Sejatinya Kedudukan Makam Tembayat selevel dengan Makam Raja-Raja Imogiri
YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketika penulis menelisik sejarah Makam Tembayat di Klaten Jawa Tengah, penulis menemukan sesuatu yang agak aneh terhadap keberadaan Makam Bayat atau Makam Tembayat yang kurang terawat dan kurang teratur.
Padahal, Kiai Tembayat (Sunan Bayat) sebenarnya menurunkan seorang putri yang nantinya menikah dengan Amangkurat I dan menurunkan raja-raja Surakarta dan raja-raja Yogyakarta. Mengapa demikian? Mari kita kupas masalah ini sehingga pembaca akan lebih memahami asal-usul Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.
Menurut Historiografi Jawa ( Babad Tanah Jawi ), yang kemudian dijadikan rujukan sejarawan de Graaf dalam berbagai tulisan di bukunya, Amangkurat I mempunyai 5 orang putra dan beberapa orang putri. Di antara putra itu adalah Raden Mas Rahmat yang diangkat menjadi Adipati Anom atau Putra Mahkota. Dia lahir dari Putri Pembayun atau Putri Surabaya. Kelak Raden Mas Rahmat setelah naik takhta, bergelar Amangkurat II.
Selain mempunyai putra Adipati Anom, Amangkurat I juga mempunyai anak yang bernama Pangeran Puger yang kelak menjadi Sunan Paku Buwono I. Dia lahir dari Putri Kajoran (Putri Tembayat). Bila digambarkan silsilahnya sebagai berikut:
Silsilah Keturunan Putri Surabaya dan Putri Kajoran
Apabila melihat silsilah di atas, keturunan Putri Surabaya yang menikah dengan Amangkurat I, keturunannya menjadi Raja Mataram hanya sampai pada Amangkurat III dan setelah itu pupus tidak ada yang melanjutkan.
Sedangkan keturunan Putri Kajoran atau Putri Tembayat yang menikah dengan Amangkurat I melahirkan Pangeran Puger yang kemudian setelah naik takhta menggantikan Amangkurat III, bergelar Sunan Paku Buwono I. Setelah Sunan Paku Buwono I meninggal, takhta Mataram diberikan kepada Putra Mahkota yang kelak bergelar Amangkurat IV.
Amangkurat IV mempunyai banyak putra di antaranya Pangeran Suyasa (Adipati Anom) yang kelak setelah naik takhta bergelar Sunan Paku Buwono II. Selain Putra Mahkota, putra Amangkurat IV yang lain adalah Pangeran Mangkubumi, kelak setelah naik takhta dan mendirikan Kesultanan Yogyakarta bergelar Sultan Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I. Dari Sultan Mangkubumi inilah nantinya melahirkan raja-raja Kesultanan Yogyakarta.
Dari membaca silsilah ini nampak bahwa, kedua kerajaan yakni Surakarta dan Yogyakarta leluhurnya adalah Putri Kajoran atau Putri Tembayat. Untuk itu sudah sepantasnyalah kedua kerajaan itu ikut bertanggung jawab terhadap kelangsungan, dan pembangunan serta kemakmuran makam leluhurnya yakni Makam Tembayat.
Jadi, sebenarnya Makam Tembayat kedudukaannya selevel dengan Makam Raja-Raja Imogiri. Hanya saja apabila Makam Tembayat tempat bersemayamnya Kiai Tembayat atau Sunan Bayat, sedangkan Makam Imogiri tempat bersemayamnya raja-raja Mataram Islam dan penerusnya (raja-raja Surakarta dan raja-raja Yogyakarta). Keduanya merupakan leluhur Kerajaan Surakarta dan leluhur Kerajaan Yogyakarta.
Untuk itulah yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan, kemakmuran dan kelestarian Makam Tembayat tidak hanya jajaran pemerintah Kabupaten Klaten dan pemerintah Kabupaten Semarang, karena Kiai Tembayat dahulu bernama Pandan Arang seorang pembesar (bupati) Semarang, tetapi juga penguasa Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta.
Bagaimana dengan Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman? Leluhur kedua kadipaten itu juga Putri Tembayat atau Putri Kajoran, keturunan Sunan Bayat. Kakek pendiri Mangkunegaran, Raden Mas Said (Samber Nyawa) adalah Amangkurat IV. Ayah Mas Said yang bernama Arya Mangkunegara adalah putra dari Amangkurat IV. Demikian juga kakek dari pendiri Kadipaten Pakualaman, Pangeran Nataskusuma juga sama yakni Amangkurat IV. Ayah dari Pangeran Natakusuma adalah Sultan Mangkubumi, putra dari Amangkurat IV.
Walaupun memang dalam sejarahnya, orang-orang Tembayat (Kajoran) selalu tidak setia dan suka memberontak dengan Mataram, tetapi manusia harus berdamai dengan masa lalu. Orang yang berbudi pekerti luhur adalah orang yang selalu sadar dan menghormati leluhurnya. Orang Jawa bilang mendhem jero, mikul dhuwur.
Penulis: Lilik Suharmaji
Founder PUSAM (Pusat Studi Mataram) tinggal di Yogyakarta










