20 Contoh Puisi Pendek tentang Ibu, Ungkapan Cinta dengan Karya
JAKARTA, celebrities.id - Contoh puisi pendek tentang ibu bisa menjadi referensi karya sastra puitis sekaligus media pengungkapan cinta yang tulus terhadap seluruh ibu yang telah berjuang melahirkan dan membesarkan anaknya yang selalu disayangi.
Puisi pendek tentang ibu juga dapat menjadi ucapan selamat hari ibu yang manis dan tentunya menarik. Hal pertama yang perlu dilakukan dalam menulis puisi yakni daftar ide yang bisa menarik inspirasi dari sekitar. Seperti kenangan terbaik yang dimiliki kamu bersama sang ibu.
Sebagai putra-putri yang berusaha selalu berbakti kepada ibu, sudah seyogyanya kita berusaha membalas jasa-jasa beliau semampu dan semaksimal mungkin. Puisi juga adalah sebuah karya sastra unik dalam bahasa yang bentuk bahasanya dipilih dan disusun secara cermat, sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman hidup.
Dilansir dari berbagai sumber, celebrities.id, Jumat (10/6/2022) telah merangkum contoh puisi pendek tentang ibu, sebagai berikut.
Contoh Puisi Pendek tentang Ibu
Melansir Jurnal Ilmiah Sirok Bastra, Vol. 5 No. 2, (Desember 2017), beberapa contoh puisi, diantaranya:
1. Ibuku Dehulu
(Amir Hamzah)
Ibuku dehulu marah padaku
diam ia tiada berkata
akupun lalu merajuk pilu
tiada peduli apa terjadi
matanya terus mengawas daku
walaupun bibirnya tiada bergerak
mukanya masam menahan sedan
hatinya pedih kerana lakuku
Terus aku berkesal hati
menurutkan setan, mengkacau-balau
jurang celaka terpandang di muka
kusongsong juga - biar cedera
Bangkit ibu dipegangnya aku
dirangkumnya segera dikecupnya serta
dahiku berapi pancaran neraka
sejuk sentosa turun ke kalbu
Demikian engkau;
ibu, bapa, kekasih pula
berpadu satu dalam dirimu
mengawas daku dalam dunia.
2. Puisi Ibu
(Chairil Anwar)
Pernah aku di tegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai
Ibu . . . . .
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah
Ibu . . . . .
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan
Namun . . . . . Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu.
Ibu . . . . .
Aku sayang padamu.
Tuhanku.
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah dia
Selamanya..
3. Ibu
(Wiji Thukul)
Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
Tetapi menangis ketika aku susah
Ibu tak bisa memejamkan mata
Bila adikku tak bisa tidur karena lapar
Ibu akan marah besar
Bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
Ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
Ketabahan ibuku
Mengubah rasa sayur murah
menjadi sedap
Ibu menangis ketika aku mendapat susah
Ibu menangis ketika aku bahagia
Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
Ibu menangis ketika adikku keluar penjara
Ibu adalah hati yang rela menerima
Selalu disakiti oleh anak-anaknya
Penuh maaf dan ampun
Kasih sayang Ibu adalah kilau sinar kegaiban
Tuhan
Membangkitkan haru insan
dengan kebijakan
Ibu mengenalkan aku kepada Tuhan
4. Bunda Airmata
(Emha Ainun Najib)
Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan- hiburan
Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun untuk
membuat Tuhan
naik pitam kepada hidupmu
Kalau Ibundamu menangis, para malaikat
menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dr airmata
ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah
kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah
kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu
5. Ibu
(K.H. Mustofa Bisri)
Ibu, Kaulah gua teduh
Tempatku bertapa bersamamu sekian lama
Kaulah kawah,
Darimana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi, yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku siang dan
malam
Mata air yang tak brenti mengalir
Membasahi dahagaku
Telaga tempatku bermain
Berenang dan menyelam
Kaulah, ibu, laut dan langit
Yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
Yang mengawal perjalananku
Mencari jejak surga di telapak kakimu
(Tuhan, aku bersaksi
Ibuku telah melaksanakan amanatMu
Menyampaikan kasih sayangMu
Maka kasihilah ibuku
Seperti Engkau mengasihi kekasih-kekasihmu
Amin)
6. Sajak Ibunda
(W.S. Rendra)
Mengenangkan ibu adalah mengenangkan buah-buahan.
Istri adalah makanan utama.
Pacar adalah lauk-pauk.
Dan Ibu adalah pelengkap sempurna
kenduri besar kehidupan.
Wajahnya adalah langit senja kala.
Keagungan hari yang telah merampungkan tugasnya.
Suaranya menjadi gema dari bisikan hati nuraniku.
Mengingat ibu, aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu, aku percaya akan kebaikan manusia.
Melihat foto ibu, aku mewarisi naluri kejadian alam semesta.
Berbicara dengan kamu, saudara-saudaraku,
aku pun ingat kamu juga punya ibu.
Aku jabat tanganmu,
aku peluk kamu di dalam persahabatan.
Kita tidak ingin saling menyakitkan hati,
agar kita tidak saling menghina ibu kita masing-masing
yang selalu, bagai bumi, air dan langit,
membela kita dengan kewajaran.
Maling juga punya ibu. Pembunuh punya ibu.
Demikian pula koruptor, tiran, fasis,
wartawan amplop, anggota parlemen yang dibeli,
mereka pun punya ibu.
Macam manakah ibu mereka?
Apakah ibu mereka bukan merpati di langit jiwa?
Apakah ibu mereka bukan pintu kepada alam?
Apakah sang anak akan berkata kepada ibunya:
Ibu aku telah menjadi antek modal asing;
yang memproduksi barang-barang yang tidak mengatasi kemelaratan rakyat,
lalu aku membeli gunung negara dengan harga murah,
sementara orang desa yang tanpa tanah jumlahnya melimpah.
Kini aku kaya.
Dan lalu, ibu, untukmu aku beli juga gunung
bakal kuburanmu nanti.
Tidak. Ini bukan kalimat anak kepada ibunya.
Tetapi lalu bagaimana sang anak akan menerangkan kepada ibunya
tentang kedudukannya sebagai tiran, koruptor, hama hutan, dan tikus sawah?
Apakah sang tiran akan menyebut dirinya sebagai pemimpin revolusi?
Koruptor dan antek modal asing akan menamakan dirinya sebagai pahlawan pembangunan?
Dan hama hutan serta tikus sawah akan menganggap dirinya sebagai petani teladan?
Tetapi lalu bagaimana sinar pandang mata ibunya?
Mungkinkah seorang ibu akan berkata:
Nak, jangan lupa bawa jaketmu.
Jagalah dadamu terhadap hawa malam.
Seorang wartawan memerlukan kekuatan badan.
O, ya, kalau nanti dapat amplop,
tolong belikan aku udang goreng.
Ibu, kini aku makin mengerti nilaimu.
Kamu adalah tugu kehidupanku,
yang tidak dibikin-bikin dan hambar seperti Monas dan Taman Mini.
Kamu adalah Indonesia Raya.
Kamu adalah hujan yang dilihat di desa.
Kamu adalah hutan di sekitar telaga.
Kamu adalah teratai kedamaian samadhi.
Kamu adalah kidung rakyat jelata.
Kamu adalah kiblat nurani di dalam kelakuanku.
7. Puisi Ibu
(Kahlil Gibran)
Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan.
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan.
Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan.
Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti.
Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang susuk Ibu.
Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannya dengan
pancaran panasnya.
Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari, meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai.
Dan bumi adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bungan menjadi ibu yang baik,
bagi buah-buahan dan biji-bijian.
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal, penuh dengan keindahan dan cinta.
8. Ibu
(Sapardi Djoko Damono)
Ibu masih tinggal di kampung itu, ia sudah tua.
Ia adalah perempuan yang menjadi korban mimpi-mimpi ayahku
Ayah sudah meninggal,
ia dikuburkan di sebuah makam tua di kampung itu juga,
beberapa langkah saja dari rumah kami.
Dulu Ibu sering pergi sendirian ke makam,
menyapu sampah, dan kadang-kadang, menebarkan beberapa kuntum bunga.
"Ayahmu bukan pemimpi," katanya yakin meskipun tidak berapi-api,
"ia tahu benar apa yang terjadi."
Kini di makam itu sudah berdiri sebuah sekolah,
Ayah digusur ke sebuah makam agak jauh di sebelah utara kota.
Kalau aku kebetulan pulang, Ibu suka mengingatkanku untuk menengok makam ayah, mengirim doa.
Ibu sudah tua, tentu lebih mudah mengirim doa dari rumah saja.
"Ayahmu dulu sangat sayang padamu, meskipun kau mungkin tak pernah mempercayai segala yang dikatakannya."
Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, sambil menengok ke luar jendela pesawat udara, sering kubayangkan Ibu berada di antara mega-mega.
Aku berpikir, Ibu sebenarnya lebih pantas tinggal di sana, di antara bidadari-bidadari kecil yang dengan ringan terbang dari mega ke mega
dan tidak mondar-mandir dari dapur ke tempat tidur,
memberi makan dan menyusui anak-anaknya.
"Sungguh, dulu ayahmu sangat sayang padamu," kata Ibu selalu,
"meskipun sering dikatakannya bahwa ia tak pernah bisa memahami igauan-igauanmu."
9. Jendela Ibu
(Joko Pinurbo)
Waktu itu saya sedang mencari taksi untuk pulang.
Entah dari arah mana munculnya, seorang sopir taksi
tahu-tahu sudah memegang tangan saya,
meminta saya segera masuk ke dalam taksinya.
Saya duduk di jok belakang membelakangi kenangan.
Harum rindu membuat saya ingin lekas tiba di rumah,
minum kopi bersama senja di depan jendela.
Ia sopir yang periang.
Saat taksi dihajar kemacetan,
ia bernyanyi-nyanyi sambil menggoyang-goyangkan kepalanya yang gundul.
Tambah parah macetnya tambah lantang nyanyinya, tambah goyang kepalanya.
Sopir taksi tentu tak tahu, saya tak punya jendela yang layak dipersembahkan kepada senja.
Jendela saya seperti hati saya: dingin, muram, ringkih,
takut melihat senja tersungkur dan terkubur di cakrawala.
Lama-lama saya mengantuk, kemudian tertidur.
Taksi memasuki jalanan mulus dan lengang,
melintasi deretan bangunan tua dengan jendela-jendela yang tertawa.
Di tepi jalan berjajar pohon cemara.
Di ranting-ranting cemara bertengger burung gereja.
Laju taksi tiba-tiba melambat.
Taksi berhenti di depan kedai kopi.
Mari ngopi dulu, Penumpang, ujar sopir taksi.
Baiklah, Sopir, saya menyahut,
aku berserah diri menuruti panggilan kopi.
Di kedai kopi telah berkumpul beberapa sopir taksi beserta penumpang masing-masing.
Mereka dilayani seorang perempuan tua yang keramahannya membuat orang ingin datang lagi ke kedainya.
Urip iki mung mampir ngopi, ucapnya seraya menghidangkan secangkir kopi di hadapan saya, lalu menepuk-nepuk pundak saya.
Wajahnya yang damai dan matanya yang hangat segera mengingatkan saya pada ibu.
Saya terbangun setelah sopir taksi menepuk-nepuk pundak saya.
Ah, taksi sudah sampai di depan rumah.
Setelah saya membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih,
Sopir tersenyum dan berkata, Selamat bertemu senja di depan jendela, Penumpang.
Saya berterima kasih kepada ibu yang diam-diam telah mengirimkan sebuah jendela kecil untuk saya.
Paket jendela saya temukan di beranda.
Saya tidak pangling dengan jendela itu.
Jendela tercinta yang kacanya bisa memancarkan beragam warna.
Ibu suka duduk di depan jendela itu malam-malam.
Cahaya langit memantul biru pada kaca jendela.
Ketika malam makin mekar dan sunyi kian semerbak,
ibu melantunkan tembang Asmaradana
dan mata ibu sesekali terpejam.
Ibu menyanyikan tembang itu berulang-ulang sampai anak-anaknya tertidur lelap.
Saya pasang jendela kiriman ibu di dinding kamar.
Cahaya hitam pekat membalut kaca jendela.
Perlahan muncullah cahaya remang diiringi suara burung dan gemercik air sungai.
Jendela saya buka, lalu saya duduk tenang ditemani secangkir kopi.
Saya dan kopi terperangah ketika cahaya berubah terang.
Tampaklah di seberang sana sungai kecil yang mengalir jernih di bawah langit senja.
Di tepi sungai ada batu besar.
Saya lihat sopir taksi saya sedang duduk bersila di atas batu besar itu,
mengidungkan tembang Asmaradana kesukaan ibu.
Kepalanya yang gundul berkilauan.
10. Kenangan tentang Ibu dan Tini
(Kurniawan Junaedhie)
Ibu pergi, untuk pulang.
Begitu tulis Tini, adikku.
Surat itu basah oleh air mata.
Aku meraung dan memekik
Mengejutkan belalang di sela batu.
Malamnya, aku menulis obituari
Untuk Ibu: Sebuah sajak pendek
Tentang kenangan
Esoknya Ibu dimakamkan.
Jasad Ibu tinggal bersama akar Akasia
dan pohon Kamboja.
"Ibu sudah tenang di rumah-Nya."
kata Tini seminggu kemudian.
"Ya. Kapan-kapan ia juga akan
mengajak kita pulang," jawabku.
Suratku itu tak pernah dibalasnya.
Tini tak sempat mengabari
tentang kepulangannya.
11. Isyarat Itukah, Ibu
(AA Manggeng)
Mendung memayungi jalan pada ketergasaanku
lingkup kenangan mengajak pulang
tapi hujan memburuku di terminal waktu
Aku terkurung di sini
mengenang masa kanak-kanak bersamamu
karena rindu disini melebihi gelisahku
jarak lalu merubah dia menjadi rama-rama
Kupikir inilah isyarat
melebihi degub berita dukacita
yang arif telah mendekapku sekian kurun waktu
merantaiku di pintu-pintu rahasia
Mendung memayungi jalan di keputusanku
ada yang tak sampai ke sukmamu
berulangkali kubaca
ketuaanmu adalah buku
di lembar-lembarnya bertuliskan keabadian kasih
Aku dan berikut yang lahir dari rahimmu
menterjemahkan kalimat demi kalimat
menyusun buku baru yang tak sampai-sampai
hingga hujan turun di pelataran terminal tua
membentuk gundukan tanah
tanah yang masih basah oleh kedukaan.
12. Jika Ibu telah Pergi
(Mahdi Idris)
Jika ibu pergi terlalu pagi membawa sejumpit ingatan mimpi
di mana kau tanam kayu merindangi tubuhnya
yang terbakar terik matahari
akankah kau diam serupa cacing
mengendap di bawah tanah yang basah?
Ingatkah, ibu telah pergi sebelum kau terbangun dari mimpi
ayah belum kembali sejak pergi dibawa ratusan sengat malam?
Kau, tinggal menanti waktu
kapan keberangkatan mimpi pada ceruk daun pisang
pembungkus sarapan pagi
di tengah kabut balut tubuh ringkih perempuan,
itu ibumu!
13. Tanah Ibuku
(Ali Hasjmy)
Di mana bumi berseri-seri
Ditumbuhi bunga kembang melati
Itulah dia Tanah Airku
Tetapi:
Di mana bumi bermandi duka
Dibasahi \'irmata murba
Di situlah tempat tumpah darahku.
Di mana kayu berbuah ranum
Serta kesuma semerbak harum
Di sanalah badanku lahir ke dunia
Tetapi:
Di mana rakyat berwajah muram
Bercucur peluh siang dan malam
Di situlah pula daku berada
Di mana burung bersiul ramai
Ditingkah desau daun melambai
Itulah tanah pusaka ibuku
Tetapi:
Di mana ratapan berhiba-hiba
Seli sedan tangisan jelita
Di situlah tempat berdiam daku.
Di mana musik berderu-deru
Serta nyanyian membuluh perindu
Di sanalah Ibuku duduk berhiba
Tetapi:
Di mana sinandung anak nelayan
Naik turun mengawan rewan
Di situlah Ibuku duduk gembira
14. Untukmu Bunda
(Mochtar Pabottingi)
Bunda, alangkah deras waktu berlalu
Membuat segala sosok bertukar rupa. Atau lumer
bagai salju
Kecuali rumah yang puluhan tahun engkau bangun
Bersama ayah. Di dalam kalbuku
tempat jiwaku tetirah saban gundah
Rumah tempatku dulu bertumpu untuk melanglang
Bagai liang belalang di pohonan. Sebelum
ia mencelat ke padang-padang
Alangkah fana semua yang di sisi
Kecuali wajah, kerudung, dan tadarusmu. Yang terus
menyelimutiku dengan wangi kesturi
Di hadapanmu, Bunda, tetaplah aku anak balita
Dengan ubun-ubun rawan yang terus berdenyut
tanpa suara
Jauh dan tembus waktu
15. Kenapa tak Pulang, Sayang?
(Leon Agusta)
Hijaunya wajah danau kita adalah rindu, sayang
Hijaunya daun-daunan rindunya perawan muda
Bisik-bisik di tepian bila hari naik senja
Kampung kita kian tahun kian lengang
Entahlah. Mana yang pergi tak ada yang pulang
Ke manakah gerangan lajang-lajang kita menghilang
Semarak kampung di rembang petang?
Mereka hilang bersama debu perang saudara
Yang tak pulang ditelan hutan
Yang pulang berterbangan
Anakku bilang: bumi luas tempatku tualang
Rinduku pun kelabu, Ibu
Tapi empedu di kerongkongan
Ibu pun takkan kenal wajahku sekarang
Tak akan ada yang tanyakan anakmu, Ibu
Kalau pun pulang takkan dipinang
Karena kertas kuning, kata-kata yang berjaga
Takkan dikerling karena bukan logam menguning
Di Hari Raya, di hari rindu beralun-alun
Jari Upik, ai, lentiknya memetik inai
Selendangnya lepas terkibas angin, Ibu?
Ah, salamkulah itu.
16. Bunda
(Ajip Rosidi)
Nyanyi menayang mimpi ke pangkuannya
damai pun terlena dalam hati
mewujudkan kasih dan cinta
yang takkan terhalang meski oleh mati
17. Surat dari Ibu
(Asrul Sani)
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
18. Ibu di Kursi Beroda
(Karno Kartadibrata)
Ibu di kursi beroda
dari jendela datangnya
ketika sore sendiri
menulis di meja kayu jati
Berjatuhan cahaya-cahaya
dari kerudung, kain dan selopnya
"Kau tetap melihat jam
sampai ukuran-ukuran yang dalam
sampai ke dentang-dentang?
Masihkah kau membaca
mengusap huruf-huruf
di saat tidur
kau tetap mendengar suara laut?"
19. Kerabat Kita
(Sutan Takdir Alisjahbana)
Bunda,
masih kudengar petuamu bergetar
waktu ku tertegun di ambang pintu,
melepaskan diriku dari pelukmu:
Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,
Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir.
Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.
Telah lama aku mengembara:
Jauh rantau kujelajah,
banyak selat dan sungai kuseberangi,
gunung dan gurun kuedari.
Baragam warna, bahasa dan budaya manusia,
teman aku bersantap, bercengkerma dan bercumbu,
lawan aku bertengkar dan berselisih.
Di runtuhan Harapa dan Pompeyi aku ziarah,
Dari menara Eifel dan Empire State Building
aku tafkur memandang semut manusia.
Di pembacaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan ummat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di
London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
saga Islandia yang megah di padang salju yang putih.
Bunda,
Pulang dari rantau yang jauh
berita girang kubawa kepadamu,
resap renungan petua keramat,
sendu engkau bisikkan di ambang pintu:
Dimana-mana aku menjejakkan kaki,
aku berjejak di bumi yang satu.
Dan langit yang kujunjung
dimana-mana langit kita yang esa
Bunda,
Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita,
kaya budi kaya hati,
pusparagam ciptaan dan dambaan.
20. Rindu Emak
(Fikar W. Eda)
Angin sepi
berayun gelisah
antara dua kutub
di padang batu
dan gerimis
lukai perut bumi
rindu emak di beranda
mengangkasa pada langit
menetes pada daun
mengendap dalam nadi
mengalir sepanjang Krueng Peusangan
Di keningnya
senja warna jingga
Laut Tawar tinggal riak
elang pulang sarang
jemarinya menggores sajak
tentang putrinya yang terbunuh pagi itu
"pahatkan sajak ini, nak
di kaki Buntul Kubu."
kemudian lelap
bersama gelisah angin










