa tidak kembali yang terjadi. Kepada masyarakat Jogjakarta JPW meminta agar dapat menahan diri untuk tidak melakukan tindakan melanggar hukum. Menghindari hal yang dapat merugikan masyarakat.

Dia juga meminta Polda DIJ memberikan jaminan keamanan dan perlindungan bagi masyakarat yang memiliki kendaraan dengan pelat nomor AD yang ada di Jogjakarta. Begitu pun dengan Polda Jawa Tengah agar memberikan keamanan dan perlindungan bagi masyarakat yang memiliki kendaraan berpelat AB yang ada di Solo khususnya. Sebab gesekan ini dinilai meresahkan.

Mari bersama-sama menjaga kondusivitas daerah masing-masing. Jangan mudah terprovokasi. Kepolisian sebagai alat negara harus tegas, tanpa pandang bulu terhadap masyarakat termasuk suporter bola yang melakukan pelanggaran hukum, tandasnya. (wia/mel/laz)

Original Source

Topik Menarik