Secara Historis, Orang Indonesia Asli itu Hanya Khayalan
MALANG, NETRALNEWS.COM - Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pernah memberlakukan bahwa seorang Presiden haruslah orang Indonesia asli. Sebenarnya, siapakah orang Indonesia asli? Apakah orang Jawa, orang Sunda, orang Minang, orang Dayak, orang Toraja, atau orang Papua?
Pertanyaan tersebut agaknya sulit dijawab, karena tiap-tiap provinsi Indonesia memiliki penduduk aslinya masing-masing. Oleh karena itu, istilah orang Indonesia asli merupakan istilah yang politis: merujuk pada seseorang yang lahir di Indonesia, berbahasa Indonesia, dan mengetahui sejarah Indonesia.
Jared Diamond seorang ilmuwan Amerika Serikat yang dikenal karena karyanya yang ikonik seperti Guns, Germs, and Steel serta Collapse pernah melakukan perjalanan ke Papua-Indonesia.
Dalam karyanya yang pertama disebutkan sebelumnya, ia melontarkan komentar tentang rekan seperjalanannya yang terdiri dari orang asli Papua, orang Tionghoa, dan orang Jawa.
Ada pesan menarik yang tersirat dari komentar tersebut, bahwa ketiga orang tersebut mewakili 3 periode berbeda kolonisasi kepulauan Indonesia.
Sudah sejawarnya bilamana salah satu di antara ketiga ras tersebut sampai pertama di Nusantara, maka secara teoritis ia berhak disebut sebagai orang Indonesia asli.
Realita historis yang terjadi adalah Melanesia mewakili gelombang pertama, Austronesia mewakili gelombang kedua, dan Mongoloid mewakili
gelombang terakhir.
Lucu rasanya jika dipikir sejenak bahwa ketiga ras ini seolah menggambarkan tiga bersaudara; Melanesia itu "sulung", Austronesia itu "tengah", dan Mongoloid itu "bungsu". Selayaknya saudara, ketiga ras tersebut lahir dari rahim yang sama.
Mother Africa
Ada banyak teori yang menjelaskan tentang kemunculan manusia di dunia ini, tak terkecuali dengan leluhur orang Indonesia. Salah satu teori
yang paling dikenali adalah Out of Africa.
Teori ini menjelaskan bahwa seluruh ras manusia berasal dari Africa. Hal ini dapat dibuktikan dari ras Homo Sapien yang muncul 300.000 tahun
yang lalu di Benua Hitam tersebut.
Di samping menjelaskan asal-usul manusia, teori ini juga menjelaskan bagaimana ras-ras manusia Africa purba ini bermigrasi ke daerah-daerah lain seperti Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Anak Benua India serta mengkolonisasinya dalam beberapa gelombang.
Perlu diketahui, pada masa ini adapula jenis manusia purba lain yaitu Neanderthal dan Homo Erectus yang tinggal di Africa serta sebagian Eurasia. Interaksi antar ketiga ras ini masih belum diketahui dengan pasti, tapi yang jelas Homo Sapien hidup lebih lama dan menjadi leluhur manusia modern.
Gaya hidup manusia purba bersifat kompetitif karena tumbuh dalam budaya berburu dan meramu. Akan keliru jika berasumsi bahwa Homo Sapien ini memerangi kedua saudaranya ini hingga punah karena penelitian terbaru mengungkapkan bahwa orang Eropa meskipun termasuk ke dalam Homo Sapien memiliki sedikit jejak genetis dari Neanderthal. Hal ini barang tentu menjelaskan perkawinan antar ras manusia.
Validasi dari teori Out of Africa ini dibuktikan dengan keberadaan suku Jarawa di India, masyarakat Aborigin di Australia, dan orang-orang Melanesia di Papua.
Ketiga kelompok masyarakat ini memiliki ciri fisik yang menyerupai rekan-rekan Africa mereka, kulit hitam, hidung besar, dan rambut keriting. Di samping ciri fisik, mereka juga memiliki kesamaan gen.
Manusia itu (Tidak) Harus Hitam
Jika seluruh manusia berasal dari Afrika, mengapa tidak semuanya hitam-hitam? Hal tersebut dapat ditelusuri dari faktor genetis perkawinan antar ras manusia yang terjadi pada zaman yang telah lampau.
Adapun jawaban dari penelitian Prof. Herawati dari Eijkman Institute, ia membenarkan teori dariwinis tentang bentang alam mendikte bentuk fisik makhluk hidup.
Orang Eropa memiliki kulit putih karena mereka tinggal di dekat lingkar Artic yang memiliki musim salju dan lebih sedikit terpapar sinar matahari. Sselain itu, hidung mereka juga besar karena pembuluh darah di dalam hidung mereka mesti menghangatkan udara yang dihirup sebelum dimasukan ke paru-paru.
Adapun mengapa ras Asia mengembangkan mata sipit? Orang-orang Eskimo dan Siberia memiliki mata yang sipit karen desain mata yang seperti itu melindungi mata mereka dari sinar matahari dan hembusan badai salju.
Selain itu, ras Afrika memiliki kulit hitam karena mereka tinggal di daerah tropis dan dekat dengan khatulistiwa Kulit hitam mereka kaya akan melanin yang mana melindungi mereka dari sinar matahari.
Si Sulung, Si Bungsu dan Si Tengah
Penelitian sang akademisi dari Eijkman Institue tersebut juga turut mengeluarkan penjelasan tentang proses kolonisasi kepulauan Indonesia.
Kelompok manusia yang pertama kali mendarat di kepulauan Indonesia adalah bangsa Melanesia, mereka sampai sekitar 60.000 tahun yang lalu. Mereka bermigrasi dari Asia dan menyebar hingga ke Australia.
Pada zaman dahulu wilayah Indonesia belum berbentuk kepulauan dan masih bersatu dengan daratan Asia, hal ini lah yang memungkinkan penyebaran Bangsa Melanesia.
Gelombang kedua terjadi ketika zaman es telah berlalu. Migrasi ini dipraaksarai oleh Bangsa Austronesia dan terjadi sekitar 30.000-6000 tahun yang lalu.
Bangsa Austronesia berasal dari pulau Formossa, yaitu Taiwan dan area sekitarnya yaitu Cina bagian selatan.
Orang-orang Austronesia terkonsentrasi di wilayah Indonesia bagian barat. Hal ini dikarenakan posisinya yang sangat strategis.
Gelombang kedua tak serta merta menyingkirkan gelombang pertama karena secara genetis kebanyakan orang Indonesia memiliki karakteristik kedua leluhur tersebut.
Gelombang terakhir terjadi ketika Indonesia memasuki masa era Hindu-Buddha. Bangsa terakhir yang data ke Kepulauan adalah bangsa Tionghoa.
Kehadiran mereka di Nusantara tidak diketahui dengan pasti namun dari catatan I Tsing dari abad ke-7 yang menjelaskan sudah adanya komunitas Tionghoa di Nusantara, kita bisa berasumsi bahwa mereka datang pada tahun itu atau sekitarnya.
Kedatangan bangsa Tionghoa terjadi pada masa jalur perdagangan kuno, entah itu Jalur Rempah atau Jalur Sutera.
Komunitas Tionghoa barangkali adalah kelompok pendatang yang dominan di Indonesia, namun perlu diketahui pula bahwa Bangsa Arab, India, dan Eropa sekalipun juga turut berpartisipasi dalam perdagangan ini.
Percampuran dari ketiga gelombang tersebut dengan demikian membawa keanekaragam bagi negeri Zamrud Khatulistiwa tersebut; tak hanya sumber daya alam saja, namun juga demografi, budaya, dan genetis.
Penulis: Muhamad Wafi Fahriawan
Mahasiswa Universitas Negeri Malang








